Dulu, bagi warga Desa Gendayaan, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, air adalah barang mewah. Untuk sekedar minum dan mandi, mereka harus berjalan kaki berjam-jam menyebrangi perbukitan karst, bahkan sampai ke wilayah jawa Timur. Anak-anak ikut memikul jerigen. orang dewasa menjual kambing dan sapi demi setetes air.
Hari ini, cerita itu tinggal kenangan. Goa Jomblang, yang dulu hanya dikenal sebagai tempat angker, kini justru menjadi sumber kehidupan. Dari perut bumi yang gelap, air diangkat dan dialirkan ke rumah-rumah warga, menyalakan kembali kehidupan di desa yang lama kehausan.
Wilayah Karst dan Harapan yang Lama Dipendam
Secara geologis, gendayaan berada di wilayah karst—wilayah yang memang sulit dialiri air permukaan. Namun warga sebenarnya tahu ada air melimpah di bawah tanah. Masalahnya, tak ada yang tahu cara mengambilnya. Tak ada biaya dan tak ada keberanian.
Goa Jomblang sendiri sudah lama dikenal warga. Tapi bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan ketakutan. Gelap, curam, dan penuh dengan cerita mistis.
Namun di balik cerita itu masih ada orang yang berani mendekat, ia adalah Slamet.
Pak Slamet dan Keberanian Masuk Luweng
Slamet bukan warga asli Gendayaan. Ia datang pada 1986, menikah dengan warga setempat dan meneruskan hidupnya tanpa air. Demi menghidupi keluarga, ia masuk ke banyak luweng dan goa—bukan untuk air melainkan mencari sarang burung walet.
“Saya sudah masuk 10 sampai 20 luweng dan hanya bermodal tali tambang biasa, saya niatkan Saya niatkan lillahi ta’ala dan bukan cuma buat keluarga tapi juga masyarakat” ujar Slamet
Keberanian itu menjadi titik penting. Sekitar 2019, Gus Yayan bersama rekan-rekannya melakukan eksplorasi Goa Jomblang dan berhasil menemukan sumber air di dalamnya.
Awalnya, warga patungan membeli mesin dan pipa seadanya. Sistem itu tak bertahan lama. Mesin sering mati. Hingga kemudian Djarum Foundation masuk membantu membangun sistem air yang lebih kuat dan berkelanjutan
Harapan Goa Jomblang yang Masih Mengalir
Awalnya, air diambil secara komunal. Kini, hampir setiap rumah warga memiliki keran sendiri. Warga hanya membayar iuran ringan—sekedar untuk perawatn listrik dan cadangan jika ada kerusakan.
Ketakutan warga perlahan hilang. Goa yang dulu dihindari kini menjadi sumber kehidupan.
Namun perubahan terbesar tidak berhenti pada air. Ia juga menggerakkan ekonomi warga. Musim kemarau tak lagi berarti menjual ternak, dan air yang kini tersedia membuat wudhu mudah dilakukan—menjaga shalat tetap terjaga.
Air dari goa Jomblang sebenarnya masih sangat melimpah. Namun pengambangan belum maksimal. Warga berharap ada pihak lain yang mau melanjutkan—agar manfaatnya tak berhenti di Gendayaan saja.








