Episode Putcast kali ini, Mojok kedatangan Farchan Noor Rachman alias Efenerr. Ia dikenal sebagai “Bapak Magic Indonesia”. Dalam obrolan Putcast ini, ia membedah realita brutal bisnis kopi di Jogja. Setiap hari ada kedai yang buka, tapi ada juga yang tumbang.
Dari obrolan santai ini, Farchan membuka hal-hal yang sering luput dari perhatian. Ia menekankan pentingnya riset market. Bahkan, riset bisa sesederhana menghitung jumlah pelari di pagi hari. Dari situ, Wombat Coffee membaca perilaku konsumen di kawasan Wijilan dan mengubahnya menjadi peluang.
Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan kedai kopi tidak hanya soal rasa. Konsistensi menjadi kunci utama. Selain itu, SOP harus dijalankan dengan disiplin. Keberanian mengambil keputusan juga penting, termasuk saat mencoba hal yang tidak biasa.
Bukan Sekedar Menjual
Lebih jauh, Farchan juga menekankan bahwa strategi bisnis hari ini bukan sekadar menjual produk. Yang dijual adalah habit atau kebiasaan. Inilah yang membuat sebuah brand lebih mudah melekat di benak pelanggan.
Wombat Coffee menjadi contoh nyata. Mereka tidak hanya menjual kopi, tetapi membangun ekosistem. Mulai dari pelari pagi yang butuh tempat singgah, hingga wisatawan yang belum bisa check-in hotel. Bahkan, tersedia fasilitas mandi dan loker. Kolaborasi dengan lingkungan sekitar, seperti gudeg Yu Djum, juga memperkuat posisi mereka.
Pendekatan marketing-nya pun berbeda. Mereka tidak mengikuti gaya visual kedai kopi Jogja yang cenderung artistik dan rapi. Sebaliknya, mereka tampil lebih raw dan apa adanya. Fokusnya pada cerita manusia dan komunitas. Pendekatan ini justru terasa lebih dekat dan relevan.
Dari sini terlihat bahwa diferensiasi tidak harus selalu megah. Keunikan bisa lahir dari kejujuran dalam membaca realitas sekitar. Hal sederhana, jika konsisten, bisa menjadi kekuatan.
Tak Hanya Tentang Bisnis Kopi
Obrolan ini tidak hanya membahas kopi. Farchan juga menyinggung pentingnya personal branding di era media sosial. Menurutnya, personal branding harus dibangun dari kompetensi dan pengalaman nyata.
Ia mengingatkan bahaya membangun persona palsu. Banyak orang terlihat “ahli” di media sosial, padahal tidak punya dasar yang kuat. Dalam jangka panjang, hal seperti ini sulit bertahan.
Diskusi makin menarik saat membandingkan gaya hidup Jakarta dan Jogja. Di Jakarta, orang “keluar rumah sudah skena”. Sementara di Jogja, skena lebih situasional. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya memahami konteks dalam membangun brand.
Pada akhirnya, obrolan ini bukan hanya soal bisnis kopi atau personal branding. Ini tentang membaca perubahan zaman. Ini juga tentang tetap relevan tanpa kehilangan keaslian.









