Wibu di Indonesia yang Terlalu Nyaman Nonton Anime Bajakan

Artikel

Avatar

Beberapa waktu yang lalu, anak-anak wibu dikejutkan dengan adanya berita bahwa pemerintah Jepang akan memperketat persoalan hak cipta baik itu anime, manga, musik, dan sebagainya yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2021. Terdapat beberapa situs anime bajakan yang langsung menutup aksesnya sebelum peraturan itu resmi diberlakukan, salah satunya adalah KissAnime.

Apabila diketahui menyediakan atau mengunduh konten tersebut secara ilegal, mereka akan dikenakan denda kurang lebih Rp262 juta dan dipenjara selama 2 tahun. Hingga kini masih belum diketahui pasti apakah peraturan ini juga akan berlaku di luar Jepang.

Nah, bukan rahasia kalau situs anime ilegal di Indonesia itu udah banyak banget.  Ciri khas dari situs demikian adalah adanya banyak iklan ketika mau streaming atau mengunduh konten. Saya sendiri sudah mulai mengakses situs anime bajakan sejak masih SMP, lebih tepatnya di tahun 2013. Setelah bertahun-tahun mengakses berbagai macam situs, tentunya saya dapat memahami apa saja keuntungan yang saya rasakan ketika mengaksesnya. Mungkin hal-hal ini juga dirasakan oleh para wibu di Indonesia sehingga rasanya susah sekali untuk beralih ke situs resmi.

Nggak mau ngeluarin biaya 

Saat ini sudah muncul berbagai macam layanan penyedia tayangan anime yang legal seperti Netflix dan Crunchyroll yang harganya mungkin terjangkau. Namun, sepertinya, wibu di Indonesia masih tidak mau mengeluarkan uangnya untuk berlangganan dengan alasan, “Selama masih ada yang gratis ngapain mesti bayar?”

Hal ini bisa terjadi karena penilaian atas karya seni di Indonesia itu sangat rendah. Makanya hal seperti pembajakan karya seni dinilai normal. Padahal memproduksi anime itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kesadaran inilah yang bikin wibu terjebak zona nyaman menikmati bajakan.

Anime-nya lebih lengkap

Saat saya mengakses Netflix ataupun Crunchyroll, memang animenya lumayan lengkap. Sayangnya server Indonesia tidak dapat mengaksesnya secara keseluruhan. Jadi, hanya terdapat beberapa anime populer yang dapat diakses, terutama anime yang sudah selesai perilisan. Sementara penikmat anime di Indonesia itu banyak banget. Mereka nggak hanya menonton anime populer. Kendala ini akhirnya bikin banyak orang gondok dan males berlangganan situs legal.

Subtitle-nya kocak

Penonton anime bajakan mungkin sudah paham alasan ini. Yap, bener banget kalau subtitle anime bajakan itu kadang kocak-kocak dan jadi hiburan tersendiri. Seperti kata “assalamualaikum”, “astagfirullah”, “bangsat”, “gua”, “elo” yang disisipkan dalam percakapan anime berbahasa Jepang. Hal kayak gini emang terkesan receh, namun sudah jadi ciri khas subtitle bajakan. Banyak kejutan subtitle yang bikin tertawa di tengah-tengah nonton. 

Sementara kalau nonton lewat situs streaming legal, subtitle-nya gitu-gitu aja. Bahasanya terlalu datar dan membosankan.  

Banyak yang nggak bisa bahasa Inggris

Beberapa anime yang disediakan situs streaming legal masih belum menyediakan subtitle berbahasa Indonesia. Kalau begini, wibu terpaksa pakai subtitle berbahasa Inggris. Wibu di Indonesia yang nggak bisa bahasa Inggris cuma bisa gigit jari dan kembali ke situs anime bajakan.

Bahkan di Crunchyroll bisa dibilang nggak ada subtitle berbahasa Indonesia. Kebanyakan hanya berbahasa Inggris dan Spanyol. 

Walaupun terdengar sederhana, sebenarnya dengan kita beralih ke situs legal secara tidak langsung kita mendukung para mangaka ataupun produksi anime itu sendiri. Ibaratnya seperti berterima kasih atas karya seni yang telah dihasilkan untuk menghibur kita.

Kalau saya pribadi sudah mulai mengurangi nonton anime di situs bajakan dengan mulai beralih menggunakan Netflix. Namun, untuk anime yang tidak tersedia di Netflix, saya terpaksa tetap mengakses situs bajakan dengan memegang komitmen bahwa saya akan membeli komik aslinya saat sudah berpenghasilan nanti. Walaupun belum 100 persen beralih, setidaknya sudah mulai berusaha. Jadi, wibu Indonesia, ayo kita beralih ke situs yang resmi!

BACA JUGA 4 Alasan Anime Lebih Layak Tonton dari Drama Korea dan tulisan Agiel Rabbani lainnya.

Baca Juga:  Kenapa Industri Musik Jepang tidak Berkembang Sebesar K-Pop?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
42


Komentar

Comments are closed.