Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tumini, Tunggal Rasa, dan Afui: Mana Mi Ayam Terbaik di Yogyakarta?

Raynal Payuk oleh Raynal Payuk
1 Januari 2021
A A
Tumini, Tunggal Rasa, dan Afui: Mana Mi Ayam Terbaik di Yogyakarta? terminal mojok.co

Tumini, Tunggal Rasa, dan Afui: Mana Mi Ayam Terbaik di Yogyakarta? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa sih yang nggak suka mi ayam? Kudapan satu ini jadi favorit banyak orang termasuk saya. Hampir setiap 2-3 hari sekali saya memakannya. Di Yogyakarta sendiri ada banyak penjual mi ayam, dan beberapa di antara mencapai status legendaris. Di list kali ini saya akan menilai beberapa penjual mi ayam kondang di Yogyakarta.

Demi inklusivitas terhadap keberagaman selera mi ayam masyarakat, saya memilih tiga penjual mi ayam Yogyakarta dengan gayanya masing-masing. Tujuannya untuk mencegah terjadinya kerusuhan antara kelompok Jakarta dan Wonogiri. Sebelum saya dinyatakan sebagai pro atau anti mi ayam tertentu, kita langsung saja masuk ke daftarnya.

#1 Mi Ayam Tumini

Penjual mi ayam pertama ini bisa dibilang yang paling terkenal sejagat Yogyakarta walaupun basis operasinya di batas selatan kota. Terkenal akan kuah ayam kecap kental, mi ayam Tumini menganut paham Wonogiri garis keras. Saking kerasnya, toping ayam di Tumini lebih mirip semur daripada yang biasa ditemukan pada gerobak penjual mi ayam Wonogiri lainnya.

Lantaran saya pendatang dari luar kota dan besar dari keluarga asal luar pulau, mi ayam di sini terlalu kemanisan menurut saya. Namun, ini juga yang mungkin membuat warung ini selalu tidak pernah sepi penduduk. Memang masyarakat Yogyakarta terkenal cinta kuliner manis, jadi kepopuleran Tumini di kalangan penggemar mi ayam Kota Gudeg, tidak mengejutkan. Buat penganut paham Wonogiri, Mi Ayam Tumini adalah tempat ziarah yang tidak boleh dilewatkan.

#2 Mi Ayam Tunggal Rasa

Jika Tumini menganut paham Wonogiri garis keras, Mi Ayam Tunggal Rasa menganut paham Wonogiri progresif. Ia terletak di Jalan Unggaran, Kota Baru ini bahkan punya lebih dari 20 variasi mi. Beberapa konsep baru yang ditemukan Tunggal Rasa adalah mi ayam hijau dan mangkok pangsit. Menu pertama adalah mi ayam biasa cuma minya berwarna hijau dari pewarnaan menggunakan daun sawi. Sedangkan menu kedua adalah mi ayam disajikan dalam mangkok pangsit goreng.

Menurut saya, ia cukup memuaskan terutama menu variasi unik hasil eksperimen si mas-mas penjualnya. Katanya, mi di tempat ini dibuat sendiri sehingga terasa lebih kenyal. Cuma keuntungan utama makan di sini adalah keberadaan toples acar timun dan daun bawang cuma-cuma pada setiap meja. Bagi kalian pecinta daun bawang dan jomblo, jadi nggak masalah dengan mulut bau, inilah warung yang tepat buat Anda.

Baca Juga:

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

Saya Semakin Muak dengan Orang yang Bilang Jogja itu Nggak Berubah Padahal Nyatanya Bullshit!

#3 Mi Ayam Palembang Afui

Untuk catatan saya sudah ogah berdebat mana mi, mana yammi. Jadi saya cuma ikutin identifikasi pedagang mi ayamnya sendiri, apakah dia masuk golongan mi atau yammi. Lagipula di tempat asal saya, semua yang warnanya kuning keputih-putihan dan panjang itu disebut mi. Kalau bentuknya pipih baru dibilang kwetiau dan kalau tipis banget kaya serabut, itu namanya bihun. Jadi mau kuah pisah atau kuah campur, tetap aja dibilang mi.

Lantaran Afui mengikuti pakem asal luar pulau, yaitu Palembang, makanya mereka menyatakan diri sebagai mi ayam. Walaupun teologi kuah pisah mungkin membuat sebagian warga Yogyakarta nggak setuju dengan klasifikasi ini. Satu hal yang semua orang setuju, mi di sini murah meriah dan kenyangin. Kamu bayangin, dengan harga 14 ribu saja, kamu bisa dapat porsi super dengan besar setengah baskom air (saya nggak bercanda).

Kadang kalau saya lagi bokek dan berencana makan sekali saja hari ini, Afui jadi pilihan nomor satu. Belum lagi cabang Afui memang sengaja dibuka dekat dengan kampus seperti di Babarsari dekat Atma Jaya atau Jakal Bawah dekat UGM. Baik segi harga dan jarak lokasi, Afui memang paling top buat mahasiswa.

Namun jangan salah, mi ayam di Afui menurut saya salah satu favorit saya dari segi rasa di Yogyakarta. Cuma saya sarankan pesan porsi kecil saja dan maksimal mini jumbo. Makin gede porsinya, makin nggak merata adukan bumbu di mi ayamnya. Maklum, ngaduk mi porsi segede gitu pakai sumpit juga bisa bikin saya capek. Kalau kurang bumbu, bisa minta kecap asin sama mas-masnya karena mi di sini condong lebih berbumbu gurih asin.

Babak Tambahan: Mi Ayam Bangka Pak Harun

Kebetulan saya memang dari kecil diajak sama orang tua makan mi ayam gaya Tionghoa seperti rasanya gurih asin, kuah pisah, dan pilihan sayurnya lebih dari sekedar sawi. Akibat saya sempat ngidam mau makan mi ayam khas Bangka seperti di dekat rumah ortu saya, akhirnya saya menemukan warung Pak Harun di Jalan HOS Cokroaminoto.

Perbedaan utama dari mi ayam Bangka selain rasa dan penyajian kuahnya, adalah keberadaan toge segar di dalamnya. Mungkin ini dianggap aneh buat warga asli Yogyakarta. Akan tetapi, buat kalian yang belum pernah rasakan, saya sarankan cobain dulu sebelum menilai.

Kalau penjual mi ayam Bangkanya bagus seperti di Pak Harun, semua sayurnya dari sawi hingga toge tetap bakalan krenyes waktu digigit bersama mi yang kenyal. Tekstur unik dari mi ayam Bangka membuat saya rela mempertahankan mati-matian akan hak toge untuk tetap eksis di dalam mangkuk mi ayam kita.

Kita bisa berdebat panjang lebar kalau mau bicara mi. Apalagi kalau orang pendatang sudah debat soal beda mi dan yammi dengan warga asli Yogyakarta. Bisa membuat acara santap kudapan kenyal ini jadi runyam. Jadi apa pun pakem yang ada anggap terbaik, ingat bahwa kita semua menyantap makanan sama dengan kalori super tinggi. Berbeda-beda tetapi tetap diabetes juga.

BACA JUGA Pemburu Mie Ayam Sejati Tidak Akan Pilih-pilih Soal Mie Ayam dan tulisan lainnya dari Raynal Arrung Bua.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Desember 2020 oleh

Tags: mi ayamtuminiYogyakarta
Raynal Payuk

Raynal Payuk

Mantan Pers Kampus Dalam Pencarian Jati Diri dan Pekerjaan. Saat ini menjadi seorang pemikir yang sedang berusaha memecahkan paradoks tertua umat manusia

ArtikelTerkait

Jogja Berkata: Rene-Rene Sambat!!!

Rekomendasi Tempat Sambat Yang Pas Saat Kamu di Jogja

5 Januari 2020
4 Bahan Makanan yang Cocok dengan Lidah Orang Jawa

Tiga Jenis Mi Ayam yang Sebaiknya Dihindari saat Berburu Mi Ayam

27 April 2020
Saoto Bathok Mbah Katro, Soto Unik dengan Rasa yang Ciamik

Saoto Bathok Mbah Katro, Soto Unik dengan Rasa yang Ciamik

4 Februari 2022
Bus Bojonegoro–Ngawi, Bus Kualitas Seadanya, tapi Jadi Pilihan Terbaik untuk Menuju Yogyakarta

Bus Bojonegoro–Ngawi, Bus Kualitas Seadanya, tapi Jadi Pilihan Terbaik untuk Menuju Yogyakarta

23 Maret 2024
KLa Project Adalah Satu-Satunya Band yang Bisa Bikin Lagu Patah Hati yang Nggak Terdengar Cengeng

KLa Project Adalah Satu-Satunya Band yang Bisa Bikin Lagu Patah Hati yang Nggak Terdengar Cengeng

21 Desember 2023
Titoti Wonogiri, Warung Bakso dan Mi Ayam yang Wajib Kalian Kunjungi Sebelum Mati

Titoti Wonogiri, Warung Bakso dan Mi Ayam yang Wajib Kalian Kunjungi Sebelum Mati

2 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.