Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Tahu Tek Surabaya Lebih Enak daripada Tahu Tek Sidoarjo

Dini N. Rizeki oleh Dini N. Rizeki
30 November 2021
A A
Tahu Tek Surabaya Lebih Enak daripada Tahu Tek Sidoarjo terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Bagi kalian yang tinggal di daerah Jawa Timur, nama tahu tek pasti sudah akrab banget di telinga. Saya tidak bisa bilang ini makanan favorit masyarakat karena faktanya memang ada beberapa orang yang kurang suka dengan makanan ini. Sebab, ada campuran petis dalam bumbunya

Bagi yang belum paham, tahu tek itu makanan yang konon katanya asli dari daerah Lamongan. Ia dibuat dari tahu goreng yang ditambah dengan campuran tauge, lalu disiram bumbu petis dan dikasih tambahan kerupuk. Bumbu petisnya sendiri adalah campuran kacang tanah goreng, bawang putih, cabai (ini opsional ya), garam, sedikit air, dan petis. Katanya biar semakin sedap, petis yang dipakai tuh harus petis Sidoarjo yang memang terkenal enak banget.

Iya, petis Sidoarjo memang sedap. Tapiii, tahu tek ala Sidoarjo nggak approved. Terus terang, ini adalah makanan kesukaan saya. Karena saya domisili Surabaya dan Sidoarjo, otomatis saya tahu perbedaan penyajiannya di dua daerah ini. Ini murni pendapat dan referensi pribadi, tapi sorry to say, Surabaya wins.

Kok bisa?

Pertama, tahu tek Surabaya lebih banyak menggunakan petis Madura atau petis Surabaya sendiri pada campuran bumbunya. Rasanya ini lebih cocok di lidah saya. Bedanya apa? Petis Madura itu umumnya dibuat dari kaldu ikan atau udang yang dimasak sampai jadi adonan pekat. Biasanya, proses produksi petis di sana dibuat bersamaan dengan ikan pindang. Jadi, air yang keluar dari proses pembuatan ikan pindang itulah yang dijadikan bahan dasar petis. Di Surabaya pun bahannya sama. Hanya berbeda pada proses pembuatannya. Kali ini, kepala ikan biasanya dicampur dengan air, dihaluskan, lalu disaring.

Sedangkan di Sidoarjo, dengan proses pembuatan yang hampir mirip dengan di Surabaya, tapi hasil petisnya berwarna lebih gelap dan pekat. Perbedaan ini yang menyebabkan rasa petis ini juga berbeda. Petis Madura cenderung lebih asin, yang otomatis menimbulkan kesan tersendiri di bumbu tahu tek yang uwenaaak banget.

Kedua, jenis tauge. Di Surabaya, tauge yang dipakai untuk campuran tahu tek adalah tauge kecil dari kacang hijau yang persemaiannya masih beberapa hari saja. Tauge ini sama persis kayak yang biasa dipakai jadi campuran rawon. Di sini biasanya tauge hanya dicuci bersih dan tidak dimasak. Jadi, saat dimakan tuh ada sensasi kriyes-kriyes begitu di mulut.

Sementara tauge yang dipakai di tahu tek Sidoarjo adalah tauge yang sudah agak dewasa. Sama-sama berasal dari persemaian kacang hijau, tapi tauge yang ini umurnya sedikit lebih tua daripada tauge rawon. Dan, sebelum disajikan, biasanya tauge ini direbus dulu (ada juga yang digoreng sekilas di minyak panas). Alamakjan, jadi lembek-lembek begitu, kan? Ini yang bikin kalau kita pesan tahu tek tapi nggak langsung dihabiskan, tahu teknya akan berair.

Baca Juga:

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

Ketiga, perbedaan juga terlihat kalau kita memesan tahu telur. Jadi, tahu telur itu adalah tahu tek yang dikasih tambahan telur dadar. Nah, kalau di Surabaya, saat kita pesan tahu telur, si penjual bakal mencampurkan tahu yang sudah digoreng ke dalam kocokan telur. Lalu, masih akan ditambahi dengan irisan daun bawang yang melimpah ruah. Beuh, ini kalau pas digoreng, aromanya bisa ke mana-mana.

Tapi, kalau di Sidoarjo, telur dadarnya akan dikocok dan digoreng begitu saja. Tidak dicampur dengan tahunya. Ya, walau ada sih penjual yang mengadopsi cara penyajian Surabaya, tapi bisa dibilang lumayan jarang.

Keempat, tambahan timun dalam tahu tek. Di Surabaya biasanya yang digunakan adalah acar timun, kalau di Sidoarjo hanya timun biasa yang diiris kecil-kecil menyerupai acar.

Dari perbedaan-perbedaan di atas, selera lidah saya pribadi lebih condong ke tahu tek Surabaya. Sejak kecil, saya doyan menempel ke penjual tahu tek setiap kali memesan, yang membuat saya tahu benar langkah-langkah pembuatannya. (Salam buat Cak Toni sama Cak Benu, bakul tahu tek di Gubeng Kertajaya. Mwah!)

Bagi yang mungkin masih penasaran kenapa makanan ini dikasih nama tahu tek, alasannya adalah karena si penjual biasanya memakai garpu dan gunting besi (seperti gunting tukang jahit) untuk memotong semua bahannya. Perpaduan dua alat ini saat dipakai menimbulkan suara tek-tek yang khas. Selain itu, saat berkeliling dengan gerobaknya, si penjual memukulkan sutil ke wajan yang dipakai untuk menggoreng itu. Suaranya ya tek-tek juga. Begituuu.

Oh iya, penyebutan nama tahu tek ini ternyata berbeda-beda lho di beberapa daerah. Ada yang menyebutnya tahu lontong atau lontong tahu. Intinya, sih, bahan dan bumbunya mungkin sama, berbeda di sebutan dan cara penyajian saja. Kalau di tempat kalian, namanya apa?

Sumber Gambar: Unsplash.com

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2021 oleh

Tags: pilihan redaksiSidoarjoSurabayaTahu Tek
Dini N. Rizeki

Dini N. Rizeki

Penulis, editor, copywriter, sekaligus seorang ibu. Sering menulis tentang bisnis, keuangan, wirausaha, hingga kuliner. Saat ini sedang asyik menulis ulasan film.

ArtikelTerkait

Kata Siapa Surabaya Romantis kalau Malam Hari? Lebih Ngeri sih, Iya!

Sebenarnya, Surabaya Maunya Jadi Apa?

5 Desember 2023
Akun Twitter Fikayo Tomori

Fikayo Menuju Maestro

2 Oktober 2021
Ria Ricis Memang Ibu Masa Kini yang Cerdas tapi Nggak Perlu Digagas (Ria Ricis via Wikimedia Commons)

Ria Ricis Memang Ibu Masa Kini yang Cerdas tapi Nggak Perlu Digagas

5 Januari 2023
4 Mobil Toyota yang Remuk Redam di Pasaran Terminal Mojok

4 Mobil Toyota yang Remuk Redam di Pasaran

24 April 2022
Jurusan Teknik Istimewa di Mata Orang Cikarang, Jurusan Non-Teknik Cuma Nambah Pengangguran

Jurusan Teknik Istimewa di Mata Orang Cikarang, Jurusan Non-Teknik Cuma Nambah Pengangguran

16 Oktober 2023
4 Dosa Shopee kepada Buyer, Mending Tobat Sebelum Ditinggalkan

4 Dosa Shopee kepada Buyer, Mending Tobat Sebelum Ditinggalkan

9 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
5 Kuliner Bandungan Semarang yang Pantang kalau Dilewatkan Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Bandungan Semarang yang Sayang kalau Dilewatkan Wisatawan

20 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.