Tutorial Main Layangan for Dummies: Cara dan Etika Dasar Memainkannya – Terminal Mojok

Tutorial Main Layangan for Dummies: Cara dan Etika Dasar Memainkannya

Featured

Di desa saya yang kebanyakan sawahnya sekarang jadi perumahan, ngundha atau menaikkan layangan adalah sesuatu yang jadi langka. Padahal, ia adalah sumber daya yang bisa diperbaharui. Manusia yang ngundha layangan pun tiap tahun kian meningkat saja, padahal program KB masih ada. Persoalannya adalah tempat. Di daerah saya, faktor ini yang menyebabkan musim angin, tapi sepi para pengendali angin layangan.

Sejak pandemi, kebanyakan tempat dikosongkan. Lapangan yang biasanya digunakan kampanye atau mepe gabah pun berkurang. Maka, terciptalah ruang sekaligus waktu bagi para pengendali layangan ini uji coba. Para generasi baru, seakan kagok. Para manusia tanggung seperti saya—yang pernah mencicipi kerasnya dunia perlayangan—menjadi allenatore dadakan bagi para generasi baru ini.

Ada yang cepat menerima, ada pula yang lambat. Bagi anak-anak yang ponselnya Xiaomi dan ASUS, tergolong cepat menerima materi seputar layangan. Sedangkan mereka yang ponselnya iPhone, tergolong lambat. Itu yang saya amati sekilas. Pasalnya, mereka yang ponselnya Xiaomi dan ASUS, terbiasa dengan panas terik di tangannya.

Sebagai juara bertahan ngundha layangan di sektor Imogiri, saya akan berbagi ilmu. Terutama bagi kalian yang ingin turut serta dalam kancah dunia perlayangan ini.

Langkah pertama, pilih layangan sesuai kriteria yang Anda inginkan. Jika kalian mau ambil kelas berat, beli dengan lebar lebih 80 senti. Jika mau kelas menengah, ambil yang 30 senti. Kalau mau ikut kelas ringan, pulang ke rumah saja terus bobok siang. Lha piye, layangan 1-5 senti memang ada, tapi nanti bakal kegasruk dengan lainnya.

Kemudian, pilih tali guci yang mematikan menurut kalian. Zaman saya dulu namanya cap Kobra, nggak tahu sekarang jadi cap Piton atau Boa Hancock. Terpenting, dalam memilih tali guci atau benang gelasan (kalau ini sudah dimodifikasi), Anda harus negosiasi sebaik mungkin kepada bakul. Jika hati sang bakul telah Anda dapatkan, bendrong terbaik di toko itu akan blio berikan kepada Anda. Jangan lupa, gigihlah untuk menjadi pengendali layangan terbaik di desa.

Langkah kedua, Anda harus memodifikasinya sebaik mungkin. Ada beberapa jenis,

Satu, hitam. Warna ini artinya intimidatif. Kalian menyatakan diri sebagai petarung.

Dua, merah. Warna ini mengandung sifat ofensif.

Tiga, putih. Warna ini biasa, tapi motifnya yang biasanya memberi kesan intimidatif. 

Empat, kuning. Itu artinya sedang ada lelayu. Ada baiknya jangan ngundha layangan.

Privilese khusus adalah bagi mereka yang mengenakan gathilan atau buntut di layangannya. Entah aturan dari mana, di desa saya, jika ada layangan yang memiliki buntut, itu artinya tidak boleh diserang. Namun, pengguna ini kadang kemlinthi. Ia tidak boleh diserang, tapi nyok-nyok malah mereka yang nyerang. Cen begundal langit ndesa.

Langkah ketiga, Anda pasang kuda-kuda senyaman mungkin. Gunakan kaki terbaik Anda sebagai tumpuan. Bagaimana cara ngecek kaki terbaik? Gampang, jika ada bal-balan di desa, ikuti saja. naluri mencetak golmu akan ditentukan ketika menendang dengan kaki kanan atau kiri. Jika kedua kaki Anda nggak bakat ngegoli, berarti posisi Anda cocoknya jadi kiper atau cadangan saja. Beban tim!

Cari partner adalah kondisional. Ketika angin sedang baik, sebaiknya nggak usah. Namun, ketika angin sedang sedikit atau medan tempur Anda di antara dua bangunan (angin susah masuk) pencarian partner adalah hal terbaik. Pilih saja seadanya. Toh partner kita ini cuma buat nggoceki layangan kita ketika hendak landing.

Langkah keempat, ketika ia sudah landing, jentik kanan Anda harus ngetril sedikit. Itu berguna untuk ngatur angin. Ketika dirasa angin sudah memenuhi, tali guci Anda harus diolor perlahan. Sekitar lima atau sepuluh senti per oloran. Nah, tangan kanan menjaga tali guci, tangan kiri (menyisakan empat jari) ngolor. Begini formasinya; jentik ngetril, jempol dan jari lainnya bersatu.

Ngolor layangan ini ada tekniknya. Bagi Anda yang newbie, ada baiknya ngolor sambil berjalan mundur. Namun, lihat sekitar dulu. Mundur ini berguna untuk menambah angin yang diterima si layangan. Nah, bagi Anda yang levelnya setara dengan Mythic, posisi diam pun jika ngolornya tepat, akan menambah akumulasi angin dengan sendirinya.

Langkah kelima, ketika layangan sudah di atas, tepati norma-norma aturan yang ada. Biasanya, tiap tempat berbeda. Azan Asar itu artinya water-break. Tidak boleh ada yang nyerang. Ketika azan sudah selesai, penyerangan dilakukan sebaik-baiknya.

Utamakan jari Anda harus menyempurnakan kendali serangan. Biasakan dahulu luruk layangan (manuver dan penetrasi). Layangan gacoanmu itu harus nggak nggondok alias terdiam dan tidak bergerak aktif. Juga, layangan harus sehat walafiat. Ketika dirasa sudah terbiasa dan dalam kondisi prima, ikutlah medan pertempuran.

Biasanya, layangan yang besar, jika diserang melalui sayap kanan akan keteteran. Layangan kecil, serang dari area defensif mid-field atau anak kampung saya menyebutnya area mburi. Walau pengecut, yang penting layanganmu nggak tatas.

Fun fact tambahan: hindari senar yang menggunakan cap nama-nama hewan semisal; cobra, macan, hingga pitik. Utamakan serangan bagi pengguna senar jenis mentari, gasing, dan nama-nama nggak wangun lainnya. Jangan by one sama pengguna benang gelasan yang sudah dilumuri oleh pecahan kaca dan lem.

Jika layangan Anda tatas, ikuti terus di mana letak jatuhnya. Hal ini agar tidak ada senar yang ngelewer dan membahayakan. Biasanya, persaingan mencari layangan tatas ini sangat ketat. Ada geng Akatsuki atau kolik, ia akan merebut dan ikut memburunya padahal mereka nggak bermain.

Nah, itu dia cara-cara terbaik agar menjadi top global layangan di desa, atau bahkan seperti saya, top global kecamatan. Selamat mencoba. Utamakan keselamatan dan jangan tinggalkan sebuntal benang pun ketika layangan Anda tatas.

BACA JUGA Nostalgia Bermain Layangan dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Dilema Landak, Ketika Kedekatan yang Bikin Nyaman Bisa Berubah Saling Menyakiti

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.