MOJOK.CODua playmaker Kroasia, Luka Modric dan Ivan Rakitic bertanggung jawab kepada kreativitas dan kedisiplinan tim. Faktor kunci di final Piala Dunia 2018?

Ada yang bilang bahwa menyatukan dua playmaker ke dalam satu tim itu pekerjaan yang sulit diselesaikan. Perbedaan cara bermain, perbedaan cara pandang akan jalannya pertandingan menjadi sedikit kesulitan dari banyak masalah lainnya. Coba tanyakan bagaimana Inggris kesulitan memasukkan Frank Lampard dan Steven Gerrard ke dalam satu kerangka tim.

Boleh dikata, semua pelatih Inggris semasa Lampard dan Gerrard masih bermain untuk timnas sulit menyatukan mereka. Bahkan hasilnya, Inggris tak bisa memanen kemampuan terbaik gelandang terbaik mereka, Paul Scholes. Mantan gelandang Manchester United tersebut dikorbankan demi memainkan Lampard dan Gerrard di lapangan tengah. Scholes harus iklas bermain lewat sisi lapangan.

Karier Scholes bersama timnas Inggris tidak panjang, pun tak ada prestasi yang tercatat. Kesulitan menyatukan dua playmaker, menelan korban kualitas seorang pemain, dan potensi tim itu sendiri. Sebuah kesulitan yang nampaknya bisa dilewati oleh pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, yang bisa menyatukan Luka Modric dan Ivan Rakitic.

Usaha Dalic menyatukan Modric dan Rakitic membutuhkan proses yang panjang dan beberapa kali uji coba. Sebelum Piala Dunia 2018, tepatnya di sebuah laga uji tanding melawan Meksiko, Dalic menempatkan Modric sebagai pemain di belakang penyerang. Sementara itu, Rakitic ditemani Milan Badelj di lini tengah. Kroasia menunjukkan skema 4-4-2 ketika bertahan.

Baca juga:  Prediksi Rusia vs Arab Saudi: Malam Takbiran di Langit Rusia

Ketika menggunakan skema ini, Krosia bermain dengan bentuk yang kompak, jarak antar-lini saling terjaga dengan baik, namun kurang agresif ketika menerapkan pressing kepada pemain lawan. Perubahan dilakukan Dalic ketika Kroasia menghadapai Argentina di babak penyisihan grup Piala Dunia 2018. Skema dasar yang digunakan adalah 4-3-3 dengan Modric dan Rakitic bermain di tengah, ditemani Marcelo Brozovic. Skema yang kemungkinan akan kembali tampak di final Piala Dunia 2018.

Dengan skema dasar 4-3-3, Modric dan Rakitic bermain hampir dalam satu garis sejajar dengan Brozovic menjaga kedalaman. Justru ketika keduanya bermain bersama dengan peran yang hampir sama, perpindahan bola dari sisi ke sisi berjalan lebih mulus. keberadaan Modric dan Rakitic sebagai double #8 juga membuat sisi lapangan Kroasia menjadi superior.

Maksudnya begini. Di sisi kanan misalnya, Modric bermain berdekatan dengan Ante Rebic dan Sime Vrsaljko. Di sisi kiri, Rakitic berdekatan dengan Ivan Perisic dan Ivan Strinic. Dengan begitu, ada tiga pemain yang mengisi sisi lapangan ketika lawan hendak melakukan progresi dari sisi lapangan tersebut. Kroasia selalu menang jumlah pemain di sisi lapangan.

Jika diperhatikan, gol pertama Kroasia ke gawang Inggris berawal dari situasi menang jumlah di sisi lapangan. Ketika Kroasia menguasai bola di sisi kiri (sisi Rakitic-Perisic-Strinic), Rebic di sisi kanan berlari masuk ke kotak penalti dan menyeret Ashely Young, bek kiri Inggris. Sementara itu, Dele Alli dibuat terlalu fokus oleh pemosisian diri Modric yang berlari dari kedalaman.

Baca juga:  Inggris vs Belgia: Derbi Liga Primer Inggris dan Parodi Untuk Kalah

Ketika terbuka ruang yang lebar di sisi kiri Inggris, Rakitic segera memindahkan bola ke sisi tersebut, ke kaki Sime Vrsaljko yang melakukan overlap. Tidak terkawal, Vrsaljko melepas umpan silang cantik yang diselesaikan oleh Perisic. Perpindahan bola, dari sisi ke sisi, dipicu oleh pergerakan dan visi Rakitic dan Modric.

Double #8 dan ditemani gelandang bertahan ini memang cocok untuk meladeni tim yang bermain dengan tiga gelandang. Kebetulan, di final Piala Dunia 2018, Kroasia akan menghadapi Prancis yang, biasanya, bermain dengan tiga gelandang.

Kroasia, kemungkinan masih akan menggunakan skema dan cara bermain yang sama. Selain cocok untuk meladeni tiga gelandang Prancis, penguasaan sisi lapangan yang dikomandoi oleh Rakitic dan Modric cocok untuk meredam sisi lapangan Prancis yang berbahaya. Situasi menang jumlah, bisa menjadi cara paling mudah untuk meredam kombinasi Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, dan Benjamin Pavard di sisi lapangan. Akan sulit menghadapi Mbappe dengan situasi 1v1. Oleh sebab itu, menghadapinya secara kolektif adalah jawaban yang bijak.

Kreativitas dan kedisiplinan Kroasia terletak kepada dua playmaker mereka, Rakitic dan Modric. Dua playmaker yang bisa saja menentukan hasil akhir final Piala Dunia 2018 nanti.