100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

Seratus tahun lalu, tepatnya Desember 1925, sebuah buku karya Tan Malaka terbit di luar negeri di tengah situasi politik yang mencekam.

Saat itu, para aktivis di Hindia Belanda hidup dalam bayang-bayang represi brutal aparat kolonial. Penangkapan, pemukulan, hingga pemenjaraan menjadi rutinitas yang menghantui siapa pun yang dianggap berseberangan dengan kekuasaan.

Perburuan terhadap aktivis bahkan telah berlangsung jauh sebelum meletusnya pemberontakan November 1926—sebuah peristiwa yang pada dasarnya hanyalah luapan dari akumulasi keputusasaan akibat tekanan yang terus-menerus.

Melalui pembacaan ulang karya Tan Malaka tersebut—yang dianotasi oleh sejarawan partikelir Zen Rahmat—terungkap bagaimana sistematisnya tindakan represif negara kolonial.

Aktivis dari berbagai latar belakang etnis dan profesi diburu tanpa pandang bulu, sementara pers dibungkam melalui pembredelan dan kriminalisasi jurnalis.

Tuduhan sebagai simpatisan komunis kerap dijadikan dalih untuk menangkap siapa saja, bahkan dalam situasi yang absurd.

Kronik sejarah mencatat bahwa dari Januari hingga Agustus 1926 saja, ribuan orang telah digelandang ke penjara di berbagai kota, mencerminkan luasnya skala operasi penindasan tersebut.

Tekanan yang terus berlangsung akhirnya melahirkan perlawanan yang sporadis dan tanpa koordinasi pusat.

Tanpa kehadiran tokoh-tokoh besar dalam garis depan, rakyat yang putus asa mulai mengangkat senjata sebagai bentuk perlawanan terakhir.

Namun, upaya ini berhasil dipadamkan dalam waktu singkat, diikuti dengan kebijakan pembuangan massal ke kamp-kamp seperti Boven Digoel.

Sejarah ini menunjukkan bahwa pemberontakan bukanlah awal dari konflik, melainkan konsekuensi dari penindasan yang panjang—sebuah pelajaran penting tentang bagaimana kekerasan negara dapat melahirkan resistensi yang tak terelakkan.

Exit mobile version