Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Tolong Dimengerti Bahwa Tidak Semua Orang Indonesia Suka Dangdut

Iqbal AR oleh Iqbal AR
24 Juni 2019
A A
dangdut

dangdut

Share on FacebookShare on Twitter

“Saya orang Indonesia. Tapi saya tidak suka dangdut.” Pernyataan ini keluar dari mulut salah satu teman saya yang mungkin sudah muak dengan stereotip bahwa semua orang Indonesia pasti suka dangdut. Perlu dicatat bahwa dia hanya ada di level tidak suka—tapi bukan lantas membenci. Stereotip yang mengakar dan menyebar ini membuat dia merasa menjadi korban menyerataan selera. Meskipun banyak orang pula yang mengamini stereotip tersebut.

Bagi teman saya, dangdut—secara budaya maupun secara musikal—adalah hal yang tidak cukup menarik untuk dikulik. Minimnya kritikus dangdut dirasakan oleh teman saya seperti hal yang biasa-biasa saja dan tidak pantas untuk disematkan pada identitas kebangsaan atau semacamnya. Dia juga beranggapan bahwa tidak ada hubungannya antara selera musik dengan nasionalitas. Nggak nyambung!

Jika dilihat dari sejarahnya, dangdut adalah musik yang tercipta dari berbagai macam karakteristik musikal yang pernah memapar Indonesia. Musik Melayu, musik India, Arab, hingga musik Rock menjadi landasan terbentuknya aliran musik ini yang masih popular hingga saat ini. Berawal dari dangdut klasik yang cukup kompleks dan elit, hingga koplo ala Pantura dengan segala gimmick-gimmick yang disajikan menjadi perjalanan panjang musik dangdut hingga saat ini.

Perjalanan panjang dan kekhasan itulah yang membuat musik ini—langsung maupun tidak langsung—tersemat sebagai identitas kebangsaan. “Kamu tidak suka dangdut? Wah, tidak nasionalis kamu. Tidak Indonesia.” Pernyataan ini juga sering keluar dari mulut-mulut orang yang mengetahui bahwa teman saya tidak suka dangdut. Saya sendiri juga masih belum tahu pasti, apa alasan teman saya tidak suka dangdut.

Salah satu dugaan saya adalah, bahwa teman saya ini adalah anak dari seorang bapak yang cukup Rock ‘n Roll. Ini bermula dari era 80-an ketika terjadi perseteruan hebat antara musik Rock dan dangdut, dan bapak teman saya berada di sisi musik Rock. Sebagaimana wajarnya ego seorang bapak yang menginginkan sang anak meneruskan semangatnya, maka diturunkanlah semangat itu—yang mungkin sudah tidak relevan saat ini.

Gelagat ketidaksukaan teman saya pada dangdut memang tak pernah secara terang-terangan ditunjukkan. Sering terjadi ketika kami sedang nongkrong, lalu salah satu dari kami memutar musik dangdut, maka teman saya ini akan minggir atau mendengarkan musik sendiri melalui earphone yang tak pernah lupa dibawanya kemana pun. Bahkan pernah beberapa kali teman saya meminta untuk mematikan musik ini yang diputar—“wes, ra usah nyetel lagu. Omong-omongan wae!”

Pernah juga ketika salah satu tetangganya punya hajat menikah dan menyewa orkes dangdut untuk pestanya, teman saya ini hanya berdiam diri di kamarnya dengan musik-musik Metallica kesukaanya yang diputarnya dengan volume tinggi. Telinga saya sudah mau pecah ketika masuk ke dalam kamarnya. Rasanya seperti adu kencang antara Rock—Metal—dan dangdut.

Tidak ada yang mengetahui pasti, apa yang membuat orang tidak suka pada aliran musik ini. Padahal ada ungkapan bahwa “sesangar-sangarnya atau serockstar-rockstarnya kamu, pasti akan bergoyang kalau ada musik dangdut.” Ungkapan ini tidak berlaku pada teman saya dan mungkin pada beberapa orang.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Padahal saat ini, apa yang tidak menarik dari musik yang satu ini? Para penyanyinya saja sudah sangat menarik. Gimmick-gimmick yang disuguhkan juga sangat menarik. Lalu varian musiknya juga bermacam-macam, hingga yang sempat viral kemarin—yaitu naiknya kembali Didi Kempot¸ The Godfather of Broken Heart ke permukaan. Segala kemenarikan di atas juga tak membuat teman saya berubah pikiran.

Memang, masalah musik adalah masalah selera. Dan masalah selera adalah masalah masing-masing orang. Kita tidak bisa memaksakan selera kita pada orang lain—pun sebaliknya. Saya tidak bisa memaksa teman saya mendengarkan dangdut. Teman saya juga tak bisa memaksa saya mendengarkan Metallica. Memaksakan selera hanya akan membuat pertengkaran—ndak bagus.

Pada akhirnya, saya berhenti mencari-cari alasan mengapa teman saya tidak suka musik dangdut. Saya sendiri pun tidak pernah beralasan ketika suka atau benci terhadap sesuatu. Seperti dalam dunia percintaan, kita bisa saja suka terhadap seseorang tanpa alasan apapun. Kita juga bisa membenci orang juga tanpa alasan apapun.

Wah, mulai ramashook iki!

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: DangdutIndonesiakebangsaanMusiknasionalisme
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Kekuatan Paspor Malaysia Bikin Iri Pemegang Paspor Indonesia yang “Memble” Mojok.co

Kekuatan Paspor Malaysia Bikin Iri Pemegang Paspor Indonesia yang “Memble”

15 Maret 2025
Kontes Penyanyi Dangdut di Indonesia Itu Sungguh Kebanyakan Gimmick terminal mojok.co

Kontes Dangdut di Indonesia Itu Sungguh Kebanyakan Gimmick

30 September 2020
5 Profesi buat Uzumaki Naruto kalau Pensiun Dini Jadi Hokage terminal mojok.co

Naruto Adalah Tontonan Berguna untuk Memahami Perilaku Pejabat Indonesia

1 Mei 2020
Mengenal Penajam Paser Utara, Ibu Kota Negara yang Baru

Mengenal Penajam Paser Utara, Ibu Kota Negara yang Baru

25 Januari 2022
Kuliah di Mesir Memang Menarik, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana Mojok.co

Kuliah di Mesir Memang Prestisius, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana

10 Februari 2025
dalam negeri

Masalah Papua Merupakan Urusan Dalam Negeri Indonesia

3 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.