Tak Hanya Folk dan Senja, Kini Kopi Juga Identik dengan Metalhead – Terminal Mojok

Tak Hanya Folk dan Senja, Kini Kopi Juga Identik dengan Metalhead

Artikel

Avatar

Kopi-senja-kopi-senja-maag merupakan celetukan yang udah nggak asing lagi di telinga pemuda pemudi di seluruh Indonesia. Beberapa tahun terakhir, kopi dan senja ini bak sepasang remaja yang tengah dimabuk asmara: melebur menjadi sebuah kesatuan yang sulit dipisahkan satu sama lain. Terlebih, hubungan keduanya itu kerap diromantisasi oleh musisi-musisi indie-folk tanah air. Akan tetapi, di belahan bumi lainnya, romantisasi kopi justru dilakukan oleh para musisi metalhead. Yha, meskipun tanpa iming-iming senja.

Misalnya saja band rock ‘70-an asal Amerika, Kiss. Band yang diinisiasi oleh Gene Simmons, Paul Stanley, Peter Criss, dan Ace Frehley itu akan segera merilis kopinya sendiri 2021 mendatang. Hal itu diumumkan melalui akun Instagram resmi Dead Sled Coffee—perusahaan kopi independen yang bermitra dengan Kiss—pada Senin (21/12).

Tak jauh sebelum Kiss mengumumkan produk kopinya, band kenamaan Amerika lainnya, Lamb Of God, via akun Instagram @lambofgodcoffee, juga baru saja merilis signature coffee keduanya yang berjudul “Overlord Dark Roast”. Sebelumnya, band yang pernah tampil di Stadion Gelora Bung Karno dalam helatan Hammersonic 2015 itu sukses dengan signature coffee pertamanya, “Memento Mori”, yang dirilis pada pertengahan 2020. Ide merilis produk kopi itu tercetus dari sang gitaris, Willie Adler, yang memang hobinya nge-roasting biji kopi secara do-it-yourself. Selain itu, band metal asal Virginia itu memang suka mengeksplor coffee shop di setiap tempat baru setiap kali mereka tur dunia.

Tapi, kopi bukan ”anak kemaren sore senja” di skena musik cadas. Pada 2015, band yang pernah menemani masa-masa remaja para generasi Z, Green Day, lebih dahulu melebarkan sayapnya di industri kopi dengan nama brand Oakland Coffee. Namun, duo Billie Joe Armstrong dan Mike Dirnt itu nggak merilis kopinya sebagai merchandise band, melainkan sebagai personal. Akan tetapi, mereka tetap saja membawa idealisme Green Day pada produk kopinya: menjual biji kopi organik dengan kemasan compostable alias bisa didaur ulang. Sebuah langkah yang benar-benar senada dengan Green Day yang sering berkampanye tentang lingkungan melalui lagu-lagunya. Yha, nggak heran, sih, namanya aja Green Day!

Selain itu, Kirk Hammett, juga pernah merilis produk kopinya sendiri. Gitaris Metallica itu menggandeng KHDK Electronics, perusahaan pedal gitar miliknya, dengan Dark Matter Coffe, perusahaan kopi asal Chicago. Produknya itu dirilis pada tahun 2017 dengan nama Ghoul Screamer, nama yang sama dengan signature pedal miliknya.

Jika ditilik secara geografis, memang hubungan kopi dan metalhead seperti yang telah dijabarkan di atas agaknya cuma di Amerika Serikat saja. Tapi, nama-nama musisi asal negeri Paman Sam itu tentunya memiliki popularitas di level internasional, terkhusus di Indonesia. Bahkan, kayaknya udah hampir semua orang pernah denger nama Metallica, tak hanya metalhead saja. Terlebih, Presiden negara ini aja fans berat salah satu band dari “The Big Four Thrash Metal” itu. Kalau pun ada yang nggak tau Metallica, tapi kalo denger intro “Enter Sandman” atau “Nothing Else Matters”, saya sangat yakin telinga mereka udah cukup akrab dengan hentakan-hentakan gitar yang lahir dari jari-jemari Kirk Hammett itu.

Selain itu, berdasar pandangan filosofis abal-abal saya, agaknya akan lebih masuk akal jika kopi itu diindetikan dengan musik metal, atau bahkan punk. Sebab, selain keduanya sama-sama memiliki citra berwarna hitam dan karakter yang heavy, kopi dan musik metal juga sama-sama mengandung trinitas bitter, sweet, and acid. Di sisi lain, senja, dari warnanya saja sudah fana merah jambu: Di depan teras rumah~ Lalu, indie-folk, suara petikan gitarnya pun sangat jauh dari kata heavy—ya kali gitar akustik dipakein efek overdrive atau metalzone.

Namun, pandangan saya itu tentunya sangat tidak berbobot. Pada hakikatnya, tetap saja jika menikmati kopi itu merupakan hak semua bangsa. Pun dengan menikmati musik; entah itu metal, punk, atau indie-folk dengan iming-iming senjanya. Kopi dan senja, atau kopi dan metalhead, yang terpentingnya adalah esensi dari semua itu: ngopi dan bersantai menikmati pahitnya hidup. Maka, mari bersantailah sejenak. Hidup ini cuma sekali, sayang sekali kalo nggak banyak-banyak ngopi.

BACA JUGA Serigala Terakhir The Series: Film Aksi yang Malah Lebih Mirip Sinetron! dan tulisan Nanda Naradhipa lainnya.

Baca Juga:  5 Alasan Sebaiknya Kita Nggak Daftar dan Pakai Shopee Paylater
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.