Menghitung UMR Mineral Town, Desa Dalam Gim Harvest Moon Back to Nature

Artikel

Gusti Aditya

Banyak mitos dalam gim Harvest Moon Back to Nature, salah satunya ada sebuah jalan yang bisa menghubungkan desa dengan kota. Di kota yang menjadi mitos tersebut, kita bisa mengendarai mobil, belanja di mall dan masih banyak lagi. Aneh memang jika mempercayai mitos tersebut. Namun, kebanyakan anak jaman dulu pasti percaya. Salah satunya adalah saya.

Pertanyaannya, kenapa mitos tersebut dipercaya? Jawabannya jelas karena penasaran. Gim yang hanya berseting di desa saja rasanya sangat memuaskan, apa lagi ada kota dan bisa menjelajah, begitu pragmatisnya. Pikiran anak-anak jaman tersebut mengembara kemana-mana, bahkan ada pikiran apakah bisa punya istri dua. Kalau itu pasti bisa, tinggal ikut seminar Coach Hadifin.

Dan kita tidak pernah tahu bahwa Mineral Town itu ada di Amerika, Jepang Inggris atau malah di Indonesia. Bukan berarti Natsume ada Jepang jadi desa Mineral Town juga ada di jepang. Ya, itu tidak penting juga. Yang penting sekarang, jika Natsume tidak membangun kota, kita bisa paham betapa makmurnya Mineral Town atas sumber daya desa yang melimpah. Di mana pun tempatnya.

Ngomong apa sih, asembuh.

Tapi ada pertanyaan yang sempat bikin saya penasaran banget. Berapa upah minimum yang diberikan pelaku industri dalam memberi upah pekerja dan buruh Mineral Town? Apakah iya sesuai dengan keadaan syahdu dan terlihat makmur di dalam desanya?

Daripada saya tidak bisa tidur (lagi), melalui penelitian saya, berikut adalah hal-hal yang bisa digunakan untuk menebak berapa UMR di Mineral Town.

Pertama, kita harus melihat betapa sendunya kisah hidup Cliff. Pria berbaju coklat bladrus yang sering terlihat berdoa di Gereja sekaligus saingan kamu untuk bribik Ann adalah pengangguran yang kaffah. Luntang-lantung nggak jelas di desa, nggak punya banyak uang. Cliff bahkan beberapa kali diberi makan bribikannya, Ann, dalam beberapa event, salah satunya ketika Spring tahun pertama di penginapan.

Baca Juga:  Galaunya Si Marijuana: Haruskah Dilegalkan atau Tidak?

Ann bertanya kepada Cliff, kenapa ia menetap lama di penginapan. Ini saya curiga, pasti si Ann ingin bertanya kapan Cliff punya kerja biar nggak gaje keliling desa. Cliff hanya bilang “what” kalau nggak salah. Dari sini kita paham ada dua kemungkinan. Pertama, Cliff emang males. Dan kedua, gaji di Mineral Town nggak besar-besar amat.

Kedua, mata uang. Di Harvest Moon, semua mata uang menggunakan hitungan G (Gold). Berapa rupiah satu G? Kita beranjak dahulu ke Poultry Farm, peternakan milik Mbak Lillia. Di sana, satu sak kecil pakan ayam diberi harga 10 G. Kita nggak tahu bagaimana kualitas dan kandungannya. Menengok Mbak Lillia sangat profesional, ia tak mungkin menjajakan pakan ayam kualitas biasa saja macam limbah gandum.

Saya yakin isinya bekatul, namun dicampur dengan beberapa penambah nutrisi dan gizi ala ramuan trah Mbak Lillia. Di dekat rumah saya, satu kilogram bekatul campuran berada di harga lima ribu sampai enam ribu. Warga desa atau kenalan bisa dapat lebih murah. Jadi, jika 10 G itu sama dengan katakanlah 5 ribu rupiah, maka 1 G sama dengan 500 rupiah.

Ketiga, karakter di dalam Harvest Moon banyak yang memilih menjadi pengusaha, petani atau pekerja tambang lepasan ketimbang ikut bekerja bersama orang lain. Hal ini dikarenakan lebih menguntungkan ketimbang ikut bekerja kepada orang lain. Pol mentok ya nasibnya bakal menjadi Cliff yang nggak kaya-kaya. Misalkan menjadi petani dan menanam tomat. Harga satu sak benih tomat 200 G, harga jual satu tomat 60 G, keuntungan jika menanam sembilan petak tanah adalah 540 G.

Dikutip dari Back to Nature Fandom (semacam wiki untuk Harvest Moon), maksimal panen tomat 6 kali dalam range waktu tumbuh 9 hari. Maka, dengan modal nggak seberapa, kita bisa untung 3200 G lebih atau satu juta enam ratus ribu rupiah. Belum profesi lain semisal Gotz si tukang kayu, Zack si kuli panggul pengangkut hasil panenmu, hingga Basil si ahli petani yang gemar menulis. Dari mana Basil mendapatkan uang? Hasil penelitian? Bukan. Dari sumber yang nggak bisa dipercaya, ia mendapatkan uang dari menulis di Terminal Mojok.

Baca Juga:  Menghitung Besaran UMR Bikini Bottom

Dengan alamnya yang syahdu dan tenang, biaya hidup murah, bukan berarti UMR di Mineral Town baik-baik saja. Kenapa? Jelas, semenyenangkan-menyenangkannya Mineral Town, jika upahnya nggak berperikemanusiaan sih buat apa. Semisal biaya kesehatan warganya. Check-up memang murah, sekitar 10 G sepeti harga satu sak bekatul, tapi obatnya itu lho 500 G. Sama seperti keuntungan panen 8 petak terong.

Mayor yang kerjaannya hanya jalan-jalan dan sibuk buat acara-acara nggak mampu mengurus kestabilan gaji penduduknya dengan baik. Buktinya, ada cukong ilegal bernama Won yang menjual Super Ultra Great Delicious Wonderful Apple, padahal ia hanya penipu.

Penduduk di Mineral Town bisa dibilang sangat timpang. Ada orang kaya, ada pula yang sangat miskin. Dan yang miskin atau biasa saja, kebanyakan adalah mereka yang bekerja untuk orang lain. Menengok dari semua poin, bisa disimpulkan bahwa UMR di Mineral Town ada di angka 3000 G seperti hasil panen 27 petak ubi dalam satu bulan. 3000 G itu sekitar 1,5 juta, sebuah angka yang tidak seberapa menengok hasil panen dan ternak kita yang melimpah. Semoga Mayor Mineral Town membaca tulisan ini.

BACA JUGA No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
24


Komentar

Comments are closed.