Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Sudah Betul Ajakan Poligami dan Menikah Muda untuk Mencegah HIV/AIDS, Nggak Usah Geger!

Rahmita Laily Muhtadini oleh Rahmita Laily Muhtadini
1 September 2022
A A
Sudah Betul Ajakan Poligami dan Menikah Muda untuk Mencegah HIV/AIDS, Nggak Usah Geger!

Sudah Betul Ajakan Poligami dan Menikah Muda untuk Mencegah HIV/AIDS, Nggak Usah Geger! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ajakan poligami dan menikah muda itu memang bisa dan amat efektif mencegah HIV/AIDS. Nggak usah ribet deh klean!

Isu poligami dan nikah muda adalah sesuatu yang paling mudah memancing emosi orang. Beberapa tahun terakhir isu poligami dan propaganda menyuruh menikah muda ramai dibicarakan, baik oleh kelompok-kelompok yang sering mengadakan kajian atau seminar dengan membawa nama agama, aktivis, pendakwah. Hingga yang terakhir disampaikan dengan gamblang oleh seorang wakil gubernur.

Bukan main, seorang wakil gubernur yang sibuk mengurus wilayahnya, masih perhatian memberikan edukasi dan mengajak rakyat agar menyadari pentingnya poligami dan nikah muda. Terlebih, tujuan seruan poligami dan nikah muda begitu mulia, yaitu mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Suatu terobosan yang cemerlang, bahwa ternyata solusi menekan angka HIV/AIDS adalah dengan menikah lagi bagi yang sudah punya istri. Sedangkan bagi remaja yang sudah tidak mampu menahan gejolak seksualnya, sebaiknya tancap gas menikah muda. Edukasi yang selalu berbusa-busa disampaikan oleh tenaga medis, psikolog, atau siapapun yang sadar dampak buruk poligami dan bahaya perkawinan dini, ternyata kurang efektif dan efisien menangkal persebaran HIV/AIDS.

Sudah capek-capek edukasi, hasilnya tidak signifikan, maka kenapa tidak lakukan poligami dan nikah muda aja? Gitu aja kok repot!

Tentu, sebagai warga yang baik dan taat aturan, haruslah bergerak aktif mencegah HIV/AIDS yang terjadi di suatu wilayah. Jatah menikah bagi laki-laki muslim adalah sampai 4 kali, daripada sibuk bermain di area lokalisasi apalagi berusaha merawat hubungan perkawinan agar bikin sumringah, lebih baik poligami. Manfaat poligami sungguh banyak, selain bisa gonta-ganti pasangan secara halal guna melampiaskan libido yang membara, menekan angka HIV/AIDS, juga mampu membuat hidup jauh lebih hemat. Tidak perlu uang lebih untuk menyewa para PSK di lokalisasi, uangnya bisa buat hura-hura yang lain, sangat ekonomis, bukan?

Poligami juga dianggap mempraktikkan sunah rasul tanpa harus susah payah memahami konsep adil dan merasa perlu untuk mempelajarinya kembali. Kalau merasa setara dengan adilnya seorang rasul, maka yakin saja bisa menjalani poligami dengan mulus. Kata aktivis poligami, zina itu tidak boleh, maka kalau mau mudah, lakukan saja poligami daripada selingkuh, itu jauh lebih baik, bukan?

Istri-istri yang risau suaminya minta nikah lagi, harus selalu ingat, bahwa poligami adalah jalan yang baik untuk berkontribusi pada bangsa dan negara. Terlebih bapak Wakil Gubernur Jawa Barat sudah mengatakan, meski tanpa data, bahwa poligami bisa mencegah HIV/AIDS menyebar. Artinya, poligami sama dengan langkah nyata kontribusi untuk mencegah keburukan menimpa bangsa ini.

Baca Juga:

PNS Boleh Poligami? Boleh, Asal Kamu Nggak Punya Malu

Poligami karena Perempuan Lebih Banyak? Cek Dulu Datanya!

Anak muda yang belum siap menanggung tanggung jawab menikah, tapi sangat ingin melakukan seks tanpa takut kena HIV/AIDS, minta nikah aja. Asalkan beralasan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu dan gejolak asmara, orang tua bisa segera sat set menikahkan. Tidak perlu galau, sebab bapak Wakil Gubernur Jawa Barat yang terhormat telah menyarankan hal ini, yang penting yakin.

Kalau yang memberikan pernyataan itu punya harta, takhta, dan ilmu, apalagi ini wakil gubernur, langsung saja diikuti. Semua pernyataan tentu sudah berlandaskan argumen yang kuat, dilengkapi analisis risiko yang lengkap, dan bukti empiris yang tak terbantahkan.

“Kan ini argumennya Pak Wagub nggak bernalar?” Lho, memang, tapi kan yang ngomong kan Wagub, itu saja dulu yang dipegang.

Anak muda kalian harus segera menikah muda, ingat, lebih besar manfaatnya daripada dampak buruknya. Jangan pikirkan data BPS tahun 2020 yang menyatakan 4,77 persen anak perempuan melahirkan di usia 16-19. Meski berisiko memiliki bayi dengan berat badan rendah, memperbesar kemungkinan kematian bayi, dan mengalami pendarahan saat persalinan, tidak usah dipikirkan matang-matang, karena bapak Wakil Gubernur tidak pernah repot memberikan edukasi risiko menikah muda. Artinya semua akan lancar saja jaya bagai jalan tol.

Selama ini usaha pendidik mengajarkan anak muda agar aktif mengikuti kegiatan positif, mengasah skill, belajar, berprestasi, mengembangkan diri, serta mempersiapkan mental dan finansial matang-matang sebelum menikah, bisa langsung di-skip. Urusan libido yang membara, gejolak asmara meledak, dan keinginan mencicipi seks begitu besar adalah prioritas utama untuk diselesaikan. Sebab, terpapar HIV/AIDS itu lebih bahaya, daripada mempertimbangkan dengan matang konsekuensi pernikahan. Toh, urusan cara membangun keluarga yang baik dan benar, bisa dicari sambil rebahan via Google dan YouTube.

Percayalah solusi segala masalah dari penyebaran virus HIV/AIDS di Bandung yang angkanya fantastis itu adalah dengan menikah. Petugas kesehatan, guru, konselor, pemuka agama, psikolog, orang tua, hingga petugas KUA tidak perlu susah payah memberi edukasi kepada semua orang tentang pencegahan seks bebas, kesehatan reproduksi, edukasi alat kontrasepsi, parenting, persiapan pranikah, manajemen keuangan, ilmu agama, kehamilan berisiko, dll, semua hal tersebut tidak penting-penting amat.

Izin poligami kepada istri, cukup dengan mengatakan, bahwa ingin berkontribusi dan memerangi kemungkaran di muka bumi. Mencegah HIV/AIDS dengan poligami adalah salah satu langkah nyata menyelamatkan bangsa dan negara. Sudah seharusnya arahan bapak wakil gubernur ini direalisasikan, tanpa perlu membuka mata apakah informasinya yang beliau sampaikan sudah jelas dan lengkap.

Daripada belajar menahan hawa nafsu yang meningkat dengan puasa, menahan pandangan, serta melakukan kegiatan positif dan produktif, lebih baik langsung nikah lagi aja, bisa langsung ehem-ehem tanpa gundah gulana.

Meskipun banyak orang yang ahli di bidangnya melakukan riset bahwa hormon kebahagian dan cinta itu bisa disalurkan tanpa harus melakukan seks, toh pada akhirnya itu tidak berguna. Fakta bahwa mengalihkan libido yang meningkat dengan melakukan olahraga rutin, berbagi kebaikan dengan sesama, merawat hewan, memelihara tanaman, atau menyibukkan diri dengan segudang aktivitas yang positif, sudah langsung terbantahkan dengan statemen menikah mencegah penularan dan penyebaran HIV/AIDS. Pendapat orang yang bertakhta dan berpendidikan sekelas wakil gubernur sudah tentu bukan blunder atau sekadar cari sensasi.

Bernalar? Nah kalau ini jelas. Jelas belum.

Jika kucing bisa kawin begitu saja untuk menyelesaikan urusan hidupnya, mengapa manusia yang ingin melampiaskan hasratnya harus berpikir panjang untuk segera menikah, bukan? Tidak perlu lah perempuan-perempuan berpikir matang sebelum menikah, laki-laki yang datang padamu ingin mencegah HIV/AIDS, maka nikahi saja. Orang tua dan calon mertua tidak usah pusing, jika anak dan menantunya mengeluh karena masalah rumah tangga, suruh mereka poligami. Nasihat seorang pemimpin itu, sudah pasti benar dan memberikan manfaat, jadi kenapa kok harus ribut?

Penulis: Rahmita Laily Muhtadini
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mentoring Poligami: Ketika Fakboi Syariah, Persoalan Ekonomi, dan Ideologi Berkolaborasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 September 2022 oleh

Tags: AIDSHIVmenikah mudapoligamiwakil gubernur jabar
Rahmita Laily Muhtadini

Rahmita Laily Muhtadini

Seorang lulusan psikologi yang senang bermain dengan kata-kata. Aktif memberi edukasi di instagram @lembarbertumbuh

ArtikelTerkait

istri pertama dampingi suaminya nikah lagi

Viral Berbaju Pengantin, Istri Pertama Dampingi Suaminya Nikah Lagi: Bodo Amat, Capek Ngurusin Hidup Orang

15 Juli 2019
Apakah PNS Boleh Poligami? (Unsplash)

PNS Boleh Poligami? Boleh, Asal Kamu Nggak Punya Malu

17 Juni 2023
poligami, walimah syar'i

Masih Jomblo kok Bicara Poligami sih?

12 Juni 2020
Pengalaman Saya yang Pernah Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Kenapa Saya berhenti Menggunakannya

Pengalaman Saya Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Berhenti Menggunakannya

5 November 2019
Belajar Menjadi Perempuan Mandiri dari Kisah Layangan Putus

Belajar Menjadi Perempuan Mandiri dari Kisah Layangan Putus

4 November 2019
Membantah Alasan Poligami dengan Data Statistik terminal mojok

Poligami karena Perempuan Lebih Banyak? Cek Dulu Datanya!

28 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya

Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya

21 Mei 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Jalan Ngluwar Magelang yang Bobrok Adalah Area Paling Cocok untuk Simulasi Ujian SIM  Mojok.co

Jalan Ngluwar Magelang yang Bobrok Adalah Area Paling Cocok untuk Simulasi Ujian SIM 

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.