Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Suka Duka Rumah Generasi Milenial di Kabupaten, Jalanan Berlubang hingga Defisit Tempat Hedon

Rulfhi Alimudin oleh Rulfhi Alimudin
6 Juli 2021
A A
Suka Duka Rumah Generasi Milenial di Kabupaten, Jalanan Berlubang hingga Defisit Tempat Hedon terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Semua orang pasti pulang ke rumah, entah itu rumah kontrakan, rumah orang tua, maupun rumah sendiri. Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer dari masyarakat, tapi tak semua punya kesempatan memilikinya. Memiliki rumah sendiri dari hasil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau warisan rumah orang tua, menahbiskan mereka sebagai golongan yang beruntung.

Bagi generasi milenial seperti saya, ada jarak ketika membicarakan kepemilikan rumah. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat jarang rumah menjadi pembicaraan di tongkrongan. Paling mentok tanya alamat rumah. Jika dianalogikan, rumah seperti nominal gaji yang tabu dan sensitif dibicarakan. Mungkin hanya dibicarakan di depan HRD dan calon istri.

Beberapa waktu lalu perbincangan terkait rumah memenuhi lini masa media sosial saya. Gejolak itu dipantik oleh cuitan financial trainer, Ligwina Hananto yang mempromosikan kelas miliknya mengenai cara memiliki rumah sebelum umur 40 tahun. Dalam promosinya, Ligwina membawa soal umur yang jelas-jelas sangat dibenci oleh generasi milenial. Padahal pencapaian setiap orang berbeda-beda, begitu juga soal kepemilikan rumah.

Selain itu, Ligwina pun menyindir gaya hidup generasi milenial yang doyan ngopi dan liburan sehingga sulit membeli rumah. Padahal budaya ngopi dan liburan adalah self reward generasi milenial dalam memaknai makna kerja. Toh jangan sampai kerja keras bagai kuda dengan upah UMR, tapi diri tak merasa bahagia. Sudah ngopi apa belum?

Namun dari gemuruh perdebatan tersebut, menimbulkan hal positif, yakni literasi soal rumah. Timbul beragam gagasan mengenai rumah, tetapi lebih banyak unek-uneknya, sih. Oleh karena itu, saya pun akan mengutarakan unek-unek tinggal di rumah yang berada di kabupaten.

Sebagai generasi milenial yang masih numpang di rumah orang tua, saya tak segan mengklaim bahwa itu adalah rumah saya juga. Rumah saya berada di Majalaya, Kabupaten Bandung alias Bandung Coret. Bandung Coret merupakan sebutan yang kadang dipakai untuk kawasan yang berada di pinggiran Kota Bandung. Adapun daerahnya meliputi Kabupaten Bandung, dan Cimahi. Tinggal di rumah yang berada di kabupaten menimbulkan sejumlah permasalahan, atau sebut saja rintangan. Pasalnya tidak semua fasilitas menunjang tersedia di kabupaten.

Pertama, terkait kualitas jalan. Masih sangat mudah menemukan jalan-jalan berlubang di kabupaten. Seolah jalanan rusak di kabupaten itu hal yang biasa. Bahkan jalan berlubang itu pernah membuat velg motor saya bengkok. Tak heran bila mudah menemukan unggahan keluh kesah generasi milenial kabupaten soal buruknya kualitas jalan. Sedikit beruntung dalam beberapa tahun ke belakang jalanan sudah mulai bagus karena tersentuh program betonisasi. Namun, masih ada jalanan rusak terutama jalan-jalan kecil menuju perkampungan.

Selain itu, jalan di kabupaten tergolong sempit. Jalannya cuma ada dua lajur. Jadi, kalau ada satu mobil mogok, maka otomatis macet. Lalu sarana transportasi dan waktu operasionalnya masih terbatas. Bagi warga kabupaten yang belum memiliki kendaraan pribadi, jangan pikir bisa pulang malam. Pernah suatu malam ketika belum punya motor, saya harus jalan kaki dan menunggu mobil pick up untuk menumpang demi bisa pulang ke rumah.

Baca Juga:

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga

Orang Tua Kita Bisa Beli Rumah karena Negara Belum Bobrok (Banget), Bukan karena Tidak Foya-Foya!

Rintangan selanjutnya yang masih belum teratasi adalah banjir. Ketika musim penghujan, akses dari kota menuju kabupaten sering dihadang banjir. Titik-titik banjir itu diantaranya Dayeuhkolot, Cidawolong. Hal ini tentu menghambat aktivitas warga kabupaten ke kota, maupun sebaliknya. Selain menunggu surut, langkah yang bisa ditempuh jika dihadang banjir adalah melalui jalan memutar. Namun waktu tempat menjadi lebih lama. Alhasil menjadi tua di jalan itu sangat mungkin.

Sobat mager kabupaten pun harus memikir ulang jika ingin order makanan lewat ojol. Selain masih terbatasnya pilihan makanan, jarak yang jauh pun membuat ongkirnya menjadi relatif mahal. Meski demikian, saya tak berkecil hati. Lantaran masih ada secercah hal baik yang bisa didapat dengan tinggal di kabupaten.

Tinggal di kabupaten artinya bisa dengan mudah melarikan diri dan menyapa alam yang masih asri. Gunung, sawah, kebun, kolam ikan menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan beberapa teman saya halaman belakang rumahnya berbatasan langsung dengan area pesawahan. Makanya kalau malam tiba, lebih mudah mendengar suara katak daripada motor knalpot racing.

Selanjutnya tidak ada cerita anak-anak kecil kehabisan area bermain. Jarang ditemui anak-anak kecil di kabupaten bermain di jalan raya atau gang sempit. Rata-rata wilayah di kabupaten masih cukup mudah menemukan tanah lapang untuk bermain sepak bola atau layang-layang. Bahkan tanah lapang itu bisa dijadikan tempat belajar mobil. Tentu hal-hal positif yang sulit hadir jika rumah di pusat kota.

Menimbang sisi negatif dan positifnya. Perkara rumah tak boleh tergesa-gesa. Jangan sampai membeli rumah yang malah memberatkan. Sudah berat dengan cicilan KPR, malah tak bisa ditempati karena jauh dari tempat pekerjaan dan tak cocok dengan lingkungannya.

Teringatlah sebuah istilah jika hendak membeli rumah. Kata orang, beli rumah itu kayak jodoh. Tak bisa sekali lihat langsung suka, perlu ada pendekatan lebih dulu. Mulai dari harganya, lingkungannya, aksesnya, hingga hal kecil lainnya. Memodifikasi ungkapan Pidi Baiq tentang Bandung. “Dan rumah bagiku bukan cuma masalah properti, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.”

Menutup unek-unek ini, bagi generasi milenial yang memutuskan tinggal dan punya rumah di kabupaten harus berjibaku dengan jalanan rusak, siap menerima defisit tempat hedonisme, jauh dari keramaian urbanitas dan tak jarang terintimidasi oleh warga perkotaan.

BACA JUGA Cat Rumah Putih: Faktanya Nggak Seindah Teori, Bund! dan tulisan Rulfhi Alimudin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: beli rumahGaya Hidup TerminalkabupatenMilenial
Rulfhi Alimudin

Rulfhi Alimudin

Mukim di Bandung, gemar berolahraga di ruang terbuka bisa ditemui lewat tulisan di rupaca.my.id

ArtikelTerkait

marine pesisir barat pantai sumatera mojok

4 Bentuk Lahan Marine yang Perlu Diketahui Kalian yang Hobi Traveling

24 Mei 2021
Pura-pura Menyukai Dangdut Koplo, Salah Satu Cara Bertahan di Pergaulan Masyarakat terminal mojok

Pura-pura Menyukai Dangdut Koplo, Salah Satu Cara Bertahan di Pergaulan Masyarakat

18 Juli 2021
Mencoba Menebak Maksud Tujuan Seseorang dari Stiker yang Ditempelnya terminal mojok

Mencoba Menebak Maksud Tujuan Seseorang dari Stiker yang Ditempelnya

7 Juni 2021
suzuki carry suzuki karimun city car mojok

Menjadi Dewasa berkat Suzuki Carry Bagong

25 Juli 2021
Kota Bandung dan Kabupaten Bandung: Namanya Mirip, Jaraknya Dekat, tapi Kondisinya Jauh Berbeda Mojok.co

Kota Bandung dan Kabupaten Bandung: Namanya Mirip, Jaraknya Dekat, tapi Kondisinya Jauh Berbeda

4 Mei 2024
Perancang Tas Gunung Ukuran Sedang Layak Dapat Banyak Pahala karena Karyanya yang Multifungsi terminal mojok

Perancang Tas Gunung Ukuran Sedang Layak Dapat Banyak Pahala karena Karyanya yang Multifungsi

14 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.