MOJOK.COTim hukum Prabowo mempertanyakan istilah kecurangan bagian dari demokrasi. Padahal itu hanya sebuah “judul” untuk menarik perhatian para peserta pelatihan.

“Dalam ilmu menulis atau jurnalistik, judul tidak benar-benar pernah bisa merepresentasikan isi,” cuit Puthut EA suatu kali.

Saya sangat setuju dengan pendapat itu. Ketika membuat judul, salah satu tujuan yang disasar adalah “menarik” pembaca ke dalam tulisan. Namun, sayangnya, masih begitu banyak orang di Indonesia ini yang sudah bahagia dan merasa serba tahu hanya dengan membaca judul. Mereka lalu menggunakan judul tulisan itu untuk melegitimasi kesalahan orang lain, terutama di persaingan politik Prabowo dan Jokowi.

Atau yang paling menyedihkan, orang-orang tersebut langsung menghakimi penulis, hanya dengan berkaca dari judul tulisannya. Banyak yang menyebutnya sebagai click bait. Ada yang bilang kalau click bait itu nggak pantas. Namun, di dunia media daring, berbagai usaha bisa dilakukan untuk menarik pembaca, salah satunya dengan judul yang menggoda. Asal, judul dan isi tulisan bukan hoaks atau ujaran kebencian saja.

Mempermasalahkan sesuatu, hanya dengan melihat sepenggal tidak pernah baik. Sayangnya, yang seperti itu menjadi materi sidang MK tentang gugatan atas kecurangan pemilu yang diajukan kubu Prabowo. Tim hukum Prabowo, yang bernama Iwan Satriawan mempertanyakan istilah “kecurangan bagian dari demokrasi” yang digunakan sebagai “pembuka” materi pelatihan saksi Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Anas Nasikin, Direktorat Saksi Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menjawab pertanyaan tim hukum Prabowo dengan lugas dan jelas. Sesuai penjelasan Anas, istilah itu dijadikan pembuka untuk menarik perhatian para saksi yang ikut dalam pelatihan Training of Trainers (TOT). Ini usaha penting yang harus jadi catatan.

Saksi di Pilpres Prabowo vs Jokowi, harus tahu betul kondisi di lapangan, salah satunya mendeteksi kecurangan. Bekal yang ia miliki, didapat dari pelatih yang digelar. Jika silap sebentar saja, bisa terjadi si saksi tidak akan punya bekal cukup untuk duduk manis di tempat coblosan. Ketika kecurangan terjadi, ia hanya akan duduk tanpa bisa mendeteksi.

Baca juga:  Pendukung Prabowo Dicurigai Cyber Troops, Berikut 5 Ciri-Cirinya

“Prinsip materi yang ingin kami sampaikan dalam TOT adalah memberikan pemahaman menyeluruh, integral, holistik, sistematis kepada calon saksi dan pelatih saksi tentang mekanisme-mekanisme aturan di pemilu. Karenanya di forum itu kami undang KPU, Bawaslu, DKPP, kami undang sebagai pembicara,” kata Anas seperti dilansir CNN.

Anas berujar materi soal “Kecurangan Bagian dari Demokrasi” dibawakannya sendiri. Hakim Manahan kemudian bertanya apakah materi itu sifatnya mengajak, memotivasi, atau sekadar menyatakan sebuah keadaan. Menjawab itu, Anas bilang materinya mesti dipahami secara utuh.

Anas menjelaskan, bahwa dirinya sengaja membahas soal itu untuk menarik perhatian peserta. Tujuannya untuk mengingatkan peserta bahwa kecurangan dalam pemilu adalah keniscayaan. “Maka itu kita perlu mengantisipasinya agar pemilu yang akan datang. Slide itu memang kami maksudkan agar memberikan perhatian, keterkejutan, kok bisa gitu. Maka kita jelaskan setelah itu, agar peserta memberi perhatian. Di situlah kita terangkan.”

“Kira-kira gitu, jadi ini kecurangan, jenisnya ini, ini, ini. Jadi dalam pemilu itu ada kecurangan, jenisnya kecurangan sebelum, kecurangan hari H, kecurangan pascapemilu, dan kalian harus antisipasi, pakai apa? Pakai aplikasi yang namanya Jamin. Runutan materi itu disampaikan agar peserta memahami bahwa dengan cara pengorganisasian saksi dibantu aplikasi Jamin maka akan tercipta pemilu yang terhindar dari kecurangan,” jelas Anas kemudian.

Anas menggunakan analogi obat batuk untuk memberi penjelasan kepada tim hukum Prabowo. “Filosofinya begini, Anda mau batuk kering mau batuk ini, batuk itu, minumnya Konidin. Dalam pemilu ada kecurangan pasca hari H, atau pada saat pemilu. Perlu diantisipasi pakai aplikasi Jamin. Maka akan tercipta pemilu yang terhindar dari kecurangan,” kata Nasikin.

Iwan, tim hukum Prabowo kemudian menanyakan, maksud pernyataan Nasikin tersebut. Lalu, Nasikin melanjutkan analogi yang ia jelaskan. “Jangan dibalik, bahaya kalau dibalik. Anda minum Konidin, maka Anda batuk,” kata Nasikin. Analogi yang disambut tawa seisi ruang sidang. Analogi yang sebetulnya saya juga nggak begitu paham itu. Anggap saja saya ikut tertawa biar cepat selesai.

Baca juga:  Fadli Zon, Gegar PKI, dan Rimba Media Sosial Menjelang Tahun Panas

Yang ingin saya bilang adalah, materi sidang itu sebetulnya nggak perlu sampai menjadi masalah. Mempermasalahkan sesuatu dengan hanya narasi sepenggal saja sudah tidak sehat. Tentunya kamu masih ingat dengan dampak memotong sebuah pernyataan yang terjadi beberapa tahun silam di DKI, kan?

Bukan hanya tim hukum Prabowo, kamu juga perlu waspada. Mengapa? Karena narasi kecurangan bagian dari demokrasi itu juga jadi bahan jualan buzzer politik Prabowo berbalut agama. Bisa kamu cek Twitter Ustaz Tengku Zulkarnain alis Papa Nain.

Ada 240 orang yang me-RT dan 154 orang komentar di unggahan Papa Nain. Ada yang melawan, ada pula yang mendukung. Berbahaya, ketika orang yang mendukung menyebarkan pemikiran Papa Nain. Artinya, ia menyebarkan sebuah informasi yang salah. Begitulah salah satu cara hoaks menyebar. Bukan hanya membuat hoaks dari imajinasi saja. Hoaks bisa terbentuk dari memenggal konteks utuh.

Ketidaktahuan yang dipertanyakan oleh tim hukum Prabowo perlu kamu perhatikan betul. Seseuatu, sekecil apapun, yang terlihat “tidak pas” dengan logika akan digunakan untuk menyerang lawan. Semakin menyedihkan ketika strategi politi itu ikut menulari orang lain yang sebetulnya netral. Mereka terpengaruh karena porsi siaran sidang MK yang masif dan pengaruh Papa Nain di Twitter.

Mulai sekarang, perhatikan betul: judul, tak selalu merepresentasikan isi tulisan. Baca perlahan sampai tuntas, supaya kamu tidak jadi manusia bebal yang hanya puas lalu jemawa hanya dengan membaca judul.