Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Surat Terbuka dari Kereta Prambanan Ekspres yang Berhenti Beroperasi Selamanya

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
17 Februari 2021
A A
Surat Terbuka dari Kereta Prambanan Ekspres yang Berhenti Beroperasi Selamanya terminal mojok.co

Surat Terbuka dari Kereta Prambanan Ekspres yang Berhenti Beroperasi Selamanya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Untuk semua masyarakat Yogyakarta dan Surakarta, namaku Prambanan Ekspres atau bisa kalian sapa Pram saja biar mengalir menjernihkan. Dulu aku punya tanduk, kini badanku bergambarkan batik dan sedikit lebih ginuk-ginuk.

Aku hadir di sini untuk melerai kesedihan yang belakangan berkelindan di lini masa media sosial. Semua menuturkan kisah sendu kala menaiki aku. Aku membaca satu persatu cuitan itu dan haru menyeruak di dadaku, eh, di lokomotifku ini.

Sialan memang kalian semua. Bahkan aku tak diberikan kesempatan untuk pergi dengan tenang. Betapa luar biasa gelora kalian menuturkan kisah dan kenangan. Sebagai pembalasan paling sempurna, dalam surat terbuka ini, izinkan aku gantian menautkan pesan dan kesan untuk kalian sekalian.

Ya, kalian. Kalian entah itu para pejuang LDR delapan ribuan, para mahasiswa yang salah memilih universitas di kota tetangga, para pedagang batik dari Pasar Beringharjo sampai Pasar Klewer, atau para pekerja UMR yang wani perih. Ini tentang kereta kesukaan kalian, Prambanan Ekspres yang selalu hadir di garda terdepan membayar kontan kesedihan kalian.

Setiap masa, selalu ada bagian akhir, bukan? Langit biru saja, jika ditinggal dua belas jam lamanya, pasti akan jadi hitam dan pekat. Namanya malam. Di mana matahari tak lagi menyapa dan perubahan besar-besaran alam semesta bergulir dengan megah.

Manusia pekerja, yang merupakan prototipe yang—katanya—paling sempurna, akan bermuara di sebuah pusara atau pelarungan lelah. Lelah singgah dari satu kota ke kota lainnya. Atau kita persingkat Yogyakarta – Surakarta.

Ya, apalagi diriku, seonggok mesin sepertiku ini. Mesin yang diciptakan manusia, guna beroperasi untuk kemudian rusak. Sebuah mesin yang diberi mandat untuk membawa ratusan orang sekali jalan guna sampai tujuan. Setahun, dua tahun, tiga tahun; pada akhirnya kenangan mendobrak, badanku kian rusak.

Aku adalah contoh yang nyata dari sebuah pahatan kisah insan manusia. Keabadian itu niscaya, bukan? Ya, aku! Aku! Aku memang sebuah kereta yang diciptakan untuk mengantar kalian. Namun asal kalian tahu, aku adalah tempat terbaik untuk kalian mengabadikan kisah. Baik itu suka maupun duka.

Baca Juga:

6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

Aku berulang kali melihat manusia menangis di dalam gerbongku ini karena kalah melawan dunia. Entah itu dari Solo Balapan atau Tugu Yogyakarta. Mereka menundukkan kepala, mengepalkan tangan, dan menggoreskan luka paling dalam di gerbongku ini.

“Dunia amat kejam,” begitu katanya. Lantas ia melanjutkan, “Hidup manusia tak ada rel seperti laju kereta. Kita kudu menentukan arahnya sendiri. Enak betul jadi kereta, sudah jalan sesuai rel, dikendalikan masinis pula.”

Aku kini yang menangis. Aku bersyukur orang itu tak benar-benar menjadi kereta seperti diriku. Aku menitikkan pilu dalam manifestasi suara klakson yang diarahkan oleh masinis: TOOOT! Benar, kawan, aku tak bisa menangis.

Sesedih-sedihnya diriku, tangisku hanyalah deru mesin diesel yang membelah rel dari Solo menuju Jogja. Aku adalah kereta yang memiliki batas waktu penggunaan. Aku bisa digantikan kapan saja. Aku bisa dianggap tak berguna bahkan sekarang juga. Saat aku sudah tak dibutuhkan, aku tak bisa bersedih dengan pilu, menangis dengan haru.

Bisaku hanya menerima dengan lapang dada, berdoa semoga saja badanku tak dihancurkan. Bisaku hanya bertasbih, semoga manusia-manusia yang dahulu menaiki diriku kelak, menjadi manusia pilih tanding di masa yang akan datang. Hanya itu.

Ah, aku tak sampai hati bilang, “Aku ingin menjadi manusia, bosan sekali menjadi kereta.” Maaf saja, setidaknya sebuah kereta seperti diriku lebih berperi kemanusiaan ketimbang manusia itu sendiri. Benar, aku tak bisa memakan dana bantuan sosial seperti orang sakti yang duduk di bangku pemerintahan.

Oh, iya, aku berulang kali melihat sepasang remaja memadu kasih di dalam gerbongku. Lucu sekali mereka ini. Saling memeluk lengan, menyandarkan kepala di pundak kekasih yang rasanya amat tabah menahan pegal. Gerbongku, seakan menjadi wahana wisata penjemput kebahagiaan.

Aku juga melihat para pejuang hubungan jarak jauh bertemu di peron stasiun. Ditemani oleh dengung lagi Bengawan Solo, mereka berpelukan, saling menatap mata, dan pergi meninggalkan diriku. Aku hanyalah kereta. Aku hanyalah perantara, pengantar, peladen, atau apa pun istilahnya dalam hubungan mereka.

Toh, aku bukan tujuan mereka. Mana ada manusia yang menjadikan sebongkah gerbong kereta sebagai destinasi akhir? Tak ada dan aku jamin tak pernah ada. Prambanan Ekspres, diriku, adalah pengawal sepasang kekasih atau seseorang yang tengah menjemput kekasihnya di kota tetangga.

Plat AB dan AD bak jauh, menjadi dekat karena adanya diriku. Gelak tawa sepasang kekasih di dalam gerbong, senyum manis yang terkembang karena menggandeng sang pujaan hati, atau saling menatap dalam bangku gerbong, apa yang lebih menyenangkan dari itu?

Pun aku adalah saksi bisu berdesakan ratusan manusia di dalam gerbong. Peluh, burket, hingga bau gadhul bermekaran di dalam gerbong. Parfum elektrik semprot yang mak PROOOT! dalam periode waktu tertentu, dengan intensitas tiba-tiba, dan sekonyong-konyong pun tak bisa menyelamatkan bebauan yang berputar di gerbong.

Kelas pekerja telah usai menunaikan jerih payah di kota tetangga. Tangan mereka menyunggi langit-langit, mengikuti gerak ke mana pun gerbong bergoyang. Ketika ada kaki yang terinjak, tiba-tiba berubah menjadi, “Bajingan!” itu sudah biasa lantaran gelak tawa dan senyum lelah khas mereka terumbar berikutnya.

Pun, hidup berjalan seperti bajingan. Namun, hidup ini bak sebuah siklus yang berjalan begitu ajek. Mengikuti rel lantaran aku tak diperkenankan untuk melewati batasan-batasan itu. Lariku diatur oleh masinis. Akan tetapi, tetap saja kebahagiaanku terjadi karena semua masyarakat Yogyakarta dan Surakarta.

Aku menyusuri terik Stasiun Gowok, hujan badai kala berhenti di Maguwo, hingga tujuan akhir mempersilakan aku singgah untuk kemudian pergi lagi. Pergi menuju stasiun berikutnya. Disambut, kemudian dipersilakan pergi lagi.

Nahas, tahun 2021 adalah saat bagi diriku untuk benar-benar pergi dan tidak kembali. Aku tak hanya pergi dari Solo Balapan menuju Tugu Yogyakarta. Kali ini aku kudu benar-benar pergi. Diriku, kereta diesel, rasanya tak akan berguna banyak di sebuah zaman yang melaju dengan pesat.

Aku harus benar-benar meninggalkan stasiun. Tak ada lagi “Bengawan Solo” di Solo Balapan, tak ada lagi bau Roti O’ di Lempuyangan. Tak ada lagi gelak tawa pasangan muda, tak ada pula muram durja manusia yang mengaku kalah kepada UMR Jogja.

Setidaknya aku pergi tanpa sebuah bekal. Aku pergi dengan sejuta kenangan tentang kalian. Aku yang hanya sebuah kereta, bahagia bukan main kala bersua dengan kalian. Walau patut diakui, sebuah rel ada batasnya. Tak akan melaju tanpa akhir.

Dan aku, Prambanan Ekspres, telah menemukan muara rel kereta api itu. Sebuah rel yang tak ada lanjutannya. Hanya kisah yang abadi, menjalar dari mulut ke mulut, dan kalianlah pelaku sejarah yang apinya akan selalu tersulut.

Dengan penuh ketabahan,

Pram.

BACA JUGA Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: KeretaPrambanan EkspressoloYogyakarta
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
5 Hal yang Bikin Pendatang Melongo Saat di Solo

5 Hal yang Bikin Pendatang Melongo Saat di Solo

21 Februari 2023
Tukang Parkir Solo bak Satpam BCA, Pelayanannya Prima Mojok.co

Tukang Parkir Solo bak Satpam BCA, Pelayanannya Prima

8 Mei 2024
Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan Mojok.co

Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan

24 Mei 2024
Daripada Blusukan Daring, Gibran Rakabuming Mending Lakukan Hal yang Lebih Wangun kaesang pilkada jokowi terminal mojok.co

Jika Gibran dan Kaesang Layak Menjadi Politisi, Itu Karena Hasil Survei

6 Agustus 2019
Apa yang Terjadi jika Becak Punah dari Solo_ terminal mojok

Apa yang Terjadi jika Becak Punah dari Solo?

3 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
  • Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa
  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!
  • Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”
  • Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan
  • Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.