Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Trenggalek Nggak Butuh Stasiun dan Jalur Kereta Api, Bus Aja Cukup

Mohammad Sirojul Akbar oleh Mohammad Sirojul Akbar
2 Februari 2024
A A
Sudah Betul Trenggalek Nggak Dilewati Kereta Api, Warga Belum Butuh Mojok.co

Sudah Betul Trenggalek Nggak Dilewati Kereta Api, Warga Belum Butuh (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Orang yang tinggal di Trenggalek pasti pernah kena bully gara-gara daerahnya tidak punya stasiun kereta api. Dulu ketika pertama kali ke sana, saya juga tidak tahu kalau daerah dengan julukan Kota Gaplek itu tidak dilalui kereta api.

Saya sempat terheran-heran. Tulungagung, kabupaten yang karakternya mirip dan terletak tidak begitu jauh dari Trenggalek saja dilewati jalur kereta api. Masak Trenggalek tidak? 

ADVERTISEMENT

Warga tampaknya sudah berdamai dengan kenyataan bahwa daerahnya tidak memiliki stasiun dan jalur kereta api. Namun perlu diluruskan, Kota Gaplek ini bukannya tidak pernah dilewati kereta api sama sekali ya. Daerah ini pernah punya jalur kereta api walau sudah lama sekali tidak digunakan.  

Pernah ada kereta api di Trenggalek

Bagi mereka yang mengejek Trenggalek tidak dilalui kereta api sepertinya harus banyak-banyak mengulik sejarah. Pada masa Kolonial Hindia-Belanda, sangat tidak mungkin pemerintah kolonial tidak membuat jalur transportasi antar wilayah sekelas kota/kabupaten. Apalagi tujuan mereka menjajah untuk mengeksploitasi. Jalur kereta api akan sangat membantu mereka untuk memindahkan komoditas. 

Saat ini mungkin banyak orang tidak asing dengan jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar. Jauh sebelum itu ada juga jalur dari Tulungagung ke Trenggalek dan berhenti di daerah Tugu. Melansir dari Heritage KAI, pembangunan jalur itu berdasarkan Undang-Undang 6 Juni 1919 Staatsblad nomor 312. Wilayah yang dilewati jalur kereta api tersebut adalah Beji, Boyolangu, Pojok, Pelem, Campurdarat, Duwet, Bandung, Bandung Pasar, Bulus, Kedunglurah, Bendo, Ngetal, Ngepoh, Trenggalek, Nglongsor, Winong, dan berakhir di Tugu.

Pembangunan jalur kereta api merupakan upaya pemerintah kolonial untuk menghubungkan wilayah jajahannya. Pembangunan ini sekaligus menandakan Trenggalek menjadi salah satu wilayah yang dipertimbangkan. 

Akan tetapi, jalur kereta api ini beroperasi hanya sebentar. Pada 1930, terjadi krisis ekonomi yang melumpuhkan hampir seluruh kegiatan ekonomi di Hindia Belanda. Sehingga pada 1932, jalur kereta api Tulungagung-Trenggalek terpaksa berhenti hingga detik ini.

Membayangkan Trenggalek punya jalur kereta api

Saya membayangkan siapa saja yang akan menggunakan kereta api kalau jalur kereta api itu masih aktif hingga sekarang, akankah transportasi umum itu digemari seperti daerah-daerah lain? Saya kok sangsi ya.

Baca Juga:

6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan

4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang

Mayoritas warga Trenggalek bekerja sebagai petani mengingat 2/3 daerahnya adalah pegunungan dengan tanah subur. Melansir dari Data Statistik Kabupaten Trenggalek, jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani menduduki angka tertinggi di tiap kecamatan. Petani jelas tidak membutuhkan mobilitas tinggi, apalagi fasilitas kereta api. Mobilitas mereka didominasi dengan rumah ke lahan pertanian. Mereka lebih memerlukan kendaraan pribadi untuk mengangkut pupuk atau hasil bertani dariapda kereta api.  

Kemungkinan besar hanya perantau yang ke luar kota untuk bekerja atau menempuh pendidikan tinggi saja yang akan menggunakan kereta api. Itupun harus bersaing dengan bus-bus yang sudah lama beroperasi di sana. Saya merasa, armada bus sudah cukup memenuhi mobilitas warga.

Bayangkan saja, ada 3 perusahaan otobus yang aktif yang melayani penumpang Surabaya ke Trenggalek maupun sebaliknya. Tiga PO itu adalah Harapan Jaya, Bagong, dan Pelita Indah. Armada bus melintas silih berganti setiap 15-30 menit sekali. Penumpang cukup menghentikan bus-bus itu dari pinggir jalan. Tidak perlu repot-repot ke stasiun seperti kalau mau naik kereta api. 

Belum butuh kereta api

Jalur kereta api di Trenggalek mungkin memang penting di zaman dahulu, entah untuk mengangkut komoditas atau penumpang. Mengingat, banyak orang  belum memiliki kendaraan pribadi di zaman itu. Namun, saat ini kondisinya berubah. Kendaraan pribadi dapat dengan mudah dimiliki. Banyak juga pilihan transportasi umum lain yang lebih efektif dan efisien.

Membayangkan adanya kereta api di Trenggalek hanyalah kesia-siaan. Masyarakat Trenggalek sendiri masih belum membutuhkan. Kalau kereta api benar-benar ada malah berat di biaya operasionalnya, sementara penumpangnya sepi. Justru yang diperlukan saat ini adalah menata dan memperbaiki fasilitas transportasi umum yang sudah ada. Salah satunya, terminal Trenggalek yang masih jauh dari kata nyaman. 

Penulis: Mohammad Sirojul Akbar
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Ponorogo Lebih Nyaman Ditinggali daripada Trenggalek, Fasilitasnya Lebih Lengkap dan Mumpuni

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2024 oleh

Tags: Busjalur kereta apikereta apiPO bustrenggalektulungagung
Mohammad Sirojul Akbar

Mohammad Sirojul Akbar

Kadang menulis, kadang menangis

ArtikelTerkait

Kesan Pertama Naik Trans Mamminasata, BRT-nya Makassar Terminal Mojok

Kesan Pertama Naik Trans Mamminasata, BRT-nya Makassar

6 Desember 2022
Sebaiknya Pikir Ulang kalau Mau Buka Warung Madura di Tulungagung Mojok.co

Sebaiknya Pikir Ulang kalau Mau Buka Warung Madura di Tulungagung

18 September 2025
3 Alasan Penumpang Bawa Makanan Sendiri ke Gerbong Restorasi Kereta Mojok.co

3 Alasan Penumpang Bawa Makanan Sendiri ke Gerbong Restorasi Kereta

1 Mei 2025
Dari Bandung ke Bekasi Cuma Modal Rp15 Ribu, Naik Apa Terminal Mojok

Dari Bandung ke Bekasi Cuma Modal Rp15 Ribu, Naik Apa?

17 Januari 2023
Susahnya Tinggal di Kecamatan Munjungan Trenggalek: dari Akses Jalan yang Sulit hingga Sering Pemadaman Listrik

Susahnya Tinggal di Kecamatan Munjungan Trenggalek: dari Akses Jalan yang Sulit hingga Sering Pemadaman Listrik

14 April 2023
Wisuda UIN SATU Tulungagung yang Bener-bener Nggak Masuk Akal: Wisuda kok Sekali Sebulan. Itu Wisuda atau Jadwal Ganti Oli?

Wisuda UIN SATU Tulungagung yang Bener-bener Nggak Masuk Akal: Wisuda kok Sebulan Sekali. Itu Wisuda atau Jadwal Ganti Oli?

29 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Malang Memang Sekarang Panas, tapi Tetap Lebih Nyaman daripada Merantau di Surabaya 

8 Juli 2026
Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI Mojok.co

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI 

13 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026
Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya Mojok.co

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

10 Juli 2026
Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.