Saya sepertinya sudah beberapa kali menulis di Mojok tentang macetnya Tol Jakarta-Tangerang (Tol Janger). Semoga kamu tidak bosan membacanya karena sampai detik ini kawasan tersebut masih konsisten padat. Sebagai warga Tangerang yang bekerja di Jakarta Pusat dan tidak ngekos, jujur saya sudah di tahap muak saking lelahnya. Level sabar warga Tangerang yang melintasi jalanan tersebut sudah di atas rata-rata.
Jalan tol yang menjadi penyambung antara Jakarta dan wilayah Tangerang sampai Merak ini tidak pantas disebut bebas hambatan. Alih-alih lancar jaya, yang ada malah antrian panjang berbagai jenis kendaraan. Ada mobil pribadi, bus umum, bus AKAP, sampai truk transformer. Kalau nyimak medsos, sudah banyak orang yang mengeluhkan perkara ini tapi belum terlihat hilal kebijakannya. Setiap hari pulang pergi harus begini, apa nggak stres di jalan?
Kemacetan luar biasa ini tidak hanya terjadi saat weekday saja, hari Sabtu dan Minggu pun terlihat mengenaskan. Kalau saya punya energi berlebih, kayaknya mending jalan kaki menyusuri pinggir tol sampai ke Tangerang deh. Menghadapi kemacetan di jalur ini menguji segalanya, ya kesabaran, emosi, sampai kekuatan kaki.
Macet 2-3 jam itu sudah jadi makanan warga Tangerang sehari-hari
Warga Tangerang sudah khatam dengan kemacetan luar biasa di Tol Janger. Jadi, kalau kalian mengeluh kena macet 30 menit saja, belum apa-apa dibanding kami. Terjenak di jalan 2-3 jam merupakan makanan sehari-hari dan tidak bisa dihindari. Saya adalah salah satu korbannya. Kemacetan terparah terjadi setelah jam 6 pagi, rasanya lebih cepat kalau saya jalan kaki.
Setelah saya amati, kondisi ini bukan hanya karena ada kecelakaan atau perbaikan jalan. Tidak sedang terjadi apa-apa juga tetap macet, mungkin karena volume kendaraan yang melintas tidak terkendali ya. Apalagi yang melintasi Tol Jakarta-Tanegrang bermacam-macam jenisnya, mulai dari mobil kecil sampai truk angkut motor pun lewat sini. Kebayang kan semrawutnya seperti apa. Belum lagi kalau ada truk mogok, ya sudah pasrah.
“Emang nggak bisa naik KRL?” ini pertanyaan yang sering dilontarkan teman saya. Ya bisa saja saya naik kereta, tapi stasiunnya jauh banget. Tol Janger inilah yang paling cocok buat saya yang tinggal di pinggir Tangerang. Konsekuensi tinggal di antah berantah. Untung fisik dan mental sudah sekuat baja.
Truk besar dan aspal hancur, penyebab utama kemacetan Tol Jakarta Tangerang
Saya heran kok bisa ya jalan tol yang harusnya aman dan nyaman, tapi malah bikin penggunanya stres. Belakangan ini banyak pengendara curhat di medsos tentang Tol Janger yang aspalnya bopeng dan hancur. Pantas saja kemacetan tak bisa dihindari karena semua yang lewat berjalan pelan-pelan. Jika tidak, kendaraanmu akan rusak dan bahkan bisa celaka. Sepertinya sering ada perbaikan tapi kok setengah-setengah?
Selain jalan rusak, terdapat banyak truk besar melintasi Tol Janger yang akan menuju kawasan Merak sekitarnya. Jenis truknya beragam, mulai dari Golongan III sampai Golongan V yang berjenis kontainer, tronton, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, bus AKAP pun tak mau kalah eksis meramaikan tol yang tidak pernah sepi ini. Jadi kalau kamu pakai mobil kecil lewat sini, banyakin doa dan sabarnya aja ya.
Padahal sudah ada aturan tertulis bahwa para truk ini hanya bisa berjalan di lajur 1 dan 2 atau sisi kiri jalan tol dengan kecepatan minimum. Prakteknya, masih banyak truk besar dengan santainya melaju di lajur 3 dan 4 dengan ugal-ugalan. Entah apa yang dikejar.
Jalan tol paling absurd di Jabodetabek, belum ada lawan
Sebagai orang Tangerang pengguna jalan tol di area Jabodetabek, saya akui Tol Janger merupakan yang paling absurd. Kemacetan yang terjadi bukan hanya semata-mata karena ada kecelakaan atau perbaikan, tapi nggak ada kejadian apapun tetap stuck.
Di sisi lain, truk mogok menjadi penyebab kemacetan lain. Ngggak cuma sesekali, hampir ada saja truk macet setiap hari. Mulai dari patah as roda, pecah ban, dan lain sebagainya yang pastinya mengganggu perjalanan.
Ternyata bukan saya saja yang ngedumel, para pengguna lain juga sering mengeluhkan hal yang sama di medsis. “Jalan tol paling nggak jelas” ucap mereka di salah satu konten kesibukan di Tol Jakarta Tangerang. Kayaknya kalau saya lewat tol lain seperti Tol Jagorawi atau Tol Cawang, tidak separah ini sih macetnya.
Saya pernah terjebak di tol ini selama hampir 3 jam karena adanya perbaikan di sekitar Bitung menuju Merak. Seharusnya pihak terkait sudah menyiapkan solusi agar tidak sampai macet, misalnya dengan tidak mengerjakannya di jam sibuk. Lah ini malah pas jam pulang kerja, ambyar lah. Sampai sekarang, masih tetap saja bopeng kok aspalnya.
Bingung harus mengadu ke siapa, seperti tidak ada yang peduli
Saya sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Tol Jakarta Tangerang, tapi makin hari makin tidak terkendali. Saking lelahnya, saya sampai bingung mau mengadu ke siapa terkait masalah ini. Misal harus berkeluh kesah ke pihak Jasa Marga, apakah akan langsung ditindaklanjuti? Bukan hanya saya saja, tapi ribuan orang yang lewat tol tersebut kena imbasnya.
Waktu itu, sepertinya Komisi III DPR RI sempat menyinggung kemacetan parah di Tol Jakarta Tangerang yang semakin meresahkan ini. Hanya saja sampai sekarang belum ada penanganan khusus, masih terlihat kondisi yang sama. Semakin lama semakin tidak kondusif dan semua pengguna harus menahan kelelahan karena terlalu lama di jalan.
Padahal sudah banyak keluhan yang datang dari masyarakat melalui media sosial. Semoga cepat tertangani, ya.
Sampai tulisan ini dibuat, Tol Jakarta Tangerang dan sebaliknya masih dengan kepadatannya yang luar biasa. Kapanpun itu, dari pagi sampai malam ketemu pagi lagi. Kesabaran dan kekuatan orang Tangerang itu ada batasnya loh. Capek banget!
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















