MOJOK.CONamaste, Liverpool bermain sesuai identitas mereka. Kerja keras dan betapa harmonisnya para pemain. Godaan manja untuk keperkasaan Manchester City.

Ketika kali pertama datang ke Liga Inggris, Jurgen Klopp harus menghadapi banyak masalah. Gaya bermain yang ingin beliau terapkan tidak berjalan dengan baik. Banyak sebabnya. Mulai dari para pemain yang belum terbiasa bermain dengan pressing intensitas tinggi, stamina yang belum memadai, hingga komposisi pemain yang jauh dari memuaskan.

Luis Suarez, pemain yang pergi sebelum Klopp datang, dalam wawancaranya dengan Sid Lowe yang dimuat The Guardian mengungkapkan bahwa dulu, tidak banyak pemain yang mau bergabung bersama Liverpool begitu saja. Berbeda dengan sekarang, ketika skuat sudah jauuuh lebih baik dan para pemain sudah oke saja bermain dengan intensitas tinggi.

Saat ini, Liverpool menjadi magnet. Gaya bermain yang seksi, lezat dipandang, dan mudah dicintai itu menarik minat pemain-pemain muda dengan corak modern. The Reds tidak begitu susah untuk menarik minat Virgil van Dijk dan Alisson Becker, dua pemain penting yang memantik kebangkitan mereka. Dua pemain itu diminati hampir semua klub kaya di Eropa. Namun, keduanya memilih Liverpool.

Maka jadilah, gegenpressing ala Jurgen Klopp semakin sempurna. Tidak lagi soal “kejar bola lagi sampai dapat”, tetapi para pemain bisa melakukannya dengan sistem yang mendukung, dengan shape tim yang memadai. Oleh sebab itu pula, stamina para pemain tidak cepat tekor. Manajemen cedera The Reds juga semakin baik.

Kalian sudah kenal dengan benar soal konsep gegenpressing? Cuma soal pressing intensitas tinggi saja? Kalau itu sih kurang tepat. Begini kira-kira penjelasan gegenpressing:

Gegenpressing merupakan sebuah frasa dari bahasa Jerman yang apabila diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi counterpressing. Frasa ini memiliki peran tersendiri dalam fase permainan sepak bola.

Sebagaimana kita tahu, dalam permainan sepak bola, ada tiga fase utama, yaitu menyerang, bertahan, dan transisi. Fase transisi ini dapat berupa transisi dari bertahan ke menyerang atau transisi dari menyerang ke bertahan.

Jose Mourinho pernah menyatakan bahwa fase transisi merupakan fase yang paling krusial dalam permainan. Mengapa demikian? Karena pada fase ini, umumnya struktur pemosisian suatu tim sedang tidak terorganisir. Maka, tim yang dapat memanfaatkan situasi ini dengan lebih baik akan memiliki keuntungan atas lawannya. Ini disebut siklus transisi.

Berdasarkan siklus ideal itu, ketika suatu tim kehilangan bola, maka mereka harus melalui fase transisi bertahan sebelum berada pada situasi bertahan terorganisir. Kemudian, setelah berhasil merebut bola, mereka akan kembali melalui fase transisi sebelum mencapai situasi penguasaan bola yang terorganisir.

Bagaimana jika kita dapat memotong rantai siklus di atas? Di mana ketika kita kehilangan bola tidak perlu berada dalam fase bertahan, dan sesegera mungkin kembali berada dalam fase menyerang. Di sinilah peranan gegenpressing.

Aplikasi sederhananya, ketika suatu tim kehilangan bola maka pada saat itu juga mereka harus segera merebut bola kembali. Ada beberapa alasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan hal ini.

Pertama, kamu tidak ingin para pemain harus menempuh jarak yang jauh ketika berada pada fase transisi. Jarak tempuh yang jauh pada fase transisi ini dapat menguras energi. Apalagi untuk berada dalam fase bertahan terorganisir, kamu dituntut untuk melakukannya dengan cepat.

Kedua, untuk mencegah serangan balik lawan, terutama mereka yang memiliki kecepatan, baik secara individu maupun secara tim. Counterpressing akan menghambat laju serangan balik lawan. Oleh karena itu, terdapat beberapa anggapan bahwa gegenpressing adalah to press the opponent’s counterattack.

Nah, jelas ya. Ketika Liverpool bisa menerapkan dasar gegenpressing, mereka menjadi sebuah tim yang “menyebalkan”. Mereka tidak mudah kehilangan bola, tetap lebih mudah merebutnya di wilayah lawan. Ini jenis lawan yang menyusahkan bagi tim-tim yang punya inisiatif menguasai bola selama mungkin. Ya seperti Manchester City-nya Pep Guardiola.

Saking menyebalkannya, ketika bertemu di Liga Champions tahun lalu, Manchester City dibuat kerepotan untuk akhirnya gagal lolos. Sebuah kekalahan yang semakin menegaskan bahwa di Liga Champions, Pep Guardiola hanya berjodoh dengan Barcelona, dengan Lionel Messi di dalamnya. Guardiola tak pernah lagi sukses di Liga Champions setelah minggat dari Barcelona.

Perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh Liverpool adalah sebuah buah dari kerja keras membangun identitas baru. Penting untuk dicatat bahwa identitas adalah kekayaan sebenarnya dari seorang manusia. Mereka yang tak punya identitas, hanya akan bisa berteriak di luar pagar, hanya bisa mengagumi kesuksesan orang lain, ikut tertawa bahagia, lalu terdiam sedih, dan mempertanyakan eksistensi dirinya.

Identitas Liverpool adalah kerja keras dan skuat yang harmonis. Klopp bisa “mendiamkan” Simon Mignolet yang sempat nakal dan memaksa dijual. Klopp melepas Nathaniel Clyne untuk memberi ruang berkembang seluas-luasnya untuk Trent Alexander-Arnold. Bersama Andrew Robertson, dua bek sayap itu sudah mengumpulkan 23 asis! Catatan mengagumkan dari dua anak muda yang musim ini berkembang sangat luar biasa.

Lalu Alisson Becker, yang sudah mencatatkan 20 laga tidak kebobolan. Kiper asal Brasil itu berhasil menyamai catatan Pepe Reina dan Peter Schmeichel. Jika bisa menjaga gawangnya tetap bersih di satu laga lagi, Alisson akan menyamai catatan Edwin van der Sar (21 tidak kebobolan). Tanpa ketenangan Alisson dan koordinasi van Dijk, Liverpool tak akan seseksi ini.

Kemenangan absolute atas Huddersfield dengan skor 5-0 menunjukkan betapa sintalnya tubuh Liverpool. The Reds tidak sedang mengejar, mereka menggoda Manchester City.

Terlena, rasa puas diri karena “memimpin”, sombong, yang akan menenggelamkan City di penghujung musim. Dan, godaan mental dari Liverpool yang akan berpengaruh paling besar. Klopp, dengan gairah dan ambisinya, apakah akan menjadi batu sandungan Guardiola sekali lagi? Kok saya yakin begitu ya…



Tirto.ID
Loading...

No more articles