Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Halo Kak Prilly, Perempuan Independen Nggak Harus sama Laki-laki Mapan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 Desember 2024
A A
Halo Kak Prilly, Perempuan Independen Emang Harus sama Laki-laki Mapan, Ya? MOJOK.CO

ilustrasi - perempuan independen apakah harus dengan laki-laki mapan? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Aktris Prilly Latuconsina barangkali khawatir jika banyaknya perempuan independen di Indonesia sulit mencari pasangan atau laki-laki mapan, mengingat tren pernikahan di Indonesia terus menurun. 

Alih-alih didukung, banyak netizen tak sepakat karena setiap orang punya standar yang berbeda untuk memilih pasangan, entah sebagai pacar, pasangan hidup, atau hubungan tanpa status. Terlebih, memadukan dua kata sifat itu dianggap kurang tepat.

***

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan. BPS mencatat sebanyak 1.577.255 pasangan yang menikah di tahun 2023. Angkanya mengalami penurunan sebesar 128 ribu jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Fenomena itu kemudian dihubungkan dengan meningkatnya jumlah perempuan independen. Sementara jumlah laki-laki mapan justru menurun. Menurut Prilly Latuconsina, banyak laki-laki yang tidak percaya diri untuk mendekati perempuan independen, sehingga memilih mundur duluan. 

“Kalau sekarang misalnya ada cewek kariernya dan uangnya lebih banyak, cowok insecure juga. Cowok tetep pengen bayarin juga,” ucap Prilly dikutip dari Youtube Bloom Media, Kamis (12/12/2024).

Mencari pasangan untuk tumbuh bersama

Menurut Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Naufal (23), mapan tidak bisa diartikan dari segi materi saja, tapi juga usia maupun kondisi psikologis. Sementara independen baginya harus dimiliki oleh semua orang.

“Mapan secara garis besar kan untuk menjelaskan level seseorang, nah mapan versiku bisa jadi berbeda dengan orang lain,” ucap Naufal saat dihubungi Mojok, Rabu (11/12/2024).

Oleh karena itu, diusianya yang sekarang dia masih meningkatkan level dirinya di setiap aspek, sehingga tidak malu dengan pasangannya nanti. Sebab, kata dia, sepanjang manusia hidup, dia akan terus bertumbuh.

“Perjalan hidup kan dinamis. Aku nggak bisa memastikan terus up, barangkali ada down-nya juga. Nah pas lagi down itu. Barulah aku sama pasanganku bergerak dan bangkit bersama,” ucapnya.

Perempuan independen berarti menolak patriarki

Tak jauh berbeda dengan Naufal, Mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), Antonella mendukung bahwa setiap orang idealnya harus bisa independen, bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri.

“Independen justru berarti merdeka dari stigma: harus ini harus itu, termasuk harus punya pasangan dengan kriteria XYZ,” ucap Notella yang juga aktif menyuarakan isu soal kesetaraan gender.

Justru ketika perempuan hanya mengikuti standar sosial, di mana perempuan independen harus dengan pria mapan, itu berarti mereka masih terjebak dalam budaya patriarki.

“Karena paham seperti inilah, perempuan seringkali terjebak pada situasi di mana mereka menambah kualitas diri hanya semata-mata untuk mendapatkan pasangan yang (dianggap) lebih berkelas,” ujarnya.

Iklan

Antonella menegaskan, sejatinya, perempuan ingin mandiri karena dia tidak ingin terkungkung dalam batas norma yang dilanggengkan oleh struktur sosial di sekitarnya. 

Alasan menjadi perempuan independen

Antonella tak menampik setiap orang tentu memiliki standar dalam menentukan pasangan. Dia sendiri ingin laki-laki yang bisa saling menghargai, tidak menuntut pasangannya, dan memperlakukan mereka secara setara.

Menurut dia, standar laki-laki mapan, jelek, atau tampan, tidak akan menentukan hubungan itu sehat atau tidak. Pada akhrinya, laki-laki yang tidak patriarki dan misoginislah yang dapat memberikan keadilan untuk perempuan.

Maka dari itu, terlepas dari siapapun pasangan mereka, perempuan harus bisa meningkatkan harga dirinya, demi memiliki kemandirian dan kepercayaan diri.

“Agar pada akhirnya tidak bergantung pada laki-laki,” ujar Antonella. 

Salah kaprah soal definisi independen dan mapan

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari menjelaskan perempuan yang sudah berkeluarga masuk kategori independen. Dengan kata lain, perempuan independen di Indonesia tidak hanya terbatas pada mereka yang belum menikah. 

Masalahnya, independen sering kali disalah artikan sebagai kebebasan ekonomi semata. Padahal, orang yang independen berarti punya kemampuan berdaya, mandiri, dan memiliki prinsip hidup yang kokoh.

“Independensi juga mencakup kemampuan berpikir rasional dan bijak dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujar Luluk dikutip dari laman resmi UMM, Kamis (12/12/2024).

Sementara itu, seseorang bisa dianggap mapan ketika dia mantap secara pribadi, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dan mampu memberikan kontribusi untuk orang lain, seperti keluarga.

Mengapa jumlah laki-laki mapan turun?

Di sisi lain, Luluk menyebut pandemi Covid-19 memengaruhi dinamika sosial-ekonomi, sehingga banyak pria mapan yang turun kelas sosialnya. Bisa jadi karena mereka mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) atau kebangkrutan usaha.

“Tapi kita harus melihatnya dari perspektif yang lebih luas. Kemapanan tidak hanya tentang finansial, tetapi juga tentang kemampuan untuk bertahan dan bangkit,” ujar Luluk.

Selain itu, Luluk tidak sepakat dengan Prilly Latuconsina, jika jumlah perempuan independen yang meningkat justru mengurangi peluang pria menjadi mapan. Pernyataan itu sering kali dilihat dari pandangan yang sempit atau pada kasus tertentu, sehingga tidak mewakili mayoritas.

Dia menegaskan independen bukan berarti bebas tanpa batas, melainkan prinsip yang harus dihormati. Begitupun dengan mapan. Oleh karena itu, dia berharap masyarakat terutama generasi muda lebih mengharagai kedua konsep tersebut dengan positif.

“Kita harus menghindari generalisasi yang dapat menimbulkan kebencian antar-gender,” ucapnya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sampai Nanti, Hanna!: Ketika Perempuan “Dipaksa” Memilih Hubungan Toksik

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 14 Desember 2024 oleh

Tags: perempuan independenpilihan redaksipria mapanprilly latuconsinasyarat menikah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.