Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Tidak Semua Celaan Perlu Dibalas dengan Karya, Kawan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
10 Juli 2019
A A
karya

karya

Share on FacebookShare on Twitter

Seringkali saya mendengar dari seseorang pun membaca postingan di media sosial “jika ada yang menghina dengan kita, balas dengan karya.” Tujuannya mungkin baik, yang saya tangkap hal itu bermakna “nggak usah ditanggepin yang jelek-jelekin kita, yang penting tetep produktif aja sesuai porsinya.” Tapi permasalahannya adalah, memangnya wajib banget gitu segala celaan yang tertuju pada diri kita harus direspon—dengan karya?

Dengan segala perbedaan karakteristik yang dimiliki setiap orang, rasanya tidak perlu memaksakan bagaimana atau apa respon seseorang setelah mendapat celaan. Jika ada yang mencela lalu mau dibalas dengan misuh sekaligus sambat sendirian di kamar, mau nyindir sekaligus marah-marah di Twitter, mau bikin lirik lagu juga dijadikan bahan tulisan. Terserah. Mau minta kontak berikut juga alamat emailnya juga boleh, kok. Eh?

Lagipula, tidak semua orang diberkati kemampuan dalam berkarya—karya apa pun itu. Kalau pun punya bakat dalam berkarya, belum lagi terkendala rasa malas yang tak berkesudahan. Dan saya, mungkin menjadi salah satu orang yang malas menanggapi jika ada yang mencela atau mencibir—membicarakan dan menjelek-jelekan di belakang.

Di usia saya saat ini, rasanya nggak penting jika harus berkutat atau meladeni sindirian dari siapa pun, masih banyak hal lain yang jauh lebih penting dibanding itu—perihal pekerjaan salah satunya. Jika ada seseorang yang kiranya secara telak dan diketahui membicarakan atau menyinggung saya, hal yang saya lakukan tak lain dan tak bukan adalah tertawa atau dibercandai balik. Bukan bertujuan untuk menghina, lebih kepada saya yang menertawakan diri sendiri, “emang iya ya sebegitunya”—tanpa baper.

Terkadang, kalau pun saya sedang malas menanggapi biasanya tidak diberi respon apa-apa, hanya sekadar “oh” yang digumamkan dalam hati. Masalahnya, jika cercaan dibalas dengan karya, apakah menjamin dia atau mereka paham akan respon yang menurut kita elegan tersebut? Tidak semua orang mudeng atau paham dengan balasan berupa karya atau prestasi.
Bagi mereka yang mencibir, apa pun yang kita lakukaan hanya dijadikan sebagai peluang untuk membuat cibiran yang baru. Jadi, apa gunanya kita meniatkan diri membalas perbuatan tidak menyenangkan orang lain dengan segala prestasi yang diraih? Menjadi iya dan tidak apa ketika diniatkan untuk pencapaian diri. Hasil karya menjadi tidak relevan ketika hanya digunakan untuk membalas kekesalan—dendam.

Tapi, mau bagaimana pun, karya merupakan sesuatu yang dibuat oleh seseorang dengan segala kreativitas dan kemampuan yang dimiliki, bagaimana proses dalam mencapai hal tersebut perlu mendapat apresiasi.

Saya juga dengan sukarela mengiyakan mereka yang berkata “kreativitas itu tidak terbatas”, mau buktinya? Salah satunya meme yang tersebar luas di internet. Yang terbaru dan ramai, mengenai seekor biawak yang memanjat pagar rumah seseorang. Ada yang mengibaratkan sebagai pengantar barang, penagih hutang, pacar yang langsung ditinggal masuk ke dalam rumah, dan lain sebagainya.

Katanya, meme dapat digunakan juga sebagai lucu-lucuan, sindirian, atau reaksi terhadap apa yang dilakukan orang lain. Namun nyatanya, tidak semua orang memahami sindirian. Jadi, meski sudah dibuat dan dirasa tepat sasaran, tingkat kepekaan seseorang tetap menjadi pembeda. hehe. Dan sedikit himbauan saja, meski kreativitas itu tidak terbatas namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan. Hati-hati UU ITE bisa menerkam siapa saja, loh. Maaf sekadar mengingatkan.

Baca Juga:

4 Dosa Besar yang Sering Dilakukan oleh Motivator

Santri Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

Memang, jika emosi negatif diluapkan dan dicurahkan dalam bentuk karya, pasti akan jauh lebih baik dibanding harus merespon cacian dengan cacian lagi—pasti tidak akan ada habisnya. Minimal dibalas senyuman, pasti akan lebih menyenangkan bagi diri sendiri.

Tapi, ada kalanya cercaan dari orang lain baiknya diladeni secara langsung dan ditanyakan kepada orang yang bersangkutan, ada masalah apa, kenapa, dan maunya bagaimana. Bukan untuk menambah konflik, justru agar masalah dapat terselesaikan dengan dibukanya perbincangan daripada saling saut melalui sindiran.

Bagi saya, dibanding membalas celaan orang lain di media sosial dan berpotensi siapa yang disindir siapa yang tersindir, lebih baik dijadikan bahan tulisan dan dikirim ke redaksi atau media, syukur jika ditayangkan di lamannya dan menjadi trending. Ditambah ada honornya juga. xixixi.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: balas dengan karyaBaperBullyKritik Sosialmotivasi
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

twitter

Kenapa Kita Sering Beramai-ramai Membenci Orang Lain di Twitter?

10 Juni 2020
nilai-nilai

Mempertanyakan Kembali Nilai-Nilai Kita

10 Juni 2019
pelakor

Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

20 Juli 2019
calon kepala desa

Negosiasi dengan Calon Kepala Desa Waktu Sosialisasi Visi dan Misi

10 Juni 2019
Kalimat Yok bisa yok Bukan Toxic Positivity Sini Saya Jelasin motivasi

3 Alasan Buku Motivasi Selalu Laku di Pasaran

28 November 2020
menggugat mantan

Menggugat Mantan

12 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.