MOJOK.COMeningkatnya jumlah sampah itu kondisi yang setara dengan kepercayaan bahwa puasa di bulan Ramadan memang bikin boros. Keduanya hal yang lumrah, kok.

Teman satu kantor, semuanya puasa, kecuali saya. Sebagai non-muslim satu-satunya di Mojok, membuat saya “hanyut” dalam kebiasaan di kantor selama puasa di bulan Ramadan. Bukan sesuatu yang sulit dan canggung, sih. Tahun lalu pun saya sudah merasakan pengalaman yang sama.

Satu hal membedakan, dan alhamdulillah, yang biasanya nggak puasa, tahun ini mulai rajin puasa. Mungkin sudah melihat jalan terang dan pengampunan dosa di ujung jalan. Heuheheu…

Nah, seiring situasi itu, saya pun tentu menyesuaikan diri, dan yang paling saya sukai adalah buka bersama. Bukan hanya soal makan yang saya sukai, tapi ketika membayangkan hanya makan besar satu kali dalam satu hari kok kayaknya bisa jadi sarana untuk berhemat. Saya membayangkan kalau makan besar sekali paling nggak habis 25 ribu rupiah.

Namun, bayangan ideal itu sepenuhnya salah. Salah satu teman sudah mewanti-wanti kalau bayangan saya itu sangat salah. Puasa di bulan Ramadan itu justru bisa bikin tekor, boros, kalau kita nggak hati-hati ikut buka bersama. Padahal, selalu ada sisi perasaan rikuh ketika kita menolak ajak buka bersama. Dianggap anti-sosial, dan dipergunjingkan itu kadang nggak enak, bos. Padahal kan ya, biasa saja.

Puasa bikin boros dan itu lumrah

Ada dua tipe buka puasa di kantor. Pertama, buka ala kadarnya, kombinasi es cendol/es kelapa muda/teh hangat dengan gorengan. Satu orang patungan 10 ribu rupiah sudah seperti pesta perpisahan kecil-kecilan. Gorengan yang melimpah. Namun, saking seringnya makan gorengan ketika buka puasa, mulut ini jadi lebih gampang sariawan.

Tipe kedua adalah buka bersama di luar kantor. Kedai kopi yang menyediakan makan, atau warung makan kekinian jadi pilihan. Atau, bisa juga memanfaatkan acara-acara khas Ramadan seperti all you can eat. Hanya dengan 30 ribu hingga 70 ribu, bisa makan apa saja sampai kenyang mampus.

Nah, di sini, masalah terjadi. Kamu, yang rajin puasa di bulan Ramadan pasti tahu betul kalau perut yang kosong seharian nggak baik kalau langsung diajak kerja keras. Minum es cendol dan makan tiga gorengan pun sudah tiba-tiba kenyang. Kalau dipaksa, perut jadi melilit, mulas, dan begah. Apalagi kalau makan pedas atau bersantan.

Baca juga:  Mari Beraksi dengan Mercon Busi

Sebuah situasi yang bakal kamu sesali di tengah salat Tarawih. Sebagai non-muslim sih saya belum pernah salat Tarawih. Namun, membayangkan sakit perut di tengah prosesi ibadah itu nggak enak. Agama itu masing-masing, tapi sakit perut karena kekenyangan itu universal.

Masalah lanjutan dari situasi perut adalah all you can eat menjadi tidak menarik ketika kita sampai di rumah makan yang menyediakan. Siang hari, ketika melihat poster all you can eat di Instagram, hasrat untuk makan meningkat dengan cepat. Poster yang berisi daging ayam bakar dengan kecap yang mengilat, daging kambing atau sapi yang juicy, hingga es buah dengan gelas yang “berkeringat” itu terlihat menggugah.

Ketika sampai di rumah makan, yang ada kami hanya memesan es teh atau teh panas dan gorengan. Sama saja seperti buka puasa ala kadarnya di kantor. Memang, kami masih akan makan, tapi secukupnya satu piring. All you can eat menjadi seperti siksaan neraka seperti yang dijelaskan di buku-buku azab.

Dan ini yang mengejutkan. Buka puasa bersama secukupnya pun tetap habis antara 20 sampai 30 ribu. Lakukan itu selama satu minggu penuh dan kamu akan berakhir sedih. Boros juga. Namun, kamu tetap akan melakukannya sampai kantor sepi karena orang-orang mudik. Buka bersama itu bukan memburu menu, tapi pindah tempat makan, sekaligus mencari lokasi yang nyaman untuk ghibah. Akui saja…

Pada akhirnya, kamu akan memaafkan keborosan dan ghibah itu karena menyenangkan. Dan bayangngan THR di akhir bulan diharapkan bisa menyelamatkan keuanganmu ketika puasa di bulan Ramadan ini.

Volume sampah meningkat ketika puasa di bulan Ramadan itu biasa saja

Seiring keborosan dan ghibah, yang mengiringi puasa di bulan Ramadan adalah sampah. Jangan heran, di bulan Ramadan ini, jumlah sampah meningkat. Per tahun, Indonesia memproduksi 67 ton sampah dan sebagian besar dihasilkan di bulan Ramadan. Sebelumnya, Indonesia sudah menyandang status sebagai negara kedua terbanyak penghasil sampah di dunia.

Buka bersama hingga meningkatnya jumlah pedagang takjil menjadi penyumbang terbesar dari produksi sampah yang mayoritas plastik itu. Sebuah pusat daur ulang di Jawa Barat (Parongpong Waste Management) memberikan data yang cukup mengejutkan. Di Jakarta, produksi sampah meningkat 200 ton setiap harinya saat bulan Ramadan—bahkan mungkin diluar perkiraan kita semua. Masjid Istiqlal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara pun memproduksi sampah mencapai 1 ton setiap harinya di bulan suci ini.

Baca juga:  Tolak Islam Nusantara tapi Sama Puasa Bedug Oke-oke Aja

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menggunakan kata “ironis” ketika membicarakan soal sampah di bulan Ramdan. Beliau ngetweet begini: “Indonesia penghasil sampah terbesar kedua di dunia. Ironisnya, jumlah sampah yang mencapai 67 juta ton/tahun itu justru dihasilkan paling banyak di bulan Ramadhan. Ini diakibatkan meningkatnya belanja bahan makanan masyarakat selama bulan puasa. Mari kita kurangi sampah.”

Saya sih nggak setuju dengan penggunaan kata “ironis” di sini. Kenyataan sampah meningkat ketika puasa di bulan Ramadan memang benar. Namun, apakah meningkatnya sampah ini memang betul-betul “hanya” karena bulan suci ini?

O tentu nggak dong. Nyampah itu sudah seperti budaya. Bukan hanya orang Indonesia, tapi seluruh dunia. Kebetulan saja, orang di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan mayoritas negara di dunia. Sampah plastik itu harusya sudah jadi “bencana global”, tapi di Indonesia belum menjadi narasi yang betul-betul penting.

Saya kasih tahu. Berdasarkan survei YouGov, responden asal Indonesia yang tidak percaya dengan perubahan iklim karena ulah manusia adalah yang terbanyak dibanding 23 negara lain, termasuk Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Artinya apa? Artinya sudah sejak awal, nyampah dan bikin perubahan iklim itu adalah sesuatu yang lumrah di Indonesia. Kebetulan saja di bulan Ramadan, jumlah pedagang takjil dan buka bersama itu meningkat. Kalau mau pakai kata “ironis”, gunakan di setiap hari, setiap waktu, ketika kita sedang membicarakan sampah. Bukan hanya ketika puasa di bulan Ramadan.

Meningkatnya jumlah sampah itu fakta yang setara dengan puasa di bulan Ramadan bikin boros. Keduanya hal yang lumrah. Keduanya bukan sesuatu yang mencengangkan. Kalau mau “berubah” yang jangan sok bijak ndakik-ndakik ketika Ramadan saja.

Kan begitu, bung dan nona.



Tirto.ID
Loading...

No more articles