Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada

Administrator oleh Administrator
10 Januari 2026
A A
6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada (Unsplash)

6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ngomongin Solo, pasti banyak yang bilang “Ah, kota kecil aja kok dibesar-besarkan.” Atau ada juga yang nyeletuk, “Masa sih orang sana sehalus itu?” 

Nah, sebagai orang yang pernah tinggal di sana cukup lama (dan dompet aman saja), saya bisa konfirmasi kalau mitos-mitos tentang Solo itu ternyata bukan mitos. Semuanya nyata.

#1 Orang Solo memang sehalus bahasanya

Ini bukan clickbait. Orang Solo tuh memang lembut banget ngomongnya. Bahkan kalau lagi marah, mereka tetap pakai “nggih” dan “nopo” dengan nada yang kalem.

Pernah saya mendengar teman kos saya nunggak bayar seminggu. Ibu kos cuma bilang, “Mbak, mbayare kapan, nggih?” dengan senyum manis. Tapi jangan salah, di balik senyuman itu ada ancaman terselubung yang bikin bulu kuduk merinding.

Yang lebih amazing lagi, mereka bisa passive-aggressive tanpa kelihatan kasar. Sindiran mereka halus banget sampai kadang kamu nggak sadar lagi kena sindiran. 

Misalnya, soal kebiasaan cuci baju seminggu sekali atau telat bayar ini dan itu. Mereka bisa menyindir dengan cara yang kedengeran kayak pujian tapi sebenernya bikin kamu langsung sadar dan gerak cepat beresin tumpukan baju kotor di kamar.

Jadi, kalau ada yang bilang orang Solo kasar, kemungkinan besar dia salah kota. Atau, salah ngomong duluan.

#2 Hidup di Solo bisa hemat sampai 50%

Ini yang bikin banyak anak rantau betah banget di Solo. Bayangin aja, dengan uang Rp20 ribu, kamu udah bisa makan nasi liwet lengkap plus es teh.

Baca Juga:

6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

Sewa kos di Solo kisaran Rp500 ribu sampai Rp1 juta dan sudah dapat kamar lumayan dengan kamar mandi dalam. Belum lagi biaya transportasi naik BST cuma Rp3 sampai Rp4 ribu. Makanya jangan heran kalau mahasiswa di sini bisa menabung buat liburan.

#3 Angkringan bisa menjadi terapi jiwa yang ampuh

Awalnya saya skeptis. Masa iya sih duduk di pinggir jalan, makan sate usus sama wedang jahe bisa bikin hati tenang? Ternyata BISA!

Angkringan itu bukan cuma tempat makan, tapi tempat curhat, ngumpul, bahkan ketemu jodoh. Semua masalah hidup tiba-tiba jadi ringan kalau sudah duduk di tikar, pegang gelas wedang jahe yang hangat, sambil dengerin om-om sebelah cerita tentang anaknya yang diterima kerja.

Yang bikin magic harganya murah banget. Dengan 15-20 ribu, kamu sudah bisa duduk berjam-jam tanpa diusir. Coba bandingkan sama cafe kekinian yang kalau kamu cuma pesan 1 kopi terus duduk 5 jam, pelayan udah melototin dengan tatapan “Ini orang kapan pulangnya?”

#4 Batik Solo memang lebih eksklusif dan detail

Ini bukan superioritas kompleks, tapi fakta. Batik Solo, terutama yang motif parang dan sidomukti, detailnya itu luar biasa. Saya pernah membandingkannya dengan batik dari kota lain dan bedanya jelas banget.

Kenapa bisa gitu? Karena pembatik Solo masih banyak yang pakai teknik tradisional. Satu kain batik tulis bisa dikerjain sampai berbulan-bulan. Makanya harganya emang lebih mahal, tapi kualitasnya nggak main-main.

Plus, kalau membelinya di Pasar Klewer, kamu bisa mendapat harga miring dengan kualitas juara. Cuma butuh nyali buat nawar sampai separuh harga dan ini juga butuh skill, karena penjual batik di sana jago banget defensive-nya.

#5 Kota budaya yang tidak pernah tidur

Label “kota budaya” melekat kuat pada Solo. Keraton, batik, kirab, festival, hingga agenda seni rutin menjadi identitas. Bagi wisatawan, ini tampak hidup dan penuh warna.

Namun bagi warga, budaya kadang terasa seperti rutinitas administratif. Acara datang dan pergi, tapi tidak selalu berdampak pada kesejahteraan pelaku seni atau ruang kreatif anak muda. Tradisi dirayakan, tapi regenerasi sering berjalan pelan. Budaya dijaga, tapi kadang lebih sebagai simbol daripada ruang dialog.

#6 Enak untuk pulang, tapi berat untuk tumbuh

Ini mitos yang paling sering dibisikkan diam-diam. Banyak orang merasa Solo adalah tempat terbaik untuk kembali: tenang, familiar, tidak menghakimi. Pulang ke Solo seperti mengatur ulang napas setelah lelah berkompetisi.

Namun untuk tumbuh cepat, kota ini sering terasa sempit. Ambisi besar mudah mentok, jaringan terbatas, dan peluang tidak selalu sejalan dengan kapasitas. Maka banyak anak mudanya memilih pergi, bukan karena tidak cinta, tapi karena ingin memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berkembang.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Januari 2026 oleh

Tags: angkringanangkringan solobatik solopasar klewersolo
Administrator

Administrator

ArtikelTerkait

6 Angkringan Kota Jogja yang Paling Enak dan Nyaman terminal mojok.co

6 Angkringan Kota Jogja yang Paling Enak dan Nyaman

28 Oktober 2021
Berkah Terselubung Bagi Warga Kota Solo dari Penutupan Jembatan Mojo dan Jembatan Jurug B (Unsplash.com)

Berkah Terselubung Bagi Warga Kota Solo dari Penutupan Jembatan Mojo dan Jembatan Jurug B

30 September 2022
10 Istilah Unik yang Cuma Diketahui Mahasiswa UNS, Apa Saja Terminal Mojok

Balada Kos di Gerbang Depan UNS: Lokasi Manis, Fasilitas dan Konsumsi Tragis

3 Desember 2022
Solo Baru, Wilayah Pinggiran Sukoharjo yang Jauh Lebih Modern ketimbang Daerah Pusatnya

Solo Baru, Wilayah Pinggiran Sukoharjo yang Jauh Lebih Modern ketimbang Daerah Pusatnya

27 Juli 2023
Rekomendasi Nasi Liwet yang Tidak Boleh Dilewatkan Saat Berwisata ke Solo Mojok.co

3 Rekomendasi Nasi Liwet yang Tidak Boleh Dilewatkan Saat Berwisata ke Solo

21 April 2025
3 Hal Tidak Menyenangkan yang Saya Jumpai di Perlintasan Kereta Pasar Nongko Solo

3 Hal Tidak Menyenangkan yang Saya Jumpai di Perlintasan Kereta Pasar Nongko Solo

28 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

Terima Kasih Indomaret, Berkatmu yang Semakin Peduli dengan Lingkungan, Belanjaan Jadi Sering Nyeprol di Jalan Gara-gara Plastik yang Makin Tipis

20 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya
  • Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.