Siapa yang tidak bersukacita ketika mobile banking berdenting dengan notifikasi “THR 2026”? Kecuali kamu petapa yang menanggalkan hal-hal duniawi, notifikasi tersebut pasti disambut dengan sorak gembira. Langsung terbayang barang-barang yang ingin dibeli atau membagikan THR ke orang-orang terkasih.
Akan tetapi, itu semua dahulu. Tunjangan Hari Raya sekarang ini rasa-rasanya seperti baliho di jalan arteri. Muncul sebentar di depan mata, lalu hilang. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Kondisi ekonomi yang terlanjur payah bisa jadi biang keroknya.
THR yang cuma mampir itu bukan kecolongan
Aku memang tidak mendapat THR menjelang Lebaran kali ini. Sebab, jatah THR-ku dibayarkan menjelang Natal. Aku terakhir menerimanya pada Desember 2025 lalu. Saat itu langsung terbayang berbagai seri Adidas Samba. Terlintas pula Adidas Trimm Star seri West Ham. Indah sekali rasanya kalau bisa pakai seri sepatu dari klub yang hampir degradasi ini.
Realitas langsung menampar beberapa jam setelah notifikasi THR di mobile banking berdenting. Aku lupa 2025 adalah momen mengencangkan ikat pinggang. THR langsung terpangkas untuk membayar utang, tagihan bulanan, hingga bertahan hidup. Iya, bertahan hidup untuk bulan-bulan berikutnya!
Pada waktu itu aku sudah harus mengalokasikan THR untuk belanja dua bulan. Bukan karena tidak gajian, aku cuma merasa perlu untuk menyisihkan lebih banyak uang untuk beberapa bulan ke depan. Masih ada momentum tahun baru dan Lebaran yang jatuh pada kuartal pertama 2026. Dua momentum yang biasanya menuntut dana-dana tidak terduga. Mau tidak mau, ‘ilusi kekayaan’ dari THR harus segera diakhiri.
Semua dimulai dari kekacauan tahun lalu
Pengalaman di akhir 2025 itu nyatanya relate dengan keluhan banyak orang soal THR menjelang Lebaran kali ini. THR rasanya lebih cepat ludes. Ada yang perlu menambal utang dan kewajiban lain yang belum selesai di tahun 2025. Beberapa orang lain nasibnya lebih pedih, mesti merelakan THR-nya jadi ‘dana talangan’ anggota keluarga yang terkena badai PHK tahun lalu.
Harga barang-barang yang naik menjelang hari raya juga jadi beban lain. Ini memang fenomena yang lumrah menjelang hari raya, tapi tahun ini rasanya lebih berat. Nyatanya kenaikan harga atau inflasi lebih tinggi dibanding Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Pantas saja.
Terlebih bagi mereka yang THR-nya masih berdasar skema gaji 2025. Iya sudah ada skema yang ditetapkan pemerintah soal besaran tunjangan yang seharusnya diberikan ke karyawan. Tapi, masih ada saja HRD yang berkilah. Karena Lebaran datang di kuartal 1 2026, beberapa perusahaan belum melakukan penyesuaian THR seturut UMR baru.
THR itu Tunjangan Hari Runyam
THR tidak lagi jadi tunjangan hari raya. Tapi, jadi tunjangan hari runyam. Runyam karena kondisi ekonomi mencekik. Runyam karena makin mahal untuk waras. Dan, runyam karena ada saja alasan untuk kita makin tertekan setiap bangun tidur.
Aku juga sudah lupa rasanya dapat THR. Jika beberapa tahun lalu THR masih meninggalkan aftertaste di bulan ke-3, sekarang hanyalah prasasti slip digital. Sebuah tanda kalau Prabu Yudianto pernah dapat THR. Sedangkan sisanya sudah ludes dilahap ekonomi yang ambruk.
Jadi kencangkan ikat pinggangmu. Juga pijit kepalamu kuat-kuat. Karena badai belum berlalu, bahkan baru dimulai. Tapi, tenang saja. THR yang ludes sebelum hari raya adalah hari burukmu sejauh ini. Besok? JELAS LEBIH BURUK!
Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















