Ruang pengukuhan tak pernah benar-benar sejak awal. Bahkan sebelum nama Zainal Arifin Mochtar dipanggil lengkap dengan gelar, tawa sudah lebih dulu bocor dari barisan kursi penonton. Seolah semua sepakat hari itu adalah hari untuk menertawakan Mas Uceng dengan tawa yang ngakak.
Sejak awal, ruang pengukuhan memang sudah kehilangan wibawa formalnya. Henri Satrio dan Rindra Danantara membuka dengan nada yang memecah suasana, bukan sambutan, bukan pujian, tapi pengantar untuk menertawakan Zainal Arifin Mochtar.
Kemudian disusul Eko Prasetyo, yang dengan gaya iseng mengembalikan Uceng ke habitat aslinya, aktivis intelektual yang terlalu gelisah untuk sekedar duduk di kampus.
Giliran Dandhy D. Laksono masuk, suasana menjadi naik level. Nama Dirty Vote dan Zainal Arifin Mochtar diseret kembali ke masa lalu. Konstitusi, kata Dandhy, tidak lagi cukup dibahas di jurnal-ia harus ditunjukkan dan juga di pertontonkan.
Charles Simamura lalu menimpali dari sisi yang lebih dingin tapi tak kalah menusuk: profesor yang terlalu sering muncul di publik berisiko lupa bahwa jabatan akademik juga menuntut disiplin sunyi. Di titik ini, tawa mulai bercampur dengan kesadaran—roasting ini bukan sekadar lucu-lucuan.
Bagian paling tajam datang dari Bivitri Susanti dan Yance Arizona. Nada mereka lebih tenang, tapi justru terasa mengancam. Mereka mengingatkan soal penyakit laten kaum intelektual: pelan-pelan menjadi jinak setelah jabatan datang.
Kalau ingin tahu bagaimana tawa berubah jadi peringatan—lengkap dengan sindiran yang lebih kejam dan canda yang tak sepenuhnya bercanda—ceritanya bisa disimak utuh di episode 1 dan episode 2 terbaru di YouTube Mojokdotco. Karena di sana, tertawa bukan sekadar hiburan, tapi cara paling jujur untuk mengingatkan.








