Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi

Muhammad Afsal Fauzan S. oleh Muhammad Afsal Fauzan S.
7 Mei 2025
A A
Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi mojok.co

Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan bekerja di cabang salah satu pabrik FMCG multinasional terbesar di Indonesia. Sebagai seorang wartawan yang berkecimpung di dunia jurnalistik sejak 2019, menjadi buruh pabrik tidak pernah ada dalam daftar cita-cita saya sebelumnya. 

Krisis keuangan yang menimpa perusahaan media tempat saya bekerja berimbas pada keuangan pribadi. Ditambah cita-cita saya menikahi pacar saya, semakin membuat diri ini terpuruk dan hilang arah. Alhasil, saya pun melamar pekerjaan ke berbagai tempat.

Hingga akhirnya, saya diterima di perusahaan yang produk minumannya sering dibilang ada manis-manisnya. Posisi yang saya tempati adalah admin gudang. Status saya masih outsourcing sehingga tidak mendapatkan banyak jaminan seperti karyawan tetap. Di hari buruh kemarin, Presiden Prabowo Subianto berjanji menghapus outsourcing, semoga saja itu tidak omon-omon belaka. Sebab, pada dasarnya, apa yang saya rasakan sebagai pegawai outsourcing semacam eksploitasi terselubung.

Jobdesc yang melenceng 

Saya bekerja sebagai admin gudang, tapi jobdesc yang saya kerjakan lebih mirip helper. Selama ini saya bekerja di shift 1 yang bertanggung jawab membersihkan gudang. Tidak hanya satu gudang, tapi ada 7 gudang yang harus saya bersihkan. Untungnya, ada 2 orang yang bekerja di shift 1, sehingga pekerjaan jadi tidak begitu berat. 

Admin gudang membersihkan gudang bertugas membersihkan itu sudah aneh. Tapi, ada yang lebih aneh lagi, saya pernah diminta membersihkan tangki solar. Saya harus naik ke atas tangki tersebut dan membersihkannya dengan lap basah. Rasanya, posisi saya sebagai admin ini memang benar-benar merangkap sebagai helper dan operator gudang.

Tanggung jawab lain, saya lebih banyak menata barang, membantu mengangkut paket yang masuk, hingga melayani departemen lain yang butuh barang. Saya sangat jarang bekerja menggunakan komputer, padahal hal itu yang terlintas dalam bayangan ketika menerima pekerjaan sebagai admin gudang. Pekerjaan yang berkaitan dengan komputer sebenarnya jadi tanggung jawab admin gudang shift 2. Namun, setelah saya cermati, kawan-kawan yang bekerja di shift 2 juga tidak banyak memegang komputer, paling sekitar 30 persen saja dari total jam kerja. 

Di tengah tanggung jawab yang agak melenceng dari titel pekerjaan, saya juga merasa janggal dengan penerapan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) di tempat ini. Bagaimana tidak merasa demikian kalau APD yang ada di gudang kimia hanya disimpan sebagai pajangan. Karyawan yang membersihkan gudang kimia, hanya berbekal sapu, pengepel, lap majun, dan badan mereka sendiri. Benar-benar buruh pabrik sangat tidak terjamin keselamatan kerjanya. 

Tanggal merah buruh pabrik bisa tetap masuk

Hal lain yang membuat saya terkejut adalah para buruh pabrik yang senang sekali kerja lembur. Perusahaan FMCG memang terkenal dengan produksi nonstop 24 jam karena produknya harus selalu tersedia di pasaran. Tapi, dengan manajemen dan jumlah karyawan terbatas, hak buruh pabrik untuk mendapatkan libur kerap kali dikesampingkan. Itu pula yang terjadi di pabrik tempat saya bekerja. Saya sempat menyarankan menambah 2-3 pegawai baru supaya hak libur ketika tanggal merah dan hari minggu terjamin. 

Baca Juga:

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang

Akan tetapi, budaya di sana membuat saya bingung dan mengernyitkan dahi. Katanya, tanggal merah selain hari keagamaan Islam tetap dianggap masuk, bukan libur. Alasannya tidak masuk akal, kebanyakan pekerja di sana beragama Islam sehingga tanggal merah yang berkaitan dengan hari keagamaan agama lain tidak dianggap. Jelas hal itu mengesampingkan hak buruh yang beragama selain Islam.

Budaya kerja yang aneh

Hal aneh lain, mereka menganggap usul saya untuk mencari tambahan pekerja supaya buruh pabrik mendapat satu hari libur itu berlebihan. Mereka tidak setuju karena mengaku suka lembur di pabrik. “Kalau gitu kasian kita yang ingin mendapatkan lemburan,” kata salah seorang senior saya. Komentar lain, Salah seorang rekan kerja saya yang lain memberikan jawaban yang tidak kalah menohok. “Saya suka lembur karena saya suka uang,” ucap dia.

Buruh pabrik yang suka lembur bisa jadi pertanda soal masalah yang lebih besar. Pertama, apa memang gaji mereka begitu kecil dan tidak terjamin sehingga perlu uang tambahan dari lembur? Kedua, bagaimanapun kerja pabrik itu kerja fisik, apa tidak berbahaya kalau kebanyakan lembur? Bagaimana kalau terjadi kecelakaan kerja karena kelelahan? Apa memang tidak ada pengawasan terkait itu? Ketiga, bukankah kalau banyak lembur perusahaan juga rugi karena cost untuk pekerja membengkak? Apa hal itu tidak terlintas di benak pihak perusahaan? Pertanyan-pertanyaan itulah yang terlintas di kepala. 

Selain soal lembur pekerjaan, perusahaan ini melarang buruh pabrik untuk berserikat. Kalau ketahuan ada buruh yang berserikat, otomatis akan dipecat. Para buruh mengikuti begitu saja aturan itu, sebab siapa yang mau dipecat di tengah lapangan kerja yang serba sulit seperti sekarang ini.  

Di atas pengalaman saya bekerja banting setir dari wartawan jadi buruh pabrik. Banyak culture shock-nya memang. Saya tidak menyangka nasib buruh outsourcing sebegini terjepit, mulai dari tanggung jawab tidak sesuai dengan posisi kerja, kemungkinan masuk di tanggal merah, budaya lembur yang aneh, hingga tidak boleh berserikat. 

Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Banting Setir di Dunia Kerja Nggak Selamanya Indah, Pahami Risikonya sebelum Menyesal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2025 oleh

Tags: Buruhburuh pabrikmediapabrikwartawan
Muhammad Afsal Fauzan S.

Muhammad Afsal Fauzan S.

Mantan wartawan yang jadi programmer dan web developer di pesantren. Sudah menulis sejak 7 tahun lalu. Suka baca buku sambil ngopi.

ArtikelTerkait

3 Sisi Gelap Profesi Buruh Pabrik (Unsplash.com)

3 Sisi Gelap Profesi Buruh Pabrik

10 September 2022
Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpami Orang Desa Saya terminal mojok

Wartawan Adalah Profesi yang Sering Disalahpahami Orang Desa Saya

4 Juni 2021
Menjadi Buruh Pabrik Adalah Keputusan Terburuk dalam Hidup Saya, Pantas Gen Z Tidak Betah

Menjadi Buruh Pabrik Adalah Keputusan Terburuk dalam Hidup Saya, Pantas Gen Z Tidak Betah

10 Mei 2025
5 Alasan Meme Buruh Pabrik Karawang VS Karyawan SCBD di Twitter Jobstreet Pantas Digugat

5 Alasan Meme Buruh Pabrik Karawang vs Karyawan SCBD di Twitter Jobstreet Pantas Digugat

21 April 2022
asisten penulis mojok

Pengalaman Saya Menjadi Asisten Penulis dengan Gaji 1000 Rupiah per 100 Kata

29 Oktober 2020
Ironi Purbalingga: Kota Industri, tapi Warganya Lebih Memilih Cari Kerja di Daerah Lain Mojok.co

Ironi Purbalingga: Kota Industri, tapi Warganya Lebih Memilih Cari Kerja di Daerah Lain

24 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

30 Maret 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.