Episode Putcast kali ini kedatangan Rendra Agusta, Seorang filolog sekaligus pembaca manuskrip Jawa kuno yang menekuni lapisan-lapisan pengetahuan tradisionalis Jawa, mulai dari naskah, laku spiritual, hingga sistem perhitungan yang kerap dianggap klenik.
Dalam Obrolan Putcast ini, Rendra Agusta hadir tidak hanya untuk membenarkan atau membantah, melainkan membuka cara pandang baru bahwa kebudayaan Jawa menyimpan logika sendiri yang tak selalu tunduk pada rasionalitas modern, tetapi terus hidup bekerja di balik kehidupan sosial politik di Indonesia.
Obrolan mengalir begitu saja, dimulai dari soal weton, wuku, hingga cara orang Jawa membaca karakter seseorang lewat sistem perhitungan tradisional.
Nama-nama besar pun ikut dibicarakan, mulai dari Joko Widodo hingga Prabowo Subianto, bukan dalam kerangka ramalan sensasional, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana kekuasaan, kepemimpinan dan simbol bekerja dalam kosmologi Jawa.
Di sini, politik tidak berdiri sendirian, melainkan berkelindan dengan spiritualitas, etika dan warisan pengetahuan lama.
Obrolan Putcast kali ini juga menyinggung tahun 2026—tahun yang dalam tradisi Jawa kerap dibaca sebagai masa prihatin dan penuh kewaspadaan.
Dari Manuskrip akhir Majapahit hingga praktik kebudayaan yang masih dijalani di desa-desa, Putcast kali ini mengajak pendengar menyelami satu pertanyaan penting, sejauh mana nasib, kekuasaan dan kejayaan manusia modern masih dibentuk oleh pengetahuan lama yang diam-diam terus bekerja?
Lebih dari sekadar obrolan tentang hitung-hitungan hari baik dan buruk, Putcast ini juga menjadi ruang untuk membicarakan batas antara kepercayaan, pengalaman personal, dan sikap hidup. Rendra berbagi bagaimana tradisi Jawa tidak selalu menuntut pembuktian rasional, tetapi mengajarkan sikap niteni—mengamati, mengalami, lalu menyikapi hidup dengan kewaspadaan dan kesadaran.









