Rekomendasi Album yang Bukan Cuma Bahas Kopi, Gunung, dan Senja

Apa nggak bosen sama lagu-lagu yang cuma ngomongin gunung, kopi, dan senja? Coba dengerin dulu lagu di album ini, deh.

Artikel

Avatar

Rilisnya single Akad dari Payung Terpal, eh Payung Teduh pada 2017 menjadi fenomena yang menggemparkan. Menurut kaum kebelet nikah dan kaum hijrah, lagu ini sangat merepresentasikan apa yang mereka rasakan. Namun dibalik semua itu kita melihat bahwa band-band folk mulai mengudara ke ranah mainstream. Akad seolah menjadi momentum. Padahal Payung Teduh dan band-band folk Indonesia lainnya sudah ada sebelum 2017.

Anak muda zaman sekarang yang mungkin waktu itu sudah jengah dengan hype boyband dan Noah akhirnya menemukan sesuatu yang baru. Cafe, mall, dan bahkan konter promo smartphone menjadi sering memutar band macam Float, Stars and Rabbits, atau Endah N Rhesa. Bahkan saya sampai muak denger lagu Akad diputar di SPBU. Kemudian tren bahwa kopi, senja, dan gunung adalah patron dalam mendefinisikan band folk Indonesia pun menyeruak. Oh ya, tentunya dengan tambahan Zona Nyaman itu tuh.

Seperti kata Kurt Cobain, semakin tenar sesuatu akan semakin membosankan. Itulah yang terjadi pada fenomena tentang band yang hanya membahas nikmatnya kopi serta indahnya gunung dan senja. Mas pecinta kopi hitam tanpa gula dan mbak pecinta selfie saat senja di gunung, masih banyak band yang lebih enak didengar, memberi pelajaran, dan membuka pola pikir kita dalam karyanya. Seperti yang di bawah ini.

Satu: FSTVLST – Hits Kitsch

Band yang bermutasi dari Jenny ini memang baru menelurkan satu Album, yaitu Hits Kitsch pada 2014. Namun sumpah samber gledek lu aja, album ini masterpiece. Semua track di dalamnya sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari mulai Menantang Rasi Bintang yang mengajarkan kita untuk tidak menyerah dan bersyukur, sampai Orang-orang di Kerumunan yang menggambarkan betapa mudahnya kita saling mengkafirkan orang. Atau track Hal-Hal Ini Terjadi yang bagaikan ceramah bapak terhadap anaknya dalam menggambarkan dunia yang sempit pemikiran ini.

Menantang Rasi Bintang dan Hujan Mata Pisau mengajarkan kita untuk bagaimana tidak menyerah pada keadaan. Menulis ulang apa yang sejatinya kita cari dan memberanikan diri keluar untuk menyelamatkan hidup kita yang begitu-begitu saja. Semua track dalam album ini bernuansa Rock N’ Roll tapi tetap ramah bagi pendengar yang terbiasa dengan musik cinta melulu.

Baca Juga:  Pacar yang Abusive Itu Pantasnya Ditinggalin Bukan Malah Dinikahi

Dua: Feast – Beberapa Orang Memaafkan

Kalau yang ini memang sedang hangat. Meskipun albumnya rilis tahun lalu, euforia akan album ini masih sangat greget. Album ini memberitakan kejadian Pengeboman Surabaya pada 2018 dengan sarat makna. Lagu Peradaban sudah didengarkan sekitar 9 juta kali di Spotify. Lagu yang memang menurut saya menjadi poros album ini, tentang bagaimana kekuatan sebuah peradaban. Walau dihancurkan berapa kali pun kebenaran akan selalu ada. Peradaban menjelaskan bagaimana kehidupan tidak akan bisa dijalankan hanya dengan satu pemikirian yang mengharuskan menghancurkan pemikiran lainnya.

Padi Milik Rakyat menyadarkan kita bahwa setiap harta yang kita miliki mungkin atau pasti ada yang menjadi milik hak rakyat kecil. Di nomor Kami Belum Tentu dan Apa Kata Bapak, Feast menyuarakan langsung tentang ketidak-kredibel-an pemerintah dan pemimpinnya. Berita Kehilangan menjadi alunan syahdu yang membicarakan beberapa orang yang bisa memaafkan kejadian bom Surabaya tersebut dalam balutan bak pembicaraan Ibu dan Anak. Lalu Minggir! Adalah ultimatum bagi orang yang cuma bisa komen tanpa ada aksi nyata.

Tiga: Superman Is Dead – Tiga Perompak Senja

SID is back, punk! Sebetulnya semua album dari SID patut untuk didalami semuanya (nyelam kali). Sebagai Outsider abal-abal saya harus memasukan mereka ke daftar ini. Album ini rilis ketika Jrx sedang bermesraan dengan artis dangdut, ngerti lah ya. Tapi kita tidak akan bahas itu. Album ini terlihat sederhana, ya memang begitu, tapi inilah SID yang saya tunggu. Setelah dua album sebelumnya bagi saya terlalu populer, kai ini mereka kembali bersenang-senang. Mereka makin menua, makin bijak tapi tetap nakal.

Saya sangat senang melihat lagu Aku Persepsi yang pendek, cepat, dan menghantam wajahmu, ini punk sekali. Isu sosial tetap mereka bawa seperti dalam lagu Teriakkan Kemenangan tentang mempertahankan Teluk Benoa untuk tidak direklamasi. Tetap cool dan romatis dalam Puisi Cinta Para Perompak. Lalu mengajak kita untuk bersama-sama melampaui Batas Cahaya kehidupan. Album yang keren dan tetap memuat esensi sebagai Punk Rock.

Baca Juga:  Mengapa Harus Kopi dan Senja, Jika Teh dan Pagi Lebih Nikmat?

Empat: Tigapagi – Roekmana’s Repertoire

Kita kembali ke 2013, album terbaik ke-2 versi majalah Rolling Stone Indonesia. Tigapagi membawa nuansa tahun ’65 ke dalam karyanya. Album ini gelap, seperti gelap pada medio tahun itu. Mengisahkan Roekmana yang mencari anak-anaknya yang hilang. Keseluruhan album seperti sebuah opera. Sistematis dimulai dari lagu Alang-Alang. Menghadapi aral karena dia harus dengan Tangan Hampa Kaki Telanjang. Sampai Tertidur di track terakhir dan menyambung kembali ke track pertama. Seolah kelam yang tiada akhir.

Inilah bukti bahwa folk bukan hanya tentang gunung, kopi, dan senja. Wajib bagi kalian untuk segera memilikinya. Meskipun sudah enam tahun yang lalu tapi album ini masih sangat layak.

Apa pun itu, seperti kata vokalis Gargoyle (Jogja), kalian nggak tau ya, “Lagu yang bagus bukan lagu yang sering diputar, tapi yang bisa mengubah pola pikir kita menjadi lebih berkembang.” Bukan bermaksud mengukultuskan album-album di atas adalah yang terbaik, tapi setidaknya kita dapat lebih memaknai dan menghargai sesuatu. Lantaran itulah yang keren. Bukan cuma suka lagu untuk merundung.

BACA JUGA Mengkritisi Anak Indie yang Tidak Tahu Arti Musik Indie atau tulisan Aniq Kanafillah Aziz lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
9

Komentar

Comments are closed.