MOJOK.COJanganlah merasa hebat hanya dengan pernah naik mobil mewah dan dikawal Voorijder, Bung! Naik UFO dulu, dong!

Orang-orang pintar di sana bilang kalau peradaban masa depan adalah masa di mana masyarakatnya berbondong-bondong bermobilisasi menggunakan transportasi umum. Ternyata mereka lupa kalau ada UFO, kendaraan yang konon dibuat oleh makhluk yang jauh lebih cerdas dan maju peradabannya dari kita sekarang.

Kalau dari segi teknologinya, UFO ini keren banget lho! Kabarnya, bisa melaju 7 kali lebih cepat daripada Hyperloop. Yakni di kisaran 2.700 km/jam, lebih cepat daripada move on-nya mantan tersayangmu dari kamu.

Benda terbang asing itu juga acap tak terdeteksi pergerakannya, sangat mirip pacarnya mantanmu sekarang, yang dulu katanya hanya sebatas teman saat KKN, tapi ternyata oh ternyata~

Saya dan mungkin juga sebagian dari sampeyan pasti penasaran bagaimana rasanya naik UFO. Lha wong saya dikasih tumpangan mobil mewah macam All New Pajero Sport saja sudah berasa mimpi. Norak, memang. Maklum, sobat kismin. Kira-kira gimana kalau naik UFO ya?

Sayang, tidak semua orang berkesempatan mengendari moda transportasi yang dipercaya bentuknya mirip piring itu. Benar, lho. Saya tegaskan lagi, hanya orang-orang terpilih yang bisa diculik, eh, naik dan masuk ke dalam UFO.

Terlepas dari klaim mereka benar atau tidak ya. Mereka bilang, begini isi dari piring terbang itu.

Makhluk Aneh

Atau bisa kita sebut dengan alien saja, biar akrab (walau sebenarnya lebih ke kita yang sok akrab). Alien identik sebagai makhluk dengan penampilan fisik khas, seperti bentuk kepala yang tidak simetris, mata bulat besar, hingga kulit kelabu-abuan. Mereka juga seringkali digambarkan sebagai makhluk yang berdiri dengan dua kaki dan memiliki dua tangan, mirip seperti manusia. Soal berkomunikasi, konon mereka memiliki bahasa tersendiri, kendati di beberapa kasus juga mampu berkomunikasi dengan bahasa yang dipahami korban yang “diculiknya”.

Baca juga:  Emang Salah Ya Kalau Perempuan Nonton Bioskop Sendirian?

Terlepas dari tingkat akurasi penampakan fisik alien, para korban penculikan alien dan sebagian besar dari kita sepakat kalau UFO ini ditumpangi oleh penduduk non-pribumi. Terkadang mereka hanya menampakkan diri tengah terbang di langit kita. Ada kalanya mereka mengajak “orang-orang terpilih” untuk “room tour” di dalam UFO-nya. Ndilalah, yang diculik alien itu kok, nggak pernah ada yang sedang ready pegang kamera untuk nge-vlog atau smartphone untuk live Instagram. Kan lumayan buat konten.

Pintu Raksasa

“Kapal terbang itu sangat besar. Ukuran salah satu pintu di dalamnya setara lapangan sepak bola,” begitu pengakuan Kirsan Ilyumzhinov. Ia adalah mantan presiden Kalmykia –secara administratif masih menjadi bagian dari Rusia– yang mengklaim pernah diculik alien dan masuk ke dalam UFO pada September 1997.

Kalau dikira-kira, pintu sebesar lapangan sepak bola itu berukuran 100 meter. Manusia modern tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah, Robert Wadlow (2,72 meter), saja kalau disuruh membersihkan jaring laba-laba yang muncul di sudut-sudutnya atau mengecat kusen pintu tersebut pasti kesulitan. Ah, andaikata pintu maaf netizen Indonesia sebesar itu, ya, pasti lebih sedikit perdebatan tidak perlu di dumay.

Semacam Meja Operasi

Dugaan banyak orang atau klaim sejumlah orang yang mengaku pernah diculik makhluk luar angkasa adalah alien menyandera manusia untuk dipelajari. Beberapa para sandera, seperti Linda Napolitano alias Linda Cortile, mengklaim pernah dibaringkan di sebuah meja yang panjang dan terasa dingin permukaannya, lalu mengaku dikelilingi dan diinspeksi para alien. Sebelas dua belaslah dengan kita yang overexcited saat menemukan makhluk asing di lautan dalam.

Baca juga:  Anjuran kepada Jonru dan Bunda Eden agar Segera Melakukan RevolUFO

Atau barangkali alien yang mampir ke bumi itu sedang shooting acara televisi, sekadar “menyedot” manusia sebentar ke dalam UFO-nya, diajak berfoto bersama, lalu memekikkan yel-yel macam “Mancing Manusyaaa… Mantap, Beroooo!” sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya.

Bangku

Hipotesis saya, alien makhluk yang gampang capek saat berdiri terlalu lama, sama seperti anak SMA yang benci upacara bendera seperti saya. Sebab, di dalam UFO, masih menurut Linda Cortile, ternyata ada juga bangku yang mirip dengan bangku ciptaan manusia.

Hmmm… apakah alien di dalam UFO juga rajin apel pagi? Kalau iya, semoga makhluk yang konon kecerdasannya melebihi manusia itu saat capek pasca apel hanya ingin duduk biasa saja di semacam bangku taman, bukan pura-pura sakit biar bisa masuk UKS seperti kebiasaan saya.

Ataukah kursi di dalam UFO itu tak ubahnya sebagai ruang tersier di dalam sebuah mall atau pusat perbelanjaan saja? Tahu kan, spot-spot yang biasanya diisi dengan bangku-bangku plus background Instagrammable agar masyarakat yang doyan selfie dan pamer di medsos seperti kita, bisa mempromosikan spot tersebut secara implisit?

Ngomong-ngomong, apakah sampeyan termasuk yang percaya dengan kehadiran alien dan UFO?

Kalau saya sih netral. Begini soalnya, Van Riper (2002) dalam bukunya Science in Popular Culture: A Reference Guide menjelaskan kalau penggambaran alien dan UFO yang dilaporkan oleh para saksi matanya tidaklah jauh berbeda dengan penggambaran di produk-produk budaya populer, seperti di film atau literatur. Artikel ilmiah Chris Bader, The UFO Contact Movement from the 1950s to the Present, yang terbit tahun 1995 juga mencatat kalau selama tahun 1960-an, laporan masyarakat terkait UFO berubah drastis, dari sekadar melihat dan beberapa menjalin kontak menjadi “korban” penculikan; hal itu sejalan dengan lahirnya karya fiksi ilmiah yang menunjukkan interaksi yang lebih intim antara manusia dengan alien macam My Favorite Martian (1963–1966), Close Encounters of the Third Kind (1977), dan E.T. the Extra-Terrestrial (1982).

Baca juga:  Suzuki Karimun GX, Mobil Mulia untuk Orang yang Mulia

Namun di sisi lain, peluang bahwa ada kehidupan di luar Bumi masih besar pula. Latar belakangnya adalah cosmic pluralism, yakni asumsi bahwa masih ada dunia yang lebih luas di luar Bumi dan manusia tidak sendirian hidup di dunia ini. Selain itu, teknologi ciptaan manusia juga masih terbatas untuk melakukan eksplorasi ke luar angkasa.

Coba deh sekali-kali bergabung dengan komunitas macam UFOnesia, Beta UFO Indonesia, atau kalau bayak duit mampirlah ke International UFO Congress, buat memperkaya perspektif.

Atau mungkin mau ikut teman saya, yang bukan atheis atau agnostik, tapi menyembah alien?