MOJOK.COSalah satu sebab kegagalan Unai Emery bersama Arsenal adalah tidak mampu menguasai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan para pemain.

Arsene Wenger pernah diragukan bisa membawa Arsenal menuju kejayaan. Tahun 1996, ketika kali pertama tiba di pusat latihan Arsenal, Liga Inggris masih diselimuti oleh sebuah “adagium kuno”, yaitu hanya Britania yang bisa menjadi juara. Arsene Wenger dianggap tidak memahami kultur setempat. Dia orang asing, tak akan punya kesempatan di tanah para singa.

Namun Arsene Wenger punya daya hidup yang tidak disangka oleh para rivalnya di Liga Inggris. Wenger datang dengan pemahaman kultur setempat. Salah satunya adalah penguasaan bahasa Inggris. Pelatih asal Perancis itu menguasai lima bahasa dan bahasa Inggris salah satunya. Setidaknya, dia punya satu bekal untuk menjewer Tony Adams supaya berhenti minum alkohol.

Menguasai bahasa sangat krusial bagi pelatih. Bayangkan, ada 11 pemain di atas lapangan dengan latar belakang yang berbeda. Masing-masing punya bahasa ibu yang masih dipakai ketika bersosialisasi. Apalagi, di masa Wenger menjabat sebagai pelatih Arsenal adalah “klub internasional”. Ada pemain dari Perancis, Spanyol, Belanda, dan mereka yang lahir di benua Afrika.

Komunikasi adalah bagian penting dari sistem kepelatihan dan bahasa menjadi fondasinya. Sepak bola dianggap sebagai “bahasa universal”, tetapi bukan lantas setiap pemain bisa langsung berkomunikasi hanya dengan saling umpan bola. Memangnya mereka hidup dalam semesta kartun Kapten Tsubasa?

Pada tahun 2003. Sam Pilger, seorang jurnalis, mewawancarai Robert Pires di sebuah restoran Perancis di London Utara. Pada tahun itu, Pires masih berseragam Arsenal. Salah satu topik yang diobrolkan adalah penguasaan bahasa.

Pires mengaku kepada Sam Pilger bahwa dia tak terlalu menguasai bahasa Inggris. Namun, pemain asal Perancis tersebut menegaskan bahwa “kegagalanya” menguasai bahasa setempat tidak menjadi halangan untuk bisa saling memahami di atas lapangan.

Penegasan tersebut memang beralasan jika kita melihat rekam jejak Pires bersama Arsenal. Namun, jika kita melihat ke skuat Arsenal saat itu, pemain-pemain berkewarganegaraan Perancis cukup banyak. Mulai dari Thierry Henry, hingga Sylvain Wiltord. Bahkan, semua pasti tahu, Arsene Wenger berasal dari negeri penghasil anggur Bordeaux pinot noir yang termasyhur itu. Pires berada di tengah lingkungan yang membuatnya nyaman.

Baca juga:  Arsene Wenger vs Sir Alex Ferguson: Warisan yang Kikis, Guru Semua Persaingan

Lingkungan Arsenal yang nyaman akan memudahkan pemain (dan pelatih) untuk beradaptasi dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Bagi pemain dengan talenta besar, halangan bernama bahasa sedikit bisa diatasi, kata Sam Pilger.

Namun, lain cerita dengan pelatih. Mauricio Pochettino sadar dengan kesulitan yang dia hadapi kala kali pertama datang ke Inggris dan melatih Southampton. Bagaimana cara Pochettino mengatasi permasaahan bahasa?

Selain menggunakan penerjemah, pelatih asal Argentina tersebut juga menggunaan gestur untuk menjelaskan taktik dan idenya. Memang, gestur juga bagian dari bahasa itu sendiri. Namun, memerlukan usaha ekstra untuk benar-benar dapat dipahami pemain.

“Saya merasa mampu berkomunikasi dengan baik dengan para pemain. Dan kebanyakan komunikasi terjadi lewat gestur, ketimbang komunikasi verbal. Menggunakan gestur, para pemain sepak bola lebih mudah paham ketika diberikan penjelasan soal penempatan diri ketimbang menggunakan kata-kata. Namun, seiring waktu, sangat penting bagi saya untuk mampu berkomunikasi secara verbal dengan para pemain” ungkap Pochettino.

Kegagalan menguasai bahasa seperti Emery di Arsenal menimpa Gary Neville, yang dipecat Valencia pada tahun 2016. Salah satu masalah yang dihadapi Neville adalah penguasaan bahasa Spanyol.

Mantan pemain Manchester United tersebut punya usaha yang unik untuk mengatasi masalah tersebut. Ia menggunakan teknologi untuk membantunya berkomunikasi dengan para pemain. Neville membagikan iPad untuk setiap pemain. Apakah Neville menggunakan fasilitas Google Translate untuk menjelaskan idenya?

Miguel Angel Angulo, asisten Neville kala itu menjelaskan bahwa tujuannya saat itu adalah supaya setiap pemain, dari beragam latar belakang, lebih cepat memahami taktik dan variasinya. Sebuah usaha untuk mengatasi batasan bernama bahasa.

Sayang, usaha tersebut gagal. Selain para pemain Valencia yang tak bermain dalam performa terbaik, penerjemahan taktik Neville pun tak berjalan mulus. Mengapa Neville tak sukses seperti Pochettino?

Baca juga:  Arsenal dan Emery Berutang Banyak Kepada Aubameyang

Apakah bahasa Spanyol lebih sulit dikuasai ketimbang bahasa Inggris? Apakah itu juga yang membuat Unai Emery gagal? Emery sudah melatih Arsenal selama 18 bulan. Bukan waktu yang pendek untuk bekerja sembari belajar bahasa Inggris, bukan?

Jangan salah, Emery berusaha sangat keras untuk menguasai bahasa Inggris. Dia bahkan tidak mau menggunakan penerjemah di konferensi press pertama ketika melatih Arsenal. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Emery menjelaskan suasana hati dan harapannya bersama Arsenal. Saat itu, banyak orang yang angkat topi karena dianggap punya usaha lebih untuk segera bisa menguasai bahasa Inggris.

Namun, apa yang terjadi? Beberapa bulan setelah musim 2019/2020 berjalan, terbit sebuah berita yang mengabarkan kalau pemain-pemain muda Arsenal harus berkonsultasi kepada Freddie Ljungberg karena tidak paham dengan penjelasan Emery.

Masalah penguasaan bahasa setempat sudah dialami Emery sejak dia menangani Paris Saint-Germain. Kenapa masalah ini berulang? Apakah memang bahasa Inggris sulit dikuasai? Atau ini hanya soal lingkar otak?

Pep Guardiola menghabiskan satu tahun untuk belajar bahasa Jerman. Bahkan dia disebut belajar seperti orang gila. Komunikasi verbal adalah kunci. Meskipun sepak bola dianggap bahasa universal, gestur saja tidak cukup.

Maksud baru bisa tersampaikan oleh komunikator kepada komunikan ketika ada pesan di sana. Maksudnya, hal yang dikomunikasikan baru bisa menjadi pesan ketika bisa dipahami. Baru pesan bisa memberi efek kepada komunikan.

Meledek cara berbicara Emery ketika menggunakan bahasa Inggris bukan sikap yang baik. Namun, Emery juga seperti memberi kesempatan kepada orang lain untuk meledeknya ketika gagal menguasai bahasa Inggris dasar untuk berkomunikasi. Satu aspek penting dari kegagalan Emery bersama Arsenal. Pelajaran penting bagi kamu semua.

BACA JUGA Delusi Emery dan Keberuntungan yang Masih Menaungi Arsenal atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles