Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Prejengan

Desainer-Desainer yang Membenci Melania Trump

Desi Dwi Jayanti oleh Desi Dwi Jayanti
31 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika beberapa desainer besar menolak karyanya dikenakan Melania Trump, seorang imigran Yahudi yang sukses menjadi desainer fesyen ternama Amerika memilih posisi berbeda. Ialah Ralph Lauren, yang alih-alih mencampuradukkan pilihan politik dengan karya seni, ia merayakan pelantikan presiden baru AS dengan merancang busana spesial untuk Ibu Negara.

Busana biru muda yang dipadu dengan cropped jacket menjadi first statement Melania Trump sebagai FLOTUS atau First Lady of the United States. Maxi dress itu dipadukan dengan sarung tangan berbahan kulit lembut dan pumps warna senada. Sungguh perpaduan yang membuat tubuh langsing Melania tampak anggun mempesona. Sekelebat saya bukan melihat sosok Melania, melainkan Jackie Kennedy yang bereinkarnasi dan mendampingi Donald Trump sebagai tebusan atas dosa-dosanya di masa silam. Faktanya, di mata khalayak, dosa masa lalu Melania jauh lebih besar daripada Jackie.

Amerika telah mencatat sejarahnya. Ketika ratusan kamera menyorot ujung kepala hingga kaki Melania di hari inaugurasi—yang tak lebih ramai dari delapan bahkan empat tahun sebelumnya, tagar #boycottLauren menduduki trending topic. Kala itu, masyarakat Amerika (bahkan dunia) masih terkejut dengan kemenangan Donald Trump atas Clinton. Kebencian netizen terhadap pasangan ini tak terbendung dan berimbas kepada Lauren.

Tagar tersebut membuat Lauren, yang setengah abad lalu mendirikan Ralph Lauren Corporation, mendapat ribuan pesan hujatan, bahkan hingga beberapa hari setelah inaugurasi berakhir. Masyarakat yang anti-Trump tentu sepakat dengan boikot ini. Mereka beranggapan Lauren layak menerima konsekuensi atas pilihannya.

Jauh sebelum inagurasi, sedikitnya sepuluh perancang busana ternama dunia telah menolak merancang gaun bagi Melania. Di antaranya ialah Sophie Theallet yang delapan tahun terakhir merancang gaun untuk Michelle Obama. Meski menyadari tidak bijaksana mencampuradukkan pilihan politik dengan karya seni, Sophie menegaskan bahwa brand miliknya dengan tegas menolak diskriminasi. Rasisme, seksisme, dan xenofobia yang dilakukan Trump selama kampanye hingga hari ini tidaklah sejalan dengan nilai-nilai yang dianut Theallet.

Dalam barisan yang sama ada Marc Jacob dan Tom Ford. Lain dengan Sophie yang menulis penolakannya melalui surat terbuka, Ford yang merupakan pendukung Partai Demokrat dan pemilih Clinton mengatakan keberatannya dalam sebuah wawancara di acara televisi The View. Tidak dijelaskan standar apa yang ia gunakan, Ford mengatakan Melania tidak mencerminkan brand yang ia miliki. Dalam kesempatan lain Jacobs menyatakan, lebih baik ia menggunakan energinya membantu mereka yang telah disakiti oleh Trump dan para pendukungnya.

Mereka, para perancang busana itu, adalah manusia biasa yang sah saja mengemukakan pandangan politik dan sikap mereka. Namun, berangkat dari sini, akan menarik jika kita melihat sosok Melania lebih jauh.

Melania bukan tak sadar suaminya adalah objek bulan-bulanan media dan netizen karena kontroversi yang kerap ditimbulkannya. Ujaran kebencian terhadap Trump juga berimbas kepadanya sejak masa kampanye hingga hari ini. Masa lalunya selama menjalani kehidupan sebagai model pun turut dibongkar, termasuk foto telanjangnya pada 1995 di majalah Prancis Max.

Namun, melihat Melania secara personal dan mempermasalahkannya secara moral adalah kesalahan besar. Melihatnya sebagai korban juga tidak tepat. Tentu tidak kompatibel jika menempatkan standar yang kita anut pada orang lain, yang jelas-jelas mengimani nilai yang berbeda dengan kita. Bukankah semua orang punya masa lalu dan berhak berubah ke arah mana pun di masa depan? Juga Melania. Tidak perlu jadi moralis-moralis bangetlah.

Di sisi lain, jauh lebih sehat jika menempatkan ketidaksetujuan kita terhadap Melania terkait sikap diamnya, yakni diam atas pernyataan dan kebijakan Trump saat menyudutkan perempuan, seksis, antikeberagaman, dan berbau islamfobia. Kita perlu benar-benar bertanya pada Melania, Tante sehat?

Dalam beberapa wawancara media, Melania mengungkapkan bahwa tak selamanya ia setuju dengan Trump. Ia juga kerap memberikan kritik kepada suaminya, meski kadang didengar, kadang juga dianggap angin lalu. Sikap inilah yang tak terdeteksi oleh kita karena tertutupi oleh berita tentang Donald yang masif dan menyakitkan. Tapi, dari sini kita bisa melihat, sebetulnya Melania punya sikap, walau nggak tegas juga atas sikapnya itu.

Tak tegasnya Melania menyatakan keberatan masuk dalam kategori violation by omission, atau kekerasan melalui pembiaran. Memang sih, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik layar. Bisa jadi blio merana. Namun, sebagai first lady, pernyataan sikap politik Melania sangat penting. Dengan meredam suara lalu memilih diam, sama saja ia menyetujui semua sikap dan keputusan Trump yang membahayakan kehidupan umat itu.

Jika dikaitkan kembali dengan penolakan sederet perancang busana ternama terhadap Melania, hal itu bukanlah sentimen semata yang berkutat pada citra atau representasi sebuah karya. Jika kita tarik lebih jauh, penolakan itu adalah pernyataan tegas mereka sebagai warna negara terhadap seseorang yang kini menjadi simbol negara. Penolakan ini jauh melampaui urusan personalitas atau bahkan bisnis.

Melania hari ini bukanlah Melania beberapa bulan yang lalu, seorang perempuan sipil yang juga layak dihormati pilihan hidupnya. Karena ketika kita berbicara negara ada kaum-kaum tertindas di dalamnya yang menderita oleh pernyataan dan kebijakan suaminya, Melania harus tegas dan segera menyatakan sikap politiknya. Sebab, bisa jadi hal itu adalah angin surga bagi rakyat Amerika.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2017 oleh

Tags: desainerDonald TrumpfashionMelania TrumpRalph Lauren
Desi Dwi Jayanti

Desi Dwi Jayanti

Artikel Terkait

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO
Urban

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

5 Mei 2026
ilustrasi Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan baju bekas Ilegal mojok.co
Pojokan

Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan Ilegal

20 Desember 2021
ilustrasi Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah mojok.co
Pojokan

Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah

14 Desember 2021
ilustrasi Model Baju yang Cuma Bagus Dipakai Kaum Good Looking mojok.co
Pojokan

Model Baju yang Cuma Bagus Dipakai Kaum Good Looking

9 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.