Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
9 Oktober 2021
A A
Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Drama Korea Hometown Cha-cha-cha lagi-lagi membuktikan popularitasnya di kancah global. Beberapa saat lalu, diwartakan kalau drakor yang dibintangi oleh duo lesung pipi, Kim Seon Ho dan Shin Min A, menempati posisi pertama drama yang paling banyak dibicarakan versi Good Data per pekan ke-5 September 2021. Mantul.

Kalau boleh jujur, kisah dalam drakor Hometown Cha-cha-cha ini sangat berkaitan dengan ilmu yang saya pelajari di perguruan tinggi, yaitu sosiologi. Interaksi antartokoh di Desa Gongjin membuat saya teringat dengan salah satu mata kuliah ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Sayang sekali drakor ini tayangnya malah ketika saya sudah skripsian. Coba kalau dari dulu, pasti tugas esai saya akan menganalisis interaksi warga Gongjin saja.

Mata kuliah yang saya maksud ini bernama Sosiologi Pedesaan. Seperti namanya, matkul tersebut memang banyak membahas soal bentuk, pola interaksi, sampai karakteristik masyarakat yang tinggal di sebuah wilayah pedesaan. Gongjin ini secara administratif tergabung ke dalam wilayah desa yang dipimpin oleh Chang Yeong Guk sebagai kadesnya. Meski begitu, Gongjin juga merupakan salah satu dari sekian banyak desa yang sudah mengalami transformasi. Dalam bayangan kita, desa bukan lagi sebuah tempat terpelosok yang jauh dari modernisasi. Desa pun terus-menerus mengalami perubahan. Berbekal catatan saya di semester tiga, mari kita bedah transformasi apa saja yang sudah terjadi di Gongjin.

#1 Transformasi ekonomi

Ayo ngaku, siapa di sini yang masih men-stereotip-kan jagung dan umbi-umbian sebagai makanan konsumsi warga desa satu-satunya? Memang benar kalau makanan tersebut menjadi makanan pokok di beberapa wilayah, tapi warga desa juga bisa makan makanan yang kita anggap modern. Kalau nggak gitu, sudah pasti kafenya Oh Yoon yang menjual americano dan latte sudah lama gulung tikar serta ayam panggang listrik yang bikin cinta Mi Seon dan Pak Polisi bersemi nggak akan laku.

Selain konsumsi makanan, moda transportasi juga bisa jadi salah satu penanda bahwa masyarakat desa mulai mengalami kemajuan ke arah yang lebih modern. Gamri, nenek yang akrab dengan Hong Du Shik, saja bisa mengendarai motor, lho. Ketika numpang di mobil Yoon Hye Jin untuk bareng-bareng pergi ke Seoul pun para nenek Gongjin dan Hong Du Sik nggak mabuk kendaraan. Itu artinya mereka memang kerap dan sudah terbiasa menaiki kendaraan bermotor.

#2 Transformasi sosio-kultur

Masyarakat desa memang dikenal sebagai masyarakat yang intim dalam berinteraksi. Tetangga dan orang terdekat selalu diutamakan. Ketika ada masalah, warga desa nggak setengah-setengah dalam berembug dan mencari solusi. Nah, pada saat rapat ini, nggak hanya laki-laki yang aktif, perempuan pun ikut berpartisipasi dalam memberikan pendapat. Bahkan bukan suatu kemustahilan seorang perempuan juga bisa menjadi pemimpin. Lihat saja Jo Nam Suk. Dia bisa menjadi ketua perkumpulan wirausaha di Gongjin dan nggak ada yang mendebat jabatannya ini.

Sistem informasi di desa juga sudah berubah. Nggak lagi menggunakan kentongan, sekarang sudah masanya semua orang menggunakan ponsel untuk saling berinteraksi dan berbagi informasi. Nggak hanya tetangga-tetangga kita yang heboh di grup WhatsApp, warga Gongjin pun punya chat group yang nggak kalah berisik. Berkat Jo Nam Suk, bergosip pun sudah mengalami digitalisasi.

Gaya hidup warga desa juga nggak selamanya diliputi kekurangan dan kesulitan. Contoh yang paling utama adalah Oh Ju Ri, putri semata wayang Oh Yoon yang nge-fans banget sama grup K-Pop bernama D.O.S. Di usianya, Ju Ri sudah mengoleksi berbagai macam cendera mata, album, majalah, bahkan menonton konser idolanya secara langsung. Lifestyle fangirling yang konsumtif semacam ini lebih umum di kalangan masyarakat urban, tapi bukan berarti masyarakat desa haram untuk melakukannya.

Baca Juga:

Menonton Drama Korea Reply 1988 yang Legendaris setelah 10 Tahun Rilis

3 Drama Korea Terbaru yang Sebaiknya Jangan Ditonton demi Kesehatan Mental  

#3 Transformasi politik

Untuk bagian ini, kebetulan sekali kita akan mengkaji kedua orang tua Chang I Jun, yaitu Chang Yeong Guk dan Yeo Hwa Jeong. Kalau kalian menonton secara teliti, keduanya sama-sama hidup dari gaji yang dibayarkan oleh negara. Yeong Guk adalah kepala desa Gongjin yang berstatus PNS. Meski kerjaannya cuma menghabiskan waktu dengan overthinking mikirin Hwa Jeong atau malas-malasan sampai jatuh tertidur di kantor, saldo rekeningnya akan tetap bertambah.

Begitu pula dengan Hwa Jeong. Selain menjadi pemilik restoran dengan aset properti di mana-mana, Hwa Jeong punya status sebagai kepala wilayah. Hong Du Shik pun punya jabatan yang mirip, tapi dengan gaji yang lebih sedikit.

Profesi yang mengharuskan Yeong Guk dan Hwa Jeong mengabdikan diri pada masyarakat ini sudah mengalami perubahan. Dulu kita pernah mendengar kisah bahwa kepala daerah dibayar secara sukarela oleh masyarakat yang datang ke rumah untuk minta tanda tangan atau mendapatkan hasil tangkapan laut sebagai upeti. Sekarang, sistem semacam itu sudah langka sekali.

Penetapan keduanya sebagai seorang kades dan kawil pun pasti melalui proses yang demokratis alias nggak asal tunjuk apalagi lewat jalur belakang. Masa jabatannya pun nggak seumur hidup. Hwa Jeong pernah mengatakan bahwa sebentar lagi jabatannya sebagai kepala wilayah akan berakhir. Penghargaan pegawai terbaik di kantor desa saja sudah menggunakan sistem pemungutan suara yang memfasilitasi para masyarakat untuk bisa turut serta. Dengan cara ini, setiap warga Gongjin memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi secara politis, menduduki jabatan di pemerintahan, dan meminimalisasi adanya kesewenang-wenangan para pemimpin daerah.

Berkat drakor Hometown Cha-cha-cha, kini kita menyadari bahwa desa yang dulu bukanlah yang sekarang. Masyarakat dan sistem yang ada di desa pun mengalami perubahan dan modernisasi. Transformasi ini akan terus menerus berlangsung sebagaimana yang kita pelajari di mata pelajaran sosiologi saat SMA bahwa masyarakat itu dinamis.

Sumber Gambar: Instagram tvN Official

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2021 oleh

Tags: GongjinHometown Cha-cha-chaKorea Selatan
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Kerja di Korea Selatan: Gaji Besar tapi Hak-hak Lain Tergadaikan  

Sisi Gelap Kerja di Korea Selatan: Gaji Besar tapi Hak-hak Lain Tergadaikan  

10 Februari 2025
Mengenal Amhaengeosa, Pemberantas Korupsi di Era Joseon terminal mojok

Mengenal Amhaengeosa, Pemberantas Korupsi di Era Joseon

29 November 2021
Sisi Gelap Gangnam, Daerah Paling Glamor di Korea Selatan  

Sisi Gelap Gangnam, Daerah Paling Glamor di Korea Selatan  

11 Oktober 2023
Drama Crash Landing on You, Bukti Kuasa Kapitalis untuk Meromantisasi Segala Hal

Drama Crash Landing on You, Bukti Kuasa Kapitalis untuk Meromantisasi Segala Hal

26 Maret 2020
Salon de thé François industri musik jepang mojok

Membandingkan Industri Musik Jepang dan Korea Selatan itu Hal yang Sia-sia, Ini Alasannya

25 Juli 2020
10 Lagu K-Indie yang Wajib Didengarkan, Paling Tidak Sekali Seumur Hidup terminal mojok.co

10 Lagu K-Indie yang Wajib Didengarkan, Paling Tidak Sekali Seumur Hidup

5 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.