Keberadaan bioskop di Klaten beberapa waktu lalu sudah jelas membuat saya sebagai warga Bantul agak gigit jari. Pasalnya, Klaten dan Bantul tak jarang menjadi wilayah yang dibanding-bandingkan keunikannya.
Kemudian, gebrakan lain muncul, bahkan di daerah yang lebih dekat dengan Bantul, yakni Gunungkidul. Iya! Gunung Kidul sekarang juga memiliki bioskop!
Lalu, kalau warga Bantul ingin menonton film, mereka harus ke mana? Ya, lumrahnya ke Kota Jogja atau Kabupaten Sleman karena bioskop hanya ada di sana.
Namun, tetap saja, buat saya, pergi menonton bioskop itu bukan sebuah kegiatan yang memiliki urgensi tinggi.
Dari ketiadaan bioskop dan mal di kabupaten ini, akhirnya saya melakukan observasi mengenai tontonan apa yang sejatinya difavoritkan oleh warga Bantul. Dan, kenyataannya, ketiadaan bioskop sesungguhnya tidak berdampak signifikan bagi anak muda Bantul.
Tidak ada mal dan bioskop yang berdiri di Bantul
Pertama, mungkin saya harus jelaskan kembali bahwa Bantul itu tidak memiliki mal karena secara hukum, memang ada peraturan yang mengatur mengenai pembangunan mal atau pusat perbelanjaan di daerah ini.
Namun, jika ingin dilihat dari alasan yang menggelitik, mungkin saja tidak adanya mal di Bantul karena maraknya aksi klitih yang mengganggu ketentraman warga.
Begitu pula dengan keberadaan bioskop, menurut saya, akan sulit menentukan daerah mana di Bantul yang cocok untuk mendirikan bioskop. Misalnya, bayangkan jika bioskop dibangun di daerah Kasihan, tanpa mal mewah pun wilayah ini sudah macet, boro-boro ditambah gedung bioskop. Atau dibangun di Banguntapan? Wilayah tersebut sudah terlampau powerful!
Lebih ramai penonton jathilan dan panggung dangdut
Selain bingung soal kemungkinan wilayah mana bioskop akan didirikan, alasan yang cukup personal, menurut pengamatan saya adalah alih-alih menonton bioskop, saya merasa warga Bantul lebih tertarik dan semangat menonton tradisi jathilan dan dangdut koplo.
Ini serius lho. Sebab, setiap ada acara jathilan atau dangdut koplo dihelat oleh warga setempat, entah bagaimana caranya, kabar tersebut bisa meluas hingga ke daerah lain dan menjadikan para pedagang terpanggil untuk berbondong-bondong menggelar lapaknya di sana.
Itu pula yang memanggil para warga untuk turut datang menyaksikan dan meramaikan acara tersebut.
Pertandingan voli antar kampung intensitasnya setara Proliga
Selain jathilan dan dangdut koplo, warga desa di daerah Bantul juga akrab dengan olahraga voli. Makanya, jangan diragukan lagi betapa meriahnya pelaksanaan pertandingan voli antar kampung di sini.
Meskipun hanya antar kampung, tapi intensitas pertandingannya bisa setara Proliga ketika tim LavAni melawan Bhayangkara Presisi, lho!
Pertandingan voli semacam ini pun tidak terbatas usia dan gender, makanya sajian permainan di lapangan selalu heboh dan tidak tertebak.
Terlebih acara semacam ini dilakukan saat malam hari, jadi banyak orang bisa menonton karena sudah memiliki waktu luang.
Melihat atraksi burung dara di Pasty Bantul
Ini sudah pernah saya cantumkan sebagai bagian dari ide pacaran di Bantul. Teruntuk para pembaca, yang menyukai hewan, terutama burung, setiap siang hingga sore hari, di sekitar Pasar Satwa dan Tanaman Hias (Pasty) banyak bapak-bapak yang melakukan aksi menerbangkan burung dara. Dan, saya yakin ini juga menjadi tontonan favorit warga Bantul saat luang.
Jadi, Bantul tanpa mal dan bioskop itu nggak bikin warganya sengsara dan gairah anak mudanya mati, kok!
Kami malah tetap hidup bahagia, ya karena kami punya kegiatan-kegiatan semacam ini tadi yang nggak kalah serunya dengan menonton bioskop. Yakin, nih masih meragukan kabupaten satu ini?
Penulis: Cindy Gunawan
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















