Tiga Kebiasaan Pengendara Bermotor yang Abai Terhadap Keselamatan

Bukan sekali-dua kali juga saya melihat dua pengendara bermotor bersenggolan akibat sign yang tidak dimatikan—karena kesalahpahaman satu sama lain.

Featured

Seto Wicaksono

Beberapa waktu lalu, sempat beredar di linimasa Twitter video seorang pengendara bermotor berboncengan dengan seorang wanita yang sedang melawan arah di jalan raya. Hal tersebut memicu amarah seorang pengendara motor lain yang sedang melaju di jalur yang benar. Namun anehnya, dalam video tersebut terlihat yang lebih galak justru si pelawan arus. Tak heran jika video tersebut mendadak ramai dan viral.

Kira-kira, sebelas-dua belas lah galaknya dengan mereka yang meminjam uang, lalu si pemberi pinjaman datang atau mengingatkan via chat untuk melunasi hutangnya. Eh, gimana?

Sebelumnya juga sempat ramai video seorang pengendara bermotor menegur pengendara motor lain yang berkendara sambil merokok. Teguran yang dilakukan beralasan karena menurutnya, asap sekaligus bara api dan abu rokok sempat mengenai matanya sehingga terasa perih. Ragam komentar pun bermunculan, ada yang berkata bahwa merokok sambil berkendara itu tidak baik, apalagi setelahnya puntung rokok dibuang sembarangan. Ada juga yang berpendapat bahwa, tinggal menutup kaca helm saja jika tidak ingin terkena abu rokok.

Kebiasaan pengendara bermotor di jalanan memang beragam dan beberapa diantaranya sering kali mengabaikan keselamatan—baik hanya melibatkan diri sendiri atau bisa juga sekaligus orang lain. Mulai dari orang yang tidak menyalakan lampu sign sebelum berbelok, sampai dengan pengendara yang berlagak seperti pembalap. Tidak terbatas pada usia maupun gender, lalai dalam berkendara bisa dilakukan siapa pun.

Dan berikut beberapa pengalaman sekaligus pengamatan saya sebagai pengendara motor—maupun yang dibonceng—melihat secara langsung bagaimana pengendara lain melakukan kebiasaan di luar dugaan.

Tidak mematikan lampu sign selama perjalanan

Hal ini tentu berpotensi membahayakan banyak pengendara bermotor karena membuat ragu, apakah seseorang akan berbelok atau tidak dengan sign yang terus menyala. Mau menyalip nanti tiba-tiba bermanuver—entah ke kiri atau kanan. Tapi, jika tidak disusul, rasanya mangkel sendiri berada di belakang pengendara yang abai dengan keselamatannya sendiri. Bukan sekali-dua kali juga saya melihat dua pengendara bermotor bersenggolan akibat sign yang tidak dimatikan—karena kesalahpahaman satu sama lain.

Baca Juga:  Yasonna Laoly dan "Azab" karena Sudah Menghina Dian Sastrowardoyo

Spion hanya sebagai formalitas

Umumnya, spion pada kendaraan digunakan untuk melihat sesuatu yang ada di belakang kendaraan kita saat melaju. Bagaimana kondisi jalanan di belakang, dan lain sebagainya. Intinya, sih, agar kita sebagai pengendara bisa lebih berhati-hati dan mawas diri, termasuk sesaat ketika ingin menyalip kendaraan di depan, tak jarang kita melihat ke arah spion terlebih dahulu untuk memastikan aman untuk menyusul.

Namun, sepertinya tidak semua pengendara demikian. Sudah sering kali saya melihat spion pada kendaraan bermotor tidak dalam posisinya. Ada yang mengarah ke atas, ada yang malah mengarah ke arah wajah pengendara—untuk bercermin, ada pula yang mengarah ke bawah. Intinya, spion tidak diatur saat sebelum berkendara. Lalu, apa gunanya spion yang terpasang pada setiap kendaraanmu? Hanya agar tidak ditilang—tapi malah menggadaikan keselamatan?

Pengendara lelaki melihat wanita yang sedang dibonceng atau berjalan kaki selama di perjalanan

Bagi saya, ini yang paling absurd. Sudah dua kali saya dibonceng oleh driver ojol yang tiap kali melewati seorang wanita yang dibonceng di motor lain, menyebrang, atau berjalan kali, selalu dilihat dengan seksama wanita tersebut. Bahkan ketika kami sudah melewatinya—sampai menengok kembali ke arah belakang. Bukannya mau melarang, tapi, hal seperti itu akan membahayakan saya sebagai penumpang ketika driver tidak fokus terhadap kondisi jalanan di sekitarnya.

Bukan hanya driver ojol yang pernah saya order yang melakukan hal seperti itu. Sebelumnya, beberapa teman pun melakukan hal sama ketika saya dibonceng oleh mereka. Intinya ya sama-sama menyebalkan karena membahayakan diri sendiri juga orang lain. Apalagi jika alasan melakukan hal itu hanya atas dasar penasaran—tentu akan semakin menjengkelkan.

Baca Juga:  Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk

Dan lagi-lagi, saat ini saya sedang dibonceng oleh salah satu driver ojol yang seringkali melihat wanita di sisi jalan, sampai melihat kembali ke belakang dan mengecek dari spion. Betul-betul membahayakan saya sebagai penumpangnya. Karena merasa penasaran, akhirnya saya pun ikut melihat ke belakang bersamaan dengan menolehnya abang driver ojol ke arah wanita tersebut.

BACA JUGA Sensasi Berkendara di Jalan Raya 6 Tahun Tanpa SIM atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6

Komentar

Comments are closed.