Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
31 Januari 2026
A A
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, saya membaca salah satu artikel di Mojok berjudul “Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham”, yang ditulis oleh Nadia Dwi Apriani. Sejak membaca judul, saya langsung dejavu, sebab ketika masih kuliah, saya merasa demikian. Maksudnya tentang tugas presentasi mahasiswa.

Saya pernah diskusi dengan teman saya betapa sia-sianya sistem presentasi di perkuliahan. Namun, ketika sudah lulus, dan akhirnya menjadi dosen, saya merasa masalahnya bukan di metodenya, melainkan pelaksanaan. Saya merasa perlu menulis ini untuk memberikan sudut pandang lain.

Saya tidak membantah sepenuhnya artikel tersebut, toh sebenarnya di akhir artikelnya, blio mengatakan, “Kalau dirancang dengan baik dengan sumber jelas, kelompok yang proporsional, evaluasi dosen, dan penjelasan yang baik, presentasi bisa jadi metode belajar yang efektif.” Artinya dia sudah sadar bahwa kesalahannya bukan di metode presentasi.

Presentasi mahasiswa itu memang harus salah, bukan langsung benar

Keluhan pertama yang dalam artikel tersebut adalah: mahasiswa disuruh mencari materi sendiri, tapi tidak diberi arahan sumber yang benar. Lalu akibatnya copas, bingung, dan tidak paham.

Mohon maaf, dengan segala hormat, saya ingin mengatakan bahwa pendidikan memang mengutamakan proses. Iya, dalam belajar memang perlu salah dulu, memang nggak harus langsung bisa. Dan itu wajar.

Dalam pendidikan, ada konsep discovery learning. Mahasiswa memang perlu merasakan bingung, salah pilih sumber, bahkan keliru memahami istilah. Kenapa? Karena belajar bukan proses instan. Kalau sejak awal semua sudah disuapi (jurnalnya apa, halaman berapa, kesimpulannya apa) lantas apa bedanya sama anak SD?

BACA JUGA: Terberkatilah Para Tukang Presentasi Tugas Kuliah Snob

Cara belajar paling efektif adalah mengajar

Ada satu prinsip klasik yang sering dilupakan: seseorang baru benar-benar bisa memahami materi jika ia bisa menjelaskan ke orang lain. Dalam praktiknya, tugas presentasi mahasiswa itu memaksa mahasiswa untuk membaca, menyusun logika, lalu mengucapkan ulang dengan bahasanya sendiri agar teori ndakik-ndakik jadi mudah dipahami.

Baca Juga:

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered

Kalau masih membaca slide, artinya ia belum sampai tahap paham, dan tidak apa-apa juga. Masih ada semester selanjutnya untuk berkembang lebih baik lagi. Jadi, tugas presentasi mahasiswa bukan hasil akhir. Ia adalah proses. Menilai presentasi seolah ia produk final itu tentu keliru sejak dari pikiran.

Kerja kelompok nggak merata? Selamat datang di dunia nyata

Masih dalam artikel tersebut, keluhan selanjutnya adalah, anggota kelompok banyak, tapi yang kerja cuma itu-itu saja. Yang rajin jadi korban, yang pasif tetap dapat nilai.

Saya paham betul ini menyebalkan. Tapi begitulah hidup. Kalau kata Patrick Star, “Hidup memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu”. Maksud saya, di masyarakat nanti, maupun di dunia kerja juga akan begitu. Tidak semua tim berjalan ideal. Ada yang narik beban, ada yang numpang nama.

Dan bukankah mempelajari realitas juga penting? Agar nggak kagetan sejak awal. Kalau kata Plato, “yang ideal hanya ada di kepala.” Yah, saya kira sudah sangat wajar jika kampus menjadi ruang simulasi di kehidupan nanti.

Soal ChatGPT, masalahnya bukan pada AI

Terakhir, ada juga keluhan soal jawaban presentasi yang terlalu mengandalkan ChatGPT atau AI. Saya tidak menyangkal itu. Di kelas saya, fenomena ini juga sering muncul, terutama di awal semester. Mahasiswa baru presentasi, lalu begitu ditanya, langsung refleks menunduk ke layar HP. Tak lama jawaban muncul dengan rapi dan baku sekali bahasanya.

Tapi jujur saja, ini bukan hal baru. Waktu saya masih kuliah dulu, kami juga melakukan hal yang sama, hanya medianya berbeda. Dulu bukan ChatGPT, tapi Google. Jadi, kalau mau jujur, masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada mentalitas belajarnya.

Dalam mengajar, saya sering menekankan soal keberanian dan penguasaan materi. Saya selalu bilang ke mahasiswa: salah itu nggak apa-apa. Justru dari jawaban salah itu diskusi bisa berjalan.

Meski begitu, saya tidak anti AI. Sama sekali tidak. Bahkan saya merasa kehadiran AI itu anugerah. Sebab, hari-hari ini saya hampir tidak pernah lagi menemui pertanyaan mahasiswa soal definisi istilah, pengertian konsep dasar, atau “Pak, maksudnya ini apa?”. Bukan karena mereka mendadak jenius, tapi karena pertanyaan-pertanyaan dasar itu sudah mereka temukan jawabannya lebih dulu melalui AI.

Kunci masalahnya ada pada pengawalan, bukan presentasinya

Saya sepakat dengan satu kritik besar: tugas presentasi mahasiswa tanpa evaluasi dosen memang percuma. Kalau dosen hanya duduk, diam, maka yang gagal bukan mahasiswanya, tapi desain pembelajarannya.

Jadi, jangan salahkan metodenya, tapi perbaiki praktiknya. Presentasi memang bukan metode yang sempurna. Tapi ia juga bukan biang kesia-siaan. Ia akan efektif kalau tidak dianggap sebagai formalitas, baik oleh dosen maupun mahasiswa.

Dan menurut keyakinan saya, tugas presentasi—dengan segala kekurangannya—masih layak dipertahankan. Bukan agar ada alasan dosen males ngajar, tapi karena proses dan dinamikanya yang membuat mahasiswa belajar. Kalau sejak awal dijelaskan dosen saja, lantas apa kalian bisa menjamin tidak ada yang tidur di kelas?

Apa pun metodenya, semuanya bisa jadi efektif atau justru sia-sia tergantung bagaimana ia dijalankan. Ketika mahasiswa dibiarkan belajar tanpa arah, tanpa umpan balik, dan tanpa ruang untuk salah, wajar kalau kelas terasa hampa. Tapi ketika prosesnya dikawal, kesalahan dihargai, dan diskusi benar-benar dicatat serta ditanggapi, presentasi justru bisa jadi alat belajar yang akan sangat menumbuhkan pemahaman.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA PPT Itu Buat Belajar Presentasi, Bukan Belajar Membaca

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: cara bikin tugas presentasi pakai canvapresentasi mahasiswaslide PPTtugas presentasi mahasiswa
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered Learning

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered

15 Oktober 2025
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.