Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Syarat Lowongan “Berpenampilan Menarik” dan Eksploitasi Perempuan

Pandu Wijaya Saputra oleh Pandu Wijaya Saputra
10 Desember 2020
A A
Syarat Lowongan "Berpenampilan Menarik" dan Eksploitasi pada Perempuan Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari saat sedang asik berselancar di internet, saya melihat poster pengumuman lowongan pekerjaan. Sebuah perusahaan ternama membutuhkan seorang manager marketing, salah satu syaratnya “wanita berpenampilan menarik”. Ketika saya masuk ke situs tersebut, muncul banyak iklan pekerjaan. Beberapa posisi seperti sekretaris, front office, dan sales mensyaratkan hal yang sama: wanita berpenampilan menarik.

Tak perlu susah-susah menafsirkan makna “menarik” pada lowongan itu, kita tentu langsung tahu bahwa maksudnya “cantik”. Ya, kita paham pekerjaan-pekerjaan tertentu lazim diisi wanita muda dan berparas cantik.

Kecantikan dan keindahan fisik telah lama dilekatkan pada wanita. Oleh karena itu, wanita pun kerap menjadi objek. Dahulu, khususnya di Jawa, wanita “dibuat” indah demi menjadi properti yang layak bagi kaum laki-laki. Mereka disiapkan untuk bisa dinikahkan dengan pria pilihan orang tua. Sebuah bentuk eksploitasi perempuan yang terjadi sejak dulu.

Mari kita baca sedikit surat Kartini pada sahabat penanya yang menggambarkan nasib wanita saat itu:

‘Ketika saya sudah berumur dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah-saya mesti masuk “tutupan”; saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada serta suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami.’

Bagi kalangan priyai, wanita menjadi simbol paripurna sebuah keutuhan hidup pria Jawa. Sementara dalam keluarga, mereka adalah konco wingking. Urusannya hanyalah dapur dan kasur. Para wanita dididik dan dibesarkan hanya supaya kelak bisa mengurusi pekerjaan domestik.

‘Tangan dan kaki kami masih terbelenggu; masih terikat pada hukum, adat istiadat dan kebiasaan negeri kami”  (Surat Kartini pada Estelle H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).’

Dalam dunia modern, harkat wanita mulai terangkat. Mereka diberi kesetaraan dengan kaum pria dalam segala hal, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Namun, persepsi bahwa wanita adalah objek tak lantas hilang. Ia masih ada dalam wujud lain. Wanita dan kecantikan sekarang menjadi sebuah komoditas, sebuah bentuk eksploitasi pada perempuan.

Baca Juga:

Memori Tubuh Kami oleh Fadiyah Alaidrus: Menghadapi Diskriminasi dan Eksploitasi Seksual

Akui Saja, Pariwisata Jogja Memang Sudah Menemui Titik Jenuhnya

Kini, wanita dan kecantikan seolah dikaitkan dengan make-up, perhiasan, glamor, dan menor. Ia juga menjadi suatu magnet penjualan. Kita melihat wanita selalu jadi garda terdepan untuk mengeruk laba. Di TV saja kita bisa melihat para wanita menjadi model segala produk mulai dari kosmetik, perhiasan, sabun, rokok, makanan, elektronik bahkan pompa air.

Di pameran para wanita dihadirkan bersama mobil atau motor keluaran terbaru, biasa disebut usher, dan kita tahu para usher tidak bertugas menjual produk seperti sales. Mereka hanya harus berdiri sambil senyam-senyum. Tugasnya cukup memikat pembeli saja.

Selain kecantikan sebagai komoditas dagang, masyarakat kerap mengasosiasikan kecantikan penampilan dengan status sosial. Semakin terlihat cantik penampilan seseorang, semakin orang mafhum bahwa ia memiliki status sosial tinggi. Atau sebaliknya, semakin tinggi status sosial seseorang, semakin ia harus mempercantik diri dengan make-up, aksesori atau perhiasan. Yah mirip-mirip Bu Tejo, istri pak lurah itu.

Di jagad maya, kita kerap melihat bentuk lain dari kecantikan yang menjadi komoditas. Berkali-kali kita mendapati berita viral tentang pedagang berparas cantik. Misalnya yang sempat heboh: Dewi dan Daniella si penjual angkringan di Solo. Sebelumnya ada Utari, penjaja cilok di Boyolali. Atau Sarah, asisten rumah tangga yang viral karena berparas cantik hingga membuat majikannya minder.

Mereka menarik perhatian publik: cantik tapi kok jualan gituan, jualan gituan tapi kok cantik, pembantu tapi kok cantik, dll. Padahal angkringan, cilok, gorengan, dan asisten rumah tangga identik dengan kelas bawah. Dan biasanya paras penjualnya pun biasa saja. Maka, ketika wanita-wanita itu “ketahuan” publik, orang mencari-cari infonya, berita pun tersebar dan viral. Bahkan kabarnya, dagangan Mbak Dewi, Daniella, dan Utari ludes dalam waktu setengah hari saja!

Kita juga sering mendapati wanita yang sengaja mengunggah foto “cantiknya”. Menurut saya sih itu namanya jualan juga, imbalannya adalah like, follow atau subscribe. Kita menyukai, viral dan ia menjadi tenar. Jadi deh selebriti dunia maya.

Dulu, wanita dan kecantikannya hanya menjadi objek, khususnya bagi pria yang akan dijodohkan dengannya. Kita pun sepakat menolak itu. Setiap bulan November kita turut memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, kita berkampanye menolak eksploitasi perempuan.

Namun sungguh ironi, kecantikan justru dieksploitasi habis-habisan di jagad maya. Dan kita justru merayakannya bersama-sama.

BACA JUGA Inilah 3 Suluk Agar Anda Terhindar dari Sikap Diskriminatif dan tulisan Pandu Wijaya Saputra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2020 oleh

Tags: eksploitasieksploitasi perempuan
Pandu Wijaya Saputra

Pandu Wijaya Saputra

Menjadi manusia berkarakter Mojok

ArtikelTerkait

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara oleh Baim Wong

13 September 2022
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Akui Saja, Pariwisata Jogja Memang Sudah Menemui Titik Jenuhnya

27 Mei 2023
eksploitasi

Benarkah Kpopers Sering Jadi Objek Eksploitasi?

11 Oktober 2019
Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

Program Wisata Unggulan: Investor Makin Kaya, Warga Lokal (Dibikin) Makin Miskin

12 November 2022
keranda terbang coach tom karyawan sakit sabotase bisnis manipulasi karyawan mojok

Logika Karyawan Sakit Sedang Sabotase Bisnis ala Coach Tom Itu Logis

1 Juni 2021
Betapa Bahagianya Jadi Warga Gunungkidul, Jadi Turis di Kampungnya Sendiri

Betapa Bahagianya Jadi Warga Gunungkidul, Jadi Turis di Kampungnya Sendiri

11 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026
4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7 Mojok.co

4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7

10 Januari 2026
Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.