Tim Ikan Asin vs Tim Mokondo, Istilah Baru dalam Perselisihan Selebritis Indonesia

Beberapa waktu belakangan beredar video wanita yang kesal dengan ungkapan ikan asin oleh Galih Ginanjar yang ditujukan pada bagian intim mantan istrinya.

Artikel

Sebenarnya secara pribadi saya agak malas menulis sesuatu tentang selebritis Indonesia. Jika ditanya kenapa maka jawabannya karena sebagian besar selebritis Indonesia mendapatkan uang dari hasil menipu rakyat. Bikin sensasi, masuk televisi lalu dibayar. Lah, lalu kita yang nonton dapat apa? Jawabannya dapat emosi jiwa. Sekalipun tidak berniat membahas, tetapi ada sesuatu yang mendesak saya untuk melanjutkan tulisan tentang Ikan Asin dan juga istilah yang belakangan baru saya dengar dan viral di media sosial, terutama Instagram, Mokondo. Jika ada yang belum tahu apa arti dari Mokondo silahkan googling karena makna kata tersebut sedikit menyimpang.

Lalu, apa hubungan antara Ikan Asin dan Mokondo? Jika kalian membaca tulisan saya sebelumnya berjudul ‘Pertempuran Ikan Asin Antara Hotman Paris dan Galih Ginanjar’ maka kalian sudah akan tahu untuk siapa istilah Ikan Asin ditujukan. Langsung saja, Ikan Asin ditujukan kepada Fairuz A Rafiq, mantan istri Galih Ginanjar.

Sementara itu, istilah Mokondo ditujukan kepada Galih Ginanjar bukan oleh mantan istri tetapi oleh netizen terutama kaum wanita. Pasti teman-teman tahu seperti apa kekuatan netizen jika sudah mulai berkoar-koar di media sosial. Sudah pasti Galih Ginanjar akan diamuk-amuk oleh massa di media sosial.

Apalagi beberapa waktu belakangan beredar video seorang wanita yang kesal dengan ungkapan ikan asin oleh Galih yang ditujukan kepada bagian intim mantan istrinya. Dalam videonya, wanita tersebut tampak sedang mencoba membuat masakan berbahan ikan asin. Penuh amarah, ia pun mengulek-ulek bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ikan asin.

Video itu diunggah di akun Instagram Hotman Paris, salah satu lawan berat Galih Ginanjar. Wanita yang muncul dalam video itu beberapa kali menyebutkan kata mokondo yang sudah pasti ditujukan kepada pria dengan mulut tak teratur yakni Galih.

Baca Juga:  KRL Dalam Satu Dasawarsa Terakhir: Selalu Ada Sekelompok Orang yang Berbicara dengan Volume Suara Tinggi

Cukup sampai di sini kita membahas tentang kekuatan netizen. Kini mari kita bersama-sama berbicara tentang mokondo. Istilah ini menarik karena menggambarkan sosok seorang pria yang tak punya skill atau pekerjaan tetap. Hidupnya hanya bergantung pada wanita yang ia jadikan istri. Pria semacam ini hanya bisa banyak bicara untuk mencari sensasi tanpa berpikir terlebih dahulu.

Jika apa yang ia ucapkan sudah ketahuan salahnya, mereka tak akan dengan mudah minta maaf melainkan akan terus maju seembari melakukan kesalahan-kesalahan baru. Semua ini tergambar jelas dalam diri Galih yang dicap sebagai mokondo oleh warganet.

Galih didapuk hanya bisa berkoar tentang bagian intim mantan istri yang mengeluarkan bau tak sedap namun dirinya sendiri tak punya perjuangan untuk memperbaiki hal tersebut. Jika saja ia adalah suami yang baik, sudah tentu ketika menghadapi kondisi tersebut Galih harus memberikan nasihat serta sedikit suntikan dana bagi sang istri untuk memperbaiki diri.

Bukan malah sebaliknya membicarakan hal-hal negatif mantan istri di depan kamera. Parahnya lagi, istri Galih yang sekarang pun malah mendukung perbuatan suaminya yang merendahkan wanita. Motif seperti ini tidak asing lagi bagi saya yang bertahun-tahun bekerja di industri hiburan. Sensasi tanpa prestasi, itulah yang sedang ditunjukkan oleh Galih dan sang istri, Kumalasari.

Pasangan suami istri itu gembar-gembor tentang kejelekkan orang lain karena mungkin saja pemasukan mereka berkurang. Mungkin saja  untuk menjaga agar nama mereka tetap eksis di dunia hiburan tanah air sekalipun tak ada prestasi yang patut dibanggakan dari keduanya.

Sepertinya misi rahasia pasangan suami istri itu bisa dibilang berhasil. Bagaimana tidak, keduanya muncul di berbagai stasiun televisi. Masyarakat dibohongi lagi dengan berita-berita sampah, sensasi-sensasi murahan yang tak layak tayang di televisi. Mereka yang dapat uangnya, penonton yang dapat bodohnya.

Baca Juga:  Menari di Desa KKN: Cerita dari Sudut Pandang Badarawuhi Si Ratu Ular

Andaikan saja industri televisi di Indonesia tidak mementingkan rating melainkan kualitas, sudah pasti orang-orang seperti ini tidak akan diberi tempat muncul di layar kaca. Tapi apa boleh buat, saya hanyalah penulis biasa yang tak mungkin bisa mengubah sistem pertelevisian Indonesia. Andai saja netizen bersatu melawan para artis penuh sensasi ini, mungkin pihak televisi akan mendengarkan.

By the way, yang tahu prestasi Galih Ginanjar dan Kumalasari mungkin bisa berikan komentar kalian di bawah.

---
2.126 kali dilihat

16

Komentar

Comments are closed.