Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Muhammad Syifa Zam Zami oleh Muhammad Syifa Zam Zami
22 November 2025
A A
Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Harga tanah di Durenan Trenggalek ternyata sudah tak terjangkau…

Bagi sebagian orang, mungkin yang terlintas di kepala begitu mendengar nama Trenggalek adalah kota kecil yang adem, slow living, pantai yang indah, dan tentu saja biaya hidup yang murah meriah. Stereotipe “hidup di desa pasti hemat” itu menempel kuat sekali di kepala orang-orang kota.

Jujur saja, dulu saya pun berpikiran demikian. Sebagai putra daerah yang kini sedang mengadu nasib menjadi budak korporat di Surabaya, saya sempat memelihara rasa percaya diri yang agak berlebih. Hitungan matematis saya sederhana: saya bekerja di kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. UMK Surabaya itu tinggi, Bos—setidaknya jika dibandingkan dengan UMK Trenggalek yang angkanya sangat menjaga “kearifan lokal”.

Dalam bayangan saya yang naif, dengan gaji standar Surabaya, saya bisa pulang ke kampung halaman dengan membusungkan dada. Niat hati ingin membeli sepetak tanah di tanah kelahiran untuk masa depan. Namun, realitas di lapangan ternyata menampar dompet saya dengan sangat keras.

Saat saya mulai iseng survei harga tanah di sekitar rumah saya di Durenan Trenggalek. Arogansi saya sebagai pekerja bergaji Surabaya luntur seketika. Dompet saya mendadak insecure dan mental saya langsung kena.

Gaji Surabaya saya tidak ada harganya di Durenan Trenggalek

Mari kita bedah keanehannya. Durenan itu kecamatan. Letaknya memang strategis karena jadi pintu masuk Trenggalek dari arah Tulungagung. Tapi tetap saja, ini “desa” dalam kacamata tata kota. Harusnya murah, dong? Salah besar.

Harga tanah di pinggir jalan raya Durenan Trenggalek, atau bahkan yang masuk gang sedikit saja, angkanya sudah di luar nalar sehat pekerja kantoran biasa. Di sini, kami terbiasa menggunakan satuan luas tanah “Ru” (1 Ru sekitar 14 meter persegi).

Ketika makelar tanah menyebut harga per Ru-nya, rasanya mak-deg di hati. Harganya sudah puluhan juta per Ru! Kalau dikonversi ke meter persegi dan dikalikan luas standar rumah layak huni, harganya sudah setara dengan rumah subsidi—atau bahkan komersil—di daerah penyangga Surabaya seperti Sidoarjo atau Gresik.

Baca Juga:

‎Lupakan Gaji 5 Juta, Pertimbangkan Hal Ini sebelum Menetap di Gresik!

5 Hal yang Biasa di Surabaya, tapi Luar Biasa di Trenggalek

Saya sampai membatin, “Ini saya yang gajinya kurang, atau Durenan Trenggalek diam-diam sudah pindah lokasi ke sebelah Pakuwon Mall?”

Setelah riset kecil-kecilan (baca: ngerumpi di warung kopi), saya menemukan biang keroknya. Kenapa harga tanah di desa ini bisa ugal-ugalan? Jawabannya bukan karena tanahnya mengandung emas atau nikel. Penyebab utamanya adalah Durenan (dan banyak wilayah di Trenggalek serta Tulungagung) merupakan lumbung TKI yang sukses besar!

Pil pahit yang harus ditelan

Ini adalah pil pahit yang harus saya telan: saingan saya untuk membeli tanah di Durenan Trenggalek bukanlah sesama pekerja lokal, bukan pula sesama perantau Surabaya yang pulang tiap lebaran. Saingan saya adalah para “sultan devisa” yang gajinya menggunakan mata uang Won Korea, Yen Jepang, dan Dolar Taiwan.

Hukum ekonominya sederhana tapi brutal: supply tanah terbatas, tapi demand-nya berduit tebal. Ketika mas-mas dan mbak-mbak pahlawan devisa ini pulang atau mengirim uang, instrumen investasi yang paling seksi dan bergengsi di mata orang tua di kampung adalah: tanah dan rumah.

Mereka membeli tanah dengan mekanisme pasar yang “merusak” harga pasaran lokal.

“Tanah ini dijual berapa, Pak?”

“200 juta.”

“Oke, sikat. Cash.”

Tanpa nawar, tanpa KPR, dan tanpa drama BI Checking. Para pemilik tanah pun jadi tuman. Mereka mematok harga tanah bukan berdasarkan daya beli masyarakat lokal atau UMR Trenggalek, melainkan berdasarkan standar gaji luar negeri. Akibatnya, harga tanah di Durenan Trenggalek meroket menembus langit ke tujuh.

Bagi mas-mas eks-Korea, tanah harga segitu mungkin cuma butuh gaji beberapa bulan. Bagi saya yang digaji Rupiah di Surabaya? Saya harus puasa Daud dan lembur bagai kuda. Itu pun mungkin baru dapat DP-nya.

Fenomena “Dolar masuk desa” ini menciptakan pemandangan yang ironis di Durenan Trenggalek. Coba Anda lewat, di kanan-kiri jalan berdiri rumah-rumah gedong magrong-magrong bertingkat dua. Lengkap dengan pilar tinggi menjulang dan pagar stainless steel yang berkilauan. Mewah sekali.

Tapi coba perhatikan lebih jeli. Banyak dari rumah mewah itu kosong melompong. Gelap gulita di malam hari. Rumah-rumah itu dibangun sebagai “monumen kesuksesan”, prasasti bahwa si pemilik sukses di negeri orang. Sementara pemiliknya masih memeras keringat di luar negeri, rumah itu berdiri gagah, menertawakan kami yang lewat naik motor kreditan.

Tanah dan rumah di Durenan Trenggalek berubah fungsi

Tanah dan rumah di Durenan Trenggalek telah berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat hunian, tapi aset prestise. Dampaknya? Warga lokal yang bekerja di sektor biasa, atau perantau tanggung macam saya yang kerjanya di Surabaya, perlahan tersingkir. Kami dipaksa minggir mencari tanah ke pelosok gunung atau daerah yang sinyal internetnya masih 2G, karena area strategis Durenan sudah dikuasai standar harga internasional.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang menyedihkan. Bekerja di Surabaya ternyata hanya cukup untuk membiayai gaya hidup di Surabaya, tapi tidak cukup “sakti” untuk membeli tanah di kampung halaman sendiri.

Jadi, bagi Anda yang ingin menetap di Durenan Trenggalek tapi modalnya pas-pasan, saran saya cuma dua. Pertama, kubur mimpi itu dalam-dalam, tahu diri, dan carilah mertua yang tuan tanah. Kedua, menyerahlah pada keadaan, resign dari pekerjaan di kota, urus paspor, dan jadilah TKI seperti mereka.

Penulis: Muhammad Syifa Zamzami
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Hal Nggak Enaknya Tinggal di Trenggalek.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 November 2025 oleh

Tags: durenan trenggalekgaji umrharga rumahharga tanahkabupaten trenggalektrenggalekUMR
Muhammad Syifa Zam Zami

Muhammad Syifa Zam Zami

Penyuka warna biru.

ArtikelTerkait

harvest moon mineral town mojok.co

Menghitung UMR Mineral Town, Desa Dalam Gim Harvest Moon Back to Nature

7 Juli 2020
8 Pantai di Kabupaten Trenggalek yang Worth It untuk Didatangi terminal mojok.co

8 Pantai di Kabupaten Trenggalek yang Worth It untuk Didatangi

8 Desember 2021
Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi MOJOK.CO

Jangan Beli Rumah di Jakarta Biar Hemat Energi

10 Agustus 2020
Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

3 Hal Keliru tentang Jogja yang Telanjur Diyakini oleh Banyak Orang

19 Juni 2022
Kok Bisa Banyak Restoran Mewah di Kota Pekalongan, padahal UMR-nya Kecil Terminal Mojok

Kok Bisa Banyak Restoran Mewah di Kota Pekalongan, padahal UMR-nya Kecil?

1 Februari 2023
Susahnya Mendapat Gaji UMR di Tangerang, Kota Penyangga Jakarta: Kerja Serius, Gajinya Bercanda

Susahnya Mendapat Gaji UMR di Tangerang, Kota Penyangga Jakarta: Kerja Serius, Gajinya Bercanda

11 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.