fbpx

MOJOK.COPertandingan Chelsea vs Arsenal membangkitkan lagi ingatan akan busuknya wasit Liga Inggris. Sekumpulan pengadil yang tidak adil. Sekumpulan perampok poin.

“Same bark, different dog.”

Adalah kalimat yang lempar lewat Twitter. Kalimat tersebut merujuk ke betapa munafiknya suporter klub Liga Inggris yang menertawakan kemalangan klub lain. Ketika sebuah klub “dicurangi” oleh wasit Liga Inggris, suporter lain tertawa senang. Ketika klubnya menderita karena masalah yang sama, gonggongan mereka terdengar seperti anjing kudisan.

Sama saja. Masalah wasit Liga Inggris mungkin kurang tepat kalau dibilang “curang”. Masalahnya adalah soal kompetensi membaca pertandingan dan konsistensi menentukan sebuah nilai pelanggaran. Well, memang, pada titik tertentu, tidak salah juga kalau menyebut wasit Liga Inggris memang tidak objektif. Dan saya belum bicara soal Arsenal dan Chelsea!

Sama saja. Semua akan kena pada saatnya. Klub-klub Liga Inggris boleh saling menertawakan kemalangan. Namun, soal wasit, imajinasi saya adalah munculnya sebuah gerakan untuk menabrak wasit-wasit Liga Inggris yang tidak kompeten. Terutama cara mereka ketika menggunakan teknologi yang namanya VAR.

Kamu tahu, Marca menyebut offside di Liga Inggris bukan lagi tentang perbedaan sentimeter atau millimeter, tetapi pixel. Apakah ini berarti mata wasit Liga Inggris setajam mata elang? Tidak, ini sebuah sarkas dari Marca, yang berbasis di Spanyol, untuk Liga Inggris yang semakin mirip komedi.

Kasus yang ada sudah terbentang luas. Mulai dari offside sekuku Pedro Neto ketika melawan Liverpool, offside se-pixel yang dialami Dan Burn, pemain Brighton ketika melawan Bournemouth, dan kasus-kasus pelanggaran yang dialami Arsenal.

Baca juga:  Liverpool Kalah, Kesombongan yang Dibutuhkan, dan Sulitnya Mereplikasi Real Madrid

ESPN, dibantu Dr. Thomas Curran dari London School of Economic, membuat kompilasi yang diberi nama “indeks keberuntungan”. Indeks ini mencoba merekonstruksi klasemen Liga Inggris jika tidak menghitung “keberuntungan” di dalamnya.

Nah, jika peristiwa-peristiwa merugikan tidak dihitung, saat ini, Arsenal duduk di peringkat 5. Ketidakberuntungan karena “events” merampok 9 poin bersih dari catatan Arsenal. Jika wasit Liga Inggris memang kompeten, poin Arsenal sama seperti Chelsea, hanya kalah selisih gol saja.

Begini ESPN menulis:

Satu:

“Para pengadil malah tertidur ketika Tom Cleverly, pemain Watford menggangu goal kick pendek Arsenal. Gangguan itu membuat bek Arsenal salah umpan. “Indeks keberuntungan” menegaskan bahwa hasil imbang melawan Watford harusnya menjadi kemenangan bagi Arsenal.”

Dua:

“Apa jadinya jika Arsenal mendapatkan penalti ketika Aubameyang dilanggar di kotak penalti Sheffield ketika skor masih 0-0? Arsenal kalah di pertandingan itu dengan skor 1-0. Kemenangan Arsenal juga dirampok di kandang Crystal Palace oleh keputusan VAR yang sangat buruk, ketika gol menit akhir Sokratis malah dianulir.”

Tiga:

“Jika saja Jorginho, pemain Chelsea, dikeluarkan dari lapangan setelah mendapat dua kartu kuning, ketika Arsenal sedang unggul, maka Arsenal akan memenangkan laga di laga debut Arteta.”

Trivia: Jorginho menarik tangan Guendouzi ketika serangan balik akan terjadi. Wasit memberi pelanggaran tetapi tidak ada kartu. Untuk pelanggaran YANG SAMA yang dilakukan Torreira, wasit dengan entengnya mengeluarkan kartu kuning.

Empat:

Nicolas Pepe dijatuhkan pemain Sheffield di kotak penalti. Tidak ada penalti. Arsenal diganjar penalti di kandang Palace ketika Zaha terjatuh. Kedua aksi menunjukkan kesamaan penyebab: kaki bek yang menjulur. Wasit memproduksi keputusan yang berbeda.”

Baca juga:  MU Adalah Orang Jahat yang Jadi Baik karena Layak Disakiti

Inkonsistensi dan tidak ada kompetensi wasit merugikan Arsenal. Salah satunya ketika melawan Chelsea. Ada yang bilang kebencian wasit dan FA disebabkan sedikitnya pemain asli Inggris yang menjadi tim inti di skuat The Gunners. Sebuah teori yang absurd. Lihat betapa multinasional tim-tim seperti Chelsea dan Manchester City.

Teori seperti itu sungguh tidak masuk akal. Lagian, dalam satu dekade terakhir, kualitas pemain asli Inggris tidak selalu bisa diharapkan. Kalau FA mengharapkan skuat Arsenal berisi “pribumi”, ya terapkan kebijakan pembatasan pemain asing dan menetapkan standar atas untuk harga pemain lokal yang sangat tidak masuk akal.

Berani seperti itu? Berani tidak populer lagi karena pembatasan pemain asing?

Silakan saja fans klub lain meledek Arsenal yang “meracau” soal wasit Liga Inggris yang kinerjanya sangat buruk. Silakan ledek tulisan ini. Namun, ketika kelak tim kalian dirampok 9 poin yang sangat berharga, saya mau dengar gonggongan menyedihkan kalian. Saya mau dengar betapa munafiknya kalian menyalahkan keadaan.

Ingat, terkadang, lawan kalian bukan fans klub lain, tetapi inkonsistensi dan tidak kompetennya wasit Liga Inggris. Semua akan merasakan gilirannya. Semuanya akan menjadi korban dari sebuah sistem pengadil yang tidak adil.

BACA JUGA Mikel Arteta dan Dua Batu Sumbat di Esofagus Arsenal atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.



Tirto.ID
Loading...

No more articles