Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Sejak awal kuliah, saya termasuk mahasiswa yang cukup percaya bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah salah satu kunci masa depan. Oleh karena itu, saya berusaha menjaga nilai sebaik mungkin dengan rajin masuk kelas, mencatat materi, dan mengerjakan tugas tepat waktu. 

Setiap melihat IPK di portal akademik naik sedikit saja, rasanya seperti mendapat validasi bahwa hidup saya masih berada di jalur yang benar. Yah, meskipun jalur itu kadang terasa seperti jalan berkabut yang belum jelas arahnya.

Masalahnya baru terasa ketika saya mulai mendekati semester akhir. Setelah sekian lama sibuk mengejar angka di transkrip nilai, saya justru mulai bertanya pada diri sendiri. Setelah ini sebenarnya saya mau jadi apa? 

Pertanyaan yang kelihatannya sederhana itu malah terasa lebih sulit ketimbang menjawab soal ujian esai lima halaman. Ironisnya, saya tidak sendirian. Banyak teman yang IPK-nya sama-sama aman, tapi kalau soal rencana setelah lulus, jawabannya kurang lebih sama: “Lihat nanti aja, yang penting lulus dulu cumlaude.”

Baca juga: Kuliah di Kampus Favorit, Belajar Setengah Mati demi IPK Tinggi tapi Mental Remuk karena Kampus Cuma Peduli Angka, Bukan Manusia

Mengejar IPK seolah itu tiket masa depan

Sejak menjadi mahasiswa, ada satu angka yang terasa sangat penting, yaitu IPK. Sejak lama, kita mendapat asupan kepercayaan bahwa IPK tinggi adalah tanda mahasiswa yang berhasil. 

Akhirnya, semua mahasiswa melakukan berbagai macam strategi demi menjaga angka itu tetap aman. Dari rajin mencatat di kelas, memilih dosen yang “ramah nilai”, sampai membentuk kelompok belajar yang sebenarnya lebih sering untuk saling berbagi jawaban tugas.

Saya pernah berada di fase itu. Setiap semester rasanya seperti kompetisi kecil dengan diri sendiri, jangan sampai nilai turun. Anehnya, semakin tinggi nilai IPK, muncul perasaan aneh yang saya sendiri sulit menjelaskannya. 

Saya berhasil memenangkan perlombaan angka di transkrip nilai. Tapi, saya belum tentu memenangkan perlombaan memahami hidup saya sendiri.

Ketika IPK tinggi tidak menjawab apa-apa

Masalahnya mulai terasa ketika memasuki semester akhir. Saat pembicaraan teman-teman mulai bergeser dari tugas kuliah menjadi rencana setelah lulus, saya mulai sadar bahwa IPK ternyata tidak selalu memberi jawaban.

Ada teman yang IPK-nya hampir sempurna, tapi masih bingung ingin bekerja di mana. Ada juga yang rajin kuliah bertahun-tahun, tapi ketika ada yang tanya soal cita-cita, dia justru terdiam lama.

Ironisnya, kita sering menghabiskan bertahun-tahun untuk mengejar angka di kertas, tapi jarang benar-benar diberi ruang untuk memikirkan satu hal sederhana. Kita sebenarnya ingin menjadi siapa?

Baca juga: Jangan Remehkan Mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma): Mereka Menyelamatkan Saya dari Kehidupan Kampus yang Monoton

Belajar bahwa kuliah tidak hanya soal nilai

Semakin lama saya sadar bahwa kuliah seharusnya tidak hanya soal IPK. Nilai memang penting, tapi ia bukan satu-satunya hal yang menentukan arah hidup seseorang. 

Ada banyak hal lain yang justru lebih menentukan. Misalnya, pengalaman, keberanian mencoba, bahkan keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu mau ke mana.

Mungkin karena itulah banyak mahasiswa yang akhirnya merasa kebingungan di semester akhir. Kita terlalu lama fokus mengejar angka, sampai lupa bahwa kuliah juga seharusnya menjadi tempat untuk mengenal diri sendiri.

Dan di tengah kebingungan itu, saya kadang merasa satu hal yang menenangkan. Mungkin benar bahwa Tuhan masih bersama mahasiswa yang sibuk mengejar IPK, meskipun mereka sendiri masih bingung akan menjadi apa setelah lulus nanti.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Nasib Jadi Mahasiswa FBS UNY yang Lulus dengan Predikat IPK Terendah Sefakultas: Diketawain Dosen, Bikin Malu Orang Tua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version