Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered

Sayyid Muhamad oleh Sayyid Muhamad
15 Oktober 2025
A A
Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered Learning

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered Learning

Share on FacebookShare on Twitter

Student-centered learning di kampus itu bagus, tapi praktiknya begitu cacat dan bikin bayar UKT terasa amat sia-sia

Menggambarkan proses pembelajaran di perguruan tinggi akan dipenuhi diskusi atau asupan materi berkualitas, adalah mimpi di siang bolong. Nyatanya, mahasiswa tak ubahnya sebatas donatur kampus yang selalu memasok pundi-pundi uang tiap semesternya dan diganti dengan mendapat kuliah 2-3 SKS per mata kuliah dari teman sendiri.

ADVERTISEMENT

Saat di mana berangkat kuliah hanya untuk melihat teman kelas mempresentasikan makalahnya secara awut-awutan, maka kalian sudah merasakan apa yang disebut student-centered learning. Yaitu menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran. Lantaran hal ini, jangan heran saat menjumpai mahasiswa semester 5 atau 6 banyak yang masih ngang-ngong saat disuruh mengulas materi kuliah di semester sebelumnya.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan model pembelajaran seperti ini. Hanya saja, menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran haruslah ditopang dengan dosen yang bukan hanya mendengar, tapi ikut membahas. Melihat dosen hanya duduk di belakang, entah mendengarkan atau sibuk scroll TikTok sementara mahasiswa hanya menyimak layar PowerPoint penuh huruf kecil dan teori yang bahkan pembicaranya sendiri tidak paham, jelas memunculkan perasaan mubazir betul membayar UKT tiap semesternya.

Maka, ketika ada yang membayangkan perguruan tinggi adalah ladang lahirnya pemikir kritis, saya hanya bisa tersenyum getir. Bagaimana mau kritis, kalau setiap minggu harus mendengarkan suara teman yang membaca definisi dari Wikipedia sambil salah ucap nama tokoh teori?

Lebih parah lagi, beberapa presentasi sekarang bahkan bersumber dari ChatGPT yang disalin mentah-mentah. Jadinya? Teori psikologi dikutip serampangan dan konsep filsafat dipresentasikan dengan percaya diri tapi ngawur bin gaje. 

Apa itu student-centered learning?

Sebelum jauh membahas kecacatan pelaksanaannya, lebih baik kita pahami dulu apa sebenarnya Student-Centered Learning itu. Secara konsep, metode ini terdengar indah. Katanya, pembelajaran harus berpusat pada mahasiswa. Mahasiswa jadi subjek aktif, bukan objek pasif. Dosen tak lagi jadi sumber tunggal pengetahuan, tapi fasilitator yang menuntun arah diskusi, menciptakan ruang eksplorasi, dan memberi kebebasan agar mahasiswa bisa menemukan makna belajar sendiri. Begitu teorinya.

Dalam jurnal berjudul Contemporary Teaching-Learning Practices: Implementation and Challenges of Student-Centered Learning Approach in Higher Education of Ethiopia disebutkan bahwa Student-Centered Learning bertujuan mengubah ruang kuliah menjadi ruang dialog yang partisipatif, kolaboratif, dan penuh refleksi. Mahasiswa diajak berpikir kritis, menyusun argumen, hingga mampu mengaitkan teori dengan realitas sosial.

Baca Juga:

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Begitu juga dalam penelitian Impacts on Student Learning and Skills and Implementation Challenges of Two Student-Centered Learning Methods Applied in Online Education, disebutkan bahwa pendekatan ini terbukti meningkatkan keterampilan analitis dan kemampuan pemecahan masalah. Tentu kalau dijalankan dengan benar.

Sayangnya, teori seindah itu sering kali berubah jadi parodi ketika tiba di ruang kelas Indonesia. Alih-alih menjadi ajang diskusi yang hidup dan reflektif, kelas sering kali berubah menjadi panggung sandiwara. Mahasiswa maju satu per satu, membaca slide yang disalin dari ChatGPT atau Wikipedia, kadang bahkan tanpa tahu arti istilah yang mereka ucapkan. Sedangkan dosen duduk santai sembari menatap layar laptop atau ponsel, sesekali mengangguk seolah semua baik-baik saja.

Mahasiswa berangkat hanya demi presensi

Sebenarnya angin segar dapat diharapkan dari student-centered learning. Dengan catatan, mahasiswa yang berposisi sebagai audiens bisa memantik pemakalah agar memacu kemampuannya lebih maksimal lagi. Sayangnya, masalah dasar seperti bisa dan mau berpikir kritis pun tidak. Banyak mahasiswa yang datang ke kelas sebatas agar tidak dihitung alfa, dan selebihnya hanya bermain hape sampai jam perkuliahan berakhir.

Itulah masalahnya: bagaimana pembelajaran bisa berjalan efektif jika audiensnya sendiri tidak peduli? Presentasi yang seharusnya menjadi ajang diskusi interaktif, malahan tak ada bedanya dengan khutbah: satu arah saja. Sudah seperti itu, pemakalah hanya membacakan slide satu demi satu, tanpa memaparkan. Interaksi? Nyaris tidak ada. Benar-benar buang waktu dan lebih cocok disebut sebagai pengantar tidur.

Benar saja, Bung Rocky Gerung pernah berkata bahwa, ijazah itu tanda pernah sekolah. Bukan tanda pernah berpikir.

Dosen cuma pajangan dalam student-centered learning

Saya ulangi, tidak semuanya. Tapi masih mudah sekali menjumpai dosen yang datang tanpa fungsi selain untuk mengisi jurnal presensi. Pantas saja mahasiswanya banyak yang ngang-ngong saat mengerjakan UTS atau UAS. Sudah begitu tetap menghujat hasil tes pula. Minimal kalau itu benar-benar hadir, berilah umpan balik. Entah menjelaskan konsep yang membingungkan atau menantang mahasiswa berpikir. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa pembelajaran student-centered learning bukan sekadar formalitas belaka.

Beberapa dosen tampak percaya bahwa kehadiran fisik sudah cukup. Evaluasi diberikan tanpa klarifikasi, nilai ditetapkan tanpa dialog, dan jika ada feedback, itu pun hanya sekadar formalitas untuk menandai bahwa mereka sudah menjalankan tugas. Ujungnya, mahasiswa belajar menyesuaikan diri.

Mereka tahu, usaha ekstra atau pertanyaan kritis sering kali tidak akan mendapatkan respon memadai. Akhirnya, fasilitator yang seharusnya menjadi pusat panduan berubah menjadi latar belakang pasif. Membuat perannya lebih mirip dekorasi daripada pengarah dalam belajar dalam student-centered learning.

Saya rela pindah kelas dengan harapan menemukan kelas yang lebih aktif. Sayangnya, sama saja

Kiranya saya amat perlu menceritakan kisah saya diboikot dan dianggap sok kritis hanya karena mengharapkan lingkungan kelas yang hidup. Semester 1-3 terlewati dengan perasaan kecewa. Jelas, ini sebab lingkungan belajar yang sangat tidak ramah. Bukannya direspons dengan sanggahan yang sehat, saya malah dihujani keluhan dan dicap sok kritis. Loh, saya hanya merasa sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan untuk bayar UKT.

Akhirnya di semester selanjutnya saya memutuskan untuk pindah kelas. Sedikit lebih baik, tapi belum sesuai dengan harapan saya. Audiens tetap apatis, sebagian mahasiswa hadir hanya demi presensi, sebagian lagi sibuk dengan layar ponsel. Pemakalah masih membaca slide tanpa memaparkan, enggan sangat berdiskusi, atau mengutip sumber yang ngawur.

Oleh sebab itu pula, saya mencoba menyempatkan diri mengambil kelas di semester yang lebih tinggi. Tujuannya tak lain untuk memuaskan rasa haus akan suasana kelas yang hidup. Harapannya sederhana, jika mahasiswa di kelas lebih tua dan berpengalaman, setidaknya mereka akan membawa energi yang berbeda.

Pengalaman ini mengajarkan hal yang amat penting. Ternyata belajar di kampus tidak selalu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Siapa yang sebenarnya belajar?

Jadi, siapa yang sebenarnya belajar di kelas dalam student-centered learning? Mahasiswa yang hadir tapi sibuk main TikTok? Dosen yang duduk manis sambil scroll WhatsApp? Bayar UKT tiap semester tapi yang didapat kadang cuma tontonan gratis, eh, maksudnya kuliah.

Semua berpura-pura sibuk, tapi esensi belajar hilang entah ke mana. Ini baru Student-Centered Learning, tapi kok rasanya yang jadi pusat kok cuma drama mahasiswanya dan slide PowerPoint yang salah kutip, eh.

Makanya, mau sampai kapan kita jadi penonton setia di panggung ngawur ini? Atau mau mulai  lebay dengan nendang sedikit kursi, bilang, “Hei! Saya bayar UKT untuk belajar, bukan nonton presentasi ngawur anda!”? Karena kalau tidak, jangan heran jika suatu hari nanti kita lulus, pegang ijazah, tapi tetap ngang-ngong saat diminta mikir.

Penulis: Sayyid Muhamad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Revisinya Belum Tentu Lancar 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2025 oleh

Tags: Dosenpresentasi kuliahpresentasi mahasiswastudent-centered learningtugas presentasi mahasiswa
Sayyid Muhamad

Sayyid Muhamad

Santri penuh waktu, mahasiswa separuh waktu, insyaallah warga negara Indonesia seumur hidup.

ArtikelTerkait

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

6 Januari 2026
PDKT riset asisten riset mojok

Balada Asisten Riset: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

18 Oktober 2020
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
gaji dosen mahasiswa semester tua asisten dosen

Jadi Dosen Itu Nggak Mudah, apalagi Jadi Dosen yang Nggak Bisa Nulis, Remuk!

23 Februari 2024
Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

23 Februari 2025
Dosen-dosen ‘Law School’ Adalah Tipikal Dosen yang Dihindari Mahasiswa Saat KRS-an

Dosen-dosen ‘Law School’ Adalah Tipikal Dosen yang Dihindari Mahasiswa Saat KRS-an

31 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.