Kerja di warung Madura pilihan masuk akal buat anak muda Sumenep…
Sekitar dua tahun lalu, di sela-sela pekerjaan survei minat anak SMA Sumenep pada pendidikan tinggi, saya sempat ngobrol dengan beberapa guru BK dan Wakasek di sekolah-sekolah yang saya kunjungi. Di salah satu SMA negeri yang lokasinya nggak jauh dari pusat kota, saya menemukan satu fenomena menarik. Menurut guru BK di sekolah tersebut, semakin tahun minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin menurun. Itu terlihat dari jajak minat yang rutin dilakukan oleh pihak sekolah.
Awalnya saya kira ini persoalan klasik karena pengin cepat kerja atau ikut tes TNI dan Polri. Tetapi setelah ditelusuri ke orang tua, jawabannya cukup konsisten. Mayoritas dari mereka berencana langsung bekerja di warung Madura setelah lulus SMA. Menurut orang tua dan siswanya, bekerja di warung maracang (istilah yang biasa kami pakai) jauh lebih menjanjikan dibanding kuliah yang setelah lulus pun belum tentu dapat pekerjaan.
Bagi orang Madura, terutama di Sumenep, bekerja di warung Madura memang dikenal menjanjikan. Jika dibandingkan dengan mayoritas pekerjaan yang tersedia di daerah ujung Pulau Madura ini, warung Madura relatif lebih aman secara penghasilan. Soal ini rasanya hampir nggak ada perdebatan. Maka wajar kalau banyak anak muda lebih tertarik bekerja di warung daripada sektor lain.
Begitupun dengan pendidikan yang akhirnya cuma jadi pilihan opsional. In this economy, pilihan tersebut terasa masuk akal. Bukan karena kuliah nggak penting, tapi karena hidup dan menjadi anak muda di Sumenep memang serentan itu.
Lapangan kerja yang serba minim
Sebelum masuk ke pembahasan warung Madura, mari kita bicara soal pengangguran dan lapangan kerja. Data BPS memang mencatat tingkat pengangguran di Kabupaten Sumenep sebagai salah satu yang terendah di Jawa Timur. Tapi angka ini perlu dilihat secara kritis. Di lapangan, mencari pekerjaan di Sumenep masih sangat sulit. Coba saja cek saja akun media sosial lowongan kerja lokal, berapa banyak info loker yang tersedia dalam satu bulan terakhir? Mungkin bisa dihitung dengan jari.
Mencari kerja di Sumenep itu susahnya absolut, bukan relatif lagi. Ditambah lagi budaya “orang dalam” yang masih kuat bikin peluang makin sempit. Sekalinya ada, gajinya bikin pengen ngomong jorok tiap hari.
Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sumenep tahun 2026 memang sebesar Rp2.553.688, tapi berapa persen dari mereka yang beruntung dapat kerja dengan gaji segitu? Lagi-lagi, jumlahnya bisa dihitung jari. Banyak yang harus ngelus dada dengan menghasilan di bawah UMK, dan kalau cukup buat menutupi kebutuhan bulanan saja sudah sujud syukur.
Jadi, kalau ditanya soal data pengangguran kok bisa rendah, sebenarnya sih jawabannya YTTA (yang tau-tau aja). Tapi kalau mau sedikit lebih argumentatif, bisa jadi itu bukan karena pemerintahnya berhasil menyerap tenaga kerja, tapi masyarakatnya cukup pintar mengelola tantangan hidup mereka sendiri. Keadaan sosial konomi di Sumenep itu berjalan auto pilot, sedangkan masyarakat dituntut sepintar-pintarnya buat sekedar bertahan hidup.
Buka usaha? Nggak semudah itu
Pilihan lain buat bertahan hidup di kota kecil ini adalah dengan buka usaha, kayak warung kopi, kedai makanan, sampai jajanan-jajanan di pinggir jalan. Tapi dari sekian banyak usaha mandiri itu, cuma sedikit yang akhirnya bertahan dan berhasil. Kalau soal daya beli, itu cukup relatif dan debatable. Buktinya banyak waralaba besar yang tetap masuk ke Sumenep.
Beberapa teman yang sedang menjajal dunia usaha juga bilang hal serupa. Menurut mereka, meski nggak setinggi kota-kota besar, daya beli masyarakat Sumenep sebenarnya nggak buruk-buruk amat, makanya buka usaha itu cukup potensial. Akan tetapi ada beberapa hal yang bikin buka usaha di Sumenep itu tetap susah.
Pertama, sulit cari tenaga kerja yang kapabel. Dari beberapa teman yang saya tanyai, serentak dari mereka memang mengakui kalau mencari pekerja yang kapabel itu kayak nyari paku di tumpukan jerami. Nggak sesusah nyari jarum sih, tapi ya tetap aja nggak semudah yang dibayangkan.
Kedua, perang harga yang terlalu toxic. Banyak dari pengusaha menawarkan harga produk yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Ini bikin dunia usaha di Sumenep jadi arena perang harga, bukan perang kualitas. Akhirnya, para pengusaha kecil yang nggak mampu bertahan dalam arena ini harus gulung tikar.
Warung Madura jadi oase
Sebagai orang yang hidup di lingkungan mayoritas anak muda bekerja di warung Madura, saya melihat pilihan mereka ini sangat masuk akal. In this economy and in this town, nggak banyak masyarakat yang mau ambil risiko dari “perjudian” pendidikan dan dunia usaha. Bekerja jadi penjaga warung adalah langkah paling sederhana yang risikonya bisa dinavigasi.
Potensi bekerja di warung seperti ini juga lumayan bagus, kok. Nggak sedikit dari mereka yang setelah bertahun-tahun bekerja, akhirnya bisa membuka warung sendiri dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Sehingga, potensi ekonomi warung Madura itu memang nggak bisa dipandang sebelah mata.
Jadi, bekerja di warung Madura itu bukan sekadar nyari jalan pintas atau tanda malas kuliah saja. Di tengah kondisi ekonomi dan masa depan yang makin nggak pasti, ini jadi cara anak muda Sumenep menyusun lintasan hidupnya sendiri. Warung Madura sejauh ini masih jadi tempat berlindung paling aman buat mereka. Alurnya jelas, bisa dihitung risikonya, dan hasilnya juga kelihatan.
Penulis: Puzairi
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Sebagai Orang Madura, Saya Sebenarnya Agak Segan Belanja di Warung Madura.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















