Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tangerang Selatan dan Jakarta Sama Aja, Sama-sama Baiknya Ditinggalkan

Andi Hidayat oleh Andi Hidayat
15 Oktober 2024
A A
Tangerang Selatan dan Jakarta Sama Aja, Sama-sama Baiknya Ditinggalkan

Tangerang Selatan dan Jakarta Sama Aja, Sama-sama Baiknya Ditinggalkan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Harga makanan sama mahalnya

Waktu awal merantau, saya memilih tinggal di Tangerang Selatan karena harga makanan di sini tergolong murah. Dulu saya masih bisa menemukan warung makan yang menyediakan nasi, sayur, tempe orek, dan ikan tongkol seharga Rp13 ribu. Tentu harga tersebut masih terjangkau saat upah minimum Kota Tangerang Selatan masih berkisar Rp3,6 juta per bulan.

Tapi sekarang, harga seporsi nasi goreng gerobakan di Tangsel setara harga makanan di Cikini Jakarta, yakni Rp20 ribuan. Begitu juga masakan di rumah makan yang terkenal murah, di sana saya bisa menghabiskan uang Rp16 ribu untuk makan nasi sayur buncis dan kentang mustopa. Padahal kan upah minimum di sini Rp4,6 juta, selisihnya lumayan kalau dibandingka Jakarta yang upah minimumnya menyentuh angka Rp5 jutaan.

Dua kota mandiri pertegas ketimpangan infrastruktur di Tangerang Selatan

Tangerang Selatan sendiri tercatat punya tujuh kecamatan. Ketujuh kecamatan itu adalah Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara, dan Setu. Dari tujuh kecamatan, hanya Serpong dan Pondok Aren yang memiliki tata letak kota lebih baik. Gimana nggak, dua kecamatan itu masuk dalam kawasan dua kota mandiri.

Jika membandingkan Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Ciputat, sudah tentu dua dunia yang berbeda. Pondok Aren terhitung punya 3 mall dengan ruas trotoar jumbo di depannya yang selalu jadi pilihan malam minggu muda-mudi Tangerang Selatan. Ciputat juga punya Ramayana, posisinya pas di turunan fly over, di seberang Pasar Ciputat yang modernnya ragu-ragu.

Jika dibandingkan Jakarta, jelas nggak ada bedanya. Ketimpangan infrastruktur Jakarta bisa dilihat langsung sepanjang jalur KRL Pondok Ranji hingga Tanah Abang, begitu jalur KRL yang melingkar di Jakarta. Trotoar-trotoar jumbo juga cuma bisa ditemui di kawasan Jenderal Sudirman-M.H Thamrin.

Kehadiran dua kota mandiri mempertegas ketimpangan infrastruktur di Tangerang Selatan. Di Jakarta, tanpa kota mandiri pun ketimpangan infrastruktur jelas terlihat meski didapuk jadi pusat ekonomi setelah ibu kota dipindah.

Cuma punya gedung arsip, bukan perpustakaan daerah

Sebagai lulusan Sastra Indonesia dari salah satu kampus kebanggaan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, saya sendiri bingung dengan kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tangerang Selatan. Pernah sekali saya berkunjung ke sana, dengan harapan banyak menemukan buku-buku dari penulis besar. Sesampainya di gedung utama perpustakaan itu, sejauh pandangan mata saya, hanya ada buku resep masakan dan buku anak.

Padahal moto Pemerintah Kota Tangerang Selatan “cerdas, modern, dan religius”, gimana caranya kalau jendela dunia saja terbatas? Tapi paling nggak, Tangerang Selatan punya Perpustakaan Pahala, yang dikelola per orangan. Jaraknya nggak lebih dari 3 kilometer dari Stasiun Sudimara. Di sana saya banyak temukan novel-novel dari penulis beken, dalam dan luar negeri.

Baca Juga:

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Intinya, upaya memperdalam khazanah kesusastraan lebih baik di Perpustakaan Pahala ketimbang yang dikelola Pemerintah Kota. Padahal penulis Tangerang Selatan pun nggak kalah bersaing karyanya, lihat saja rekam jejak Radhar Panca Dahana.

Panas banget, nggak cukup pakai dua kipas

Secara rata-rata harian, panas di Tangerang Selatan sendiri nggak jauh berbeda dengan Jakarta, yakni 33 derajat Celcius. Akan tetapi, Jakarta lebih unggul lantaran Tangerang Selatan punya Kecamatan Ciputat yang sempat disematkan wilayah terpanas di Indonesia dengan suhu 37,2 derajat Celcius.

Panasnya Tangerang Selatan agaknya perlu dimaklumi. Kenapa? Berdasarkan hasil studi salah satu dosen di kampus saya, kegiatan ekonomi di kota ini masih didominasi sektor real estate dengan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 12.503,61 di tahun 2022. Itulah kenapa ada dua kota mandiri di kota ini.

Tapi anehnya, para pengusaha real estate di sini seolah tak tahu malu. Seenaknya saja memberi nama Asri, Hijau, hingga Rimbun, untuk kluster-kluster yang dibangun lewat proses alih fungsi lahan rawa yang buat kota ini nyaris sepanas Myanmar. Jujur saja, jika sedang terik-teriknya, ada dua kipas dalam satu kamar kos saja rasanya kurang.

Begitulah rasanya tinggal di Tangerang Selatan yang sama saja penuh masalah seperti Jakarta. Memang kota satu ini semakin berkembang, tapi saya rasa memang baiknya ditinggalkan saja biar nggak sambat mulu setiap hari.

Penulis: Andi Hidayat
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Unpopular Opinion: Ulasan di Google Maps Lebih Valid daripada TikTok untuk Rekomendasi Tempat Wisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2024 oleh

Tags: Jakartatangerang selatan
Andi Hidayat

Andi Hidayat

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Warung Makan Underrated di Tebet yang Wajib Dicoba

5 Rekomendasi Warung Makan Underrated di Tebet yang Wajib Dicoba

19 September 2022
Saya Pengguna Setia Transjakarta dan Setuju kalau Tarifnya Naik asal 4 Hal Ini Terpenuhi Mojok.co

Saya Pengguna Setia Transjakarta dan Setuju kalau Tarifnya Naik asal 4 Hal Ini Terpenuhi

29 November 2025
BSD City Kota Elite, Angkutan Umum Sulit Terminal Mojok

BSD City: Kota Elite, Angkutan Umum Sulit

26 Oktober 2022
4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja Mojok.co

4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja

12 Maret 2025
halte bus transjakarta

Jangan Naik Transjakarta Jika Terburu-buru

17 November 2021
Bintara, Jalur Penghubung Bekasi dan Jakarta Paling Cepat Sekaligus Paling Horor di Antara Jalur Lainnya

Bintara, Jalur Penghubung Bekasi dan Jakarta Paling Cepat Sekaligus Paling Horor di Antara Jalur Lainnya

24 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.