Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Inilah 3 Suluk Agar Anda Terhindar dari Sikap Diskriminatif

Pandu Wijaya Saputra oleh Pandu Wijaya Saputra
20 November 2020
A A
Inilah 3 Suluk Agar Anda Terhindar dari Sikap Diskriminatif terminal mojok.co

Inilah 3 Suluk Agar Anda Terhindar dari Sikap Diskriminatif terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Diskriminasi” menjadi ayat sakti yang banyak dijadikan dalil untuk mengkritik. Pemerintah difatwa diskriminatif dalam membuat kebijakan, aparat disebut diskriminatif dalam menegakkan hukum, organisasi masyarakat dituding bertindak sendiri secara diskriminatif, media pun tak luput dari label tersebut dalam pemberitaan. Bahkan, baru-baru ini gubernur DKI divonis tebang pilih dalam menegakkan protokol Covid-19.

Tapi, diskriminasi di Indonesia tak selalu seterang gambaran diskriminasi dalam kebijakan atau penanganan hukum. Ia juga tak selalu benderang seperti yang dikabarkan media. Bisa jadi  diskriminasi sebenarnya adalah hantu yang ada di kepala kita semua. Kita, pada level tertentu, adalah pelaku diskriminasi.

ADVERTISEMENT

Begini maksudnya. Misalnya soal rasis etnis. Sebagai orang Jawa, saya tumbuh dengan anjuran untuk tidak menikah dengan wanita Sunda. Ada stereotip bahwa wanita Sunda matre, hedonis, boros, dan sebagainya. Contoh lain adalah diskriminasi yang dirasakan oleh masyarakat Papua. Bagaimanapun kita coba menolak, tindakan rasis terhadap mereka nyata memang ada.

Lalu, bagaimana stereotip kita terhadap orang Tionghoa Indonesia? Jawabnnya bermacam-macam, tapi jelas ada anggapan bahwa peranakan Tionghoa itu suka menindas, pelit, eksklusif, dan arogan terhadap pribumi.

Bentuk diskriminasi bahkan bisa disebabkan hanya karena penampilan. Di kampung saya, suatu ketika seorang yang telah lama merantau pulang dengan perubahan drastis. Celananya kini cingkrang, jenggot yang terpelihara, serta dahi yang menghitam. Anda bisa tebak reaksi warga, cap kelompok intoleran, ekstremis, radikal, hingga teroris pun diberikan padanya.

Memang benar adil sejak dalam pikiran itu sulit. Dalam alam imaji kita masih ada “the other”, liyan. Sebuah konsep yang memisahkan kita dengan orang lain. Tapi, kita bisa melakukan lelaku untuk memahami kasunyatan hidup bahwa kita tak mungkin menafikan perbedaan. Sekaligus menjadi nafs yang anti-diskriminasi.

Ada beberapa kiat praktis Anda memulai suluk anti diskriminasi ini. Dan cara-caranya tak perlu susah-susah macam pelatihan Lemhanas, penataran P4, belajar Pendidikan Kewarganegaraan, seminar empat pilar, atau tak perlu panas-panasan demonstrasi. Pokoknya simpel dan irit (saya tahu anda pasti suka yang irit-irit).

#1 Berdoa sebelum makan

Benar, inilah lelaku pertama yang Anda harus tempuh. Sangat mudah. Bagi yang sering mengamalkan ritual berdoa sebelum makan mungkin bertanya-tanya apa hubunganya doa mbadog dengan kebhinekaan. Baik, saya beri tahu dengan membaca tulisan ini Anda akan lebih mendalami salah satu ilmu hakikat dari doa sebelum makan. Dan bagi yang belum mengamalkan, mudah-mudahan segera memperbaiki diri.

Baca Juga:

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

Bagi umat muslim, tentu hapal doa sebelum makan yang sudah diajarkan sedari kecil. Kurang lebih begini arti lafaz doa tersebut dalam bahasa Indonesia.

“Ya Tuhan, berkahilah kami melalui rezeki (makanan ini) yang Engkau berikan dan jauhkan kami dari api neraka.”

“Kami” di situ adalah kita sendiri dan orang-orang yang terlibat menghadirkan makanan itu sampai dihadapan kita.

Jadi, banyak sekali orang yang terlibat bukan? Orang yang menghidangkan, orang yang memasak makanan itu, orang yang membeli bahan, penjual bahan makanan itu, orang yang mengantar bahan makanan dari perkebunan atau peternakan, hingga petani yang memanen dan menanam. Dan saat minta keberkahan kepada semua orang itu kita tak membeda-bedakan suku, etnis, agama, paham, mazhab, atau ideologi.

ADVERTISEMENT

Bisa jadi bumbu pada rawon yang kita makan dijual oleh orang Tionghoa beragama Buddha, lalu dagingnya kita beli di pasar dari penjual yang fanatik dengan paham Muhammad bin Abdul Wahab, yang mengantar dari peternakan mungkin orang Sumatera, yang menyembelih orang NU asli madura, yang sehari-hari memberi makan sapi adalah juragan yang membaca buku Karl Marx. Belum lagi berasnya, belum lagi sayuran, tahu-tempe, atau krupuknya kalau ada.

Bayangkan, satu piring makanan saja mengandung kebhinekaan dan pluralitas. Orang-orang yang mungkin berbeda suku, agama atau paham dengan kita justru berkontribusi terhadap kelangsungan hidup kita.

Dalam agama Kristen pun ada doa sebelum makan dimana isinya adalah mendoakan orang lain yang tidak bisa makan. Tentu logika yang sama berlaku, tak ada tebang pilih siapa yang didoakan.

#2 Jangan nongkrong di kafe

Kafe atau coffee shop kekinian telah menjadi budaya dan gaya hidup masyarakat kota. Memang mengasyikan nongkrong di sana, nyaman, ber-AC, bersih, dan sangat milenial. Tapi, saya sarankan Anda jangan terlalu sering hidup di kafe, sebab ia memiliki misi terselubung, yaitu memecah belah umat manusia. Waspadalah!

Kafe sebenarnya bukan barang baru. Ia adalah transformasi dari warung kopi, angkringan, atau semacam warung gorengan Mbok Djum. Tempat-tempat yang terakhir saya sebut bukan hanya tempat melepas dahaga atau lapar, tapi merupakan sebuah ruang sosial-komunal.

Silakan Anda datang di angkringan atau warung kopi seperti itu di ruas-ruas jalan kota Jogja atau Solo, kemudian rasakan suasananya. Jika anda beruntung tiba di waktu yang tepat anda akan menyadari sedang berada di antara tukang becak, supir truk, pelanggan bermobil, karyawan swasta pulang kerja, pengangguran, hingga mungkin beberapa mahasiswa abadi. Kita pun boleh duduk di mana saja, nyempal-nyempil bergabung dengan siapapun. Dan tanpa sadar obrolan cair bisa tercipta di sana. Makanya ada istilah “obrolan warung kopi”.

Tapi, di kafe mah boro-boro. Berbeda dengan moyangnya, angkringan, devide at impera justru diberlakukan di sana. Setiap pengunjung telah tersekat-sekat secara imajiner, kami duduk sebelah sini, mereka duduk di sebelah sana, pengunjung yang lain duduk di sisi lain dan kita semua masing-masing tak kenal dan tak juga menyapa satu sama lain. Gue-gue, elo-elo.

Bahkan beberapa kafe menerapkan sistem durasi maksimal hanya beberapa jam dan tidak boleh berpindah tempat duduk. Semua ini tentu tak sejalan dengan khittah warung kopi.

Nah, semakin sering nongkrong di Coffe Shop Anda makin kukuh menjadi orang yang tersekat-sekat dan tidak mengenal kebhinekaan. Maka, pilihlah angkringan atau warung kopi sebagai tempat Anda nongkrong.

#3 Jangan beli rumah cluster

Bagi mereka yang tinggal di perkotaan, rumah cluster sering menjadi pilihan untuk dibeli. Alasannya sederhana, umumnya karena lingkungan yang aman dan nyaman sebab ia hanya terdiri dari beberapa rumah dengan penjagaan ketat di pintu masuk area.

Tapi di sinilah masalahnya. Jika lingkungannya hanya beberapa keluarga, pekerjaan atau strata sosial ekonomi mereka semua equal, sampai desain rumahnya seragam, bagaimana mereka mengenal keberagaman? Initidak baik perkembangan sikap kita yang semakin tidak toleran hingga memunculkan sikap diskriminatif.

Menurut saya pribadi sungguh disayangkan seandainya kita kehilangan kesempatan untuk menyelami bhinekanya manusia di luar pos keamanan sebuah cluster.

Maka, saran saya jangan beli rumah model seperti itu. Carilah rumah di perkampungan atau perumahan biasa. Dengan begitu Anda bertemu dengan bermacam orang, paham, karakter, etnis, organisasi bahkan partai (hehe). Dari sana Anda akan terbiasa, bahkan terpaksa dan rela hidup rukun. Sebab, kalau tidak ya pasti dikucilkan.

BACA JUGA Membedah Tagline ‘Mondok Sampek Rabi, Ngaji Sampek Mati’ Anak Pesantren 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 November 2020 oleh

Tags: diskriminasiToleransi
Pandu Wijaya Saputra

Pandu Wijaya Saputra

Menjadi manusia berkarakter Mojok

ArtikelTerkait

Kehidupan Masyarakat Sulawesi Utara yang Penuh Toleransi Antar Umat Beragama

Kehidupan Masyarakat Sulawesi Utara yang Penuh Toleransi Antar Umat Beragama

28 Desember 2019
intoleransi

Intoleransi dan Betapa Ngerinya Ujaran Kebencian

3 September 2019
puasa

Poso Sak Karepmu, Gak Poso Yo Sak Karepmu

18 Mei 2019
Dilema Jadi Anak ASN Tata Usaha: Mau Cari Beasiswa kok Statusnya Anak ASN, tapi Nggak Dapet Beasiswa ya Susah Juga Bayar Kuliahnya

Dilema Jadi Anak ASN Tata Usaha: Mau Cari Beasiswa kok Statusnya Anak ASN, tapi Nggak Dapet Beasiswa ya Susah Juga Bayar Kuliahnya

2 Oktober 2023
laporan ditulis tangan, tulisan tangan jelek penderitaan ciri arti manfaat tanda orang cerdas mojok.co

Derita Orang dengan Tulisan Tangan Jelek yang Mungkin Tak Pernah Kamu Tahu

30 Maret 2020
agama

Pengalaman Berpuasa dengan Teman Nasrani

11 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya Mojok.co

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

11 Agustus 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

12 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.