Pengalaman Saya Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Berhenti Menggunakannya

Saya menyaksikan dua kasus poligami yang tidak masuk akal. Pertama, seorang laki-laki yang belum mapan tapi tetap berpoligami dan menyuruh kedua istrinya untuk mencari nafkah. Kedua, poligami yang mirip dengan perselingkuhan dan janji palsu.

Artikel

Avatar

Setelah baca soal cerita layangan putus kemarin, saya ngerasa miris banget. Saya jadi inget pengalaman pas “hijrah” dan bahkan sudah “berniqab” setahun lalu.

Cerita tentang poligami di layangan putus itu jadi salah satu alasan kenapa saya ga melanjutkan pengalaman “hijrah” dan belajar di majlis tersebut. Selain masalah poligami itu, sebagai aktivis perempuan, saya emang ngerasa sangat “terintimidasi” di sana sih. Makanya sekarang balik lagi jadi kayak blangsak (dalam penampilan) padahal udah sempat berniqab.

Semuanya dimulai pertengahan tahun lalu, ketika berbagai ujian menimpa saya secara bertubi-tubi sampai berat badan turun 10kg. Lalu adalah ajakan buat hijrah, saya langsung di ajak ikut ke sebuah majlis. Karena saat itu posisinya saya lagi di titik terendah, ketika tiba-tiba ada yang mengayomi, saya ya mau-mau saja.

Awalnya sih tersadarkan “oh iya ya ternyata gini”, “baju gini nyaman juga”, “kayaknya emang harus gini” dan sebagainya. Langsung follow akun-akun hijrah, unfoll akun akun non faedah. Termasuk follow dan terus berlangganan sama “Ammar Channel”. Waw, saya sangat mengidolakan para murrotal di channel itu. Dan saya terkesima dengan semua “sosok shaleh/a” di berbagai akun hijrah tersebut.

Cuman, setelah sebulan lamanya intens mengikuti kajian. Kok jadi gini, berdakwah tapi ko mendikte, jamaah ko manut saja, dan pertanyaan lain bermunculan. Lama kelamaan kok saya merasa ada yang janggal. Entah itu mungkin gara-gara “oknum”, atau hal lainnya. Di lingkungan majlis itu, banyak sekali membicarakan poligami.

Melihat itu, saya sebagai aktivis perempuan merasa sangat tidak terima. Oke, saya memang tidak pernah benar-benar bisa melarang poligami karena agama memang membolehkan. Tapi, jika ingin poligami, bukankah seharusnya dilihat dulu kebutuhan dan kewajibannya? Misal, menikahi janda beranak banyak atau janda tua terdengar lebih masuk akal karena mereka memang lebih membutuhkan.

Tapi di sini malah aneh. Suaminya masih muda, istirnya juga baru punya anak satu. Eh, si suami berniat poligami dan bilang ke istrinya—tapi hanya sekedar bilang, bukan minta izin apakah dibolehkan atau tidak. Karena, poligami itu katanya nggak perlu minta izin.

Jadi nikahlah dia dengan istri mudanya. Nah yang bikin ini jadi kejadian yang menggegerkan adalah, tahu ga sih kalian kalau si suami itu, rumahnya aja masih ngontrak di rumah kecil! Habis itu, istrinya digilir buat cari nafkah. Misal, istri 1 jualan di hari ini, besoknya si istri 2. Terus suaminya???

Baca Juga:  Belajar Menjadi Perempuan Mandiri dari Kisah Layangan Putus

Cuma bantu-bantu dikajian itu, dengan meniatkan ikut berdakwah. Iya sih mulia banget, tapi yakin deh pendapatannya ga cukup buat memenuhi kebutuhan 2 keluarga/2 istri ini. Karena kajian aja ga sampe setiap hari, maksimal 3x seminggu.

Terasa mengeksploitasi tenaga perempuan ga sih kalau gitu dalam mencari nafkah? Situ enak, udah dapet enaknya dari istri terus si istri yang cari nafkah. Please, ini ga termasuk dari emansipasi wanita ya. Saya gamau kalau harus diinjek gitu!

Kasus kedua, ada teman saya, udah nikah punya anak 2. Ternyata ada mantan dia juga di satu kajian itu. Tau ga sih, saya suka diajak buat nemenin dia ketemu sama mantan itu yang usianya jauh banget diatas dia. Padahal, status dia masih menikah looo. Iya sih katanya ga berduaan karena ada saya di sana, tapi maksud dari pertemuan itu apa sih? Itu tuh bukannya termasuk selingkuh ya? Mana suka chatingan juga, dll.

Bahkan temen saya ini juga dijanjiin hidup makmur sama si mantan kalau mau dijadiin istri keduanya. Dengan alasan sang suami dzalim ke dia, (padahal yang saya nilai sih suaminya gaakan mulai kalau gaada pemicu bukan?) Bertekad lah dia buat cerai dan bercerailah sama sang suami. Terus kabar terbaru, dia betulan jadi istri kedua si mantan itu—daaaan ternyata kehidupan dia sekarang ga seberuntung dulu sebelum dijadiin istri kedua.

Karena dia bisnis, dulu sama mantan suami dibebaskan untuk berekspresi dalam bisnis. Kemana-mana sendiri, gesit sana sini dll. Pas udah jadi istri kedua si mantan? Dilarang keluar tanpa izin, ga boleh berinteraksi banyak sama lawan jenis, ah pokoknya ruang gerak dia terhalangi.

Ditemenin bisnis sama suami barunya kagak, karena sibuk bagi waktu. Mengembangkan brand dia kaga bisa soalnya ruang gerak dia dibatasi. Kan kan. Makin saya mikir, emang kadang ada yang ga beres sama mindset mereka. Bukan saya menyalahi syari’at, tapi ga gitu loh maksud saya.

Yang bikin saya kaget lagi, ko sampe segitunya sama perempuan. Salah perempuan apa? Kok kajian kaya gini ternodai juga sama oknum-oknum macam itu, padahal saya salut sama orang yang bisa nikah dan bahagia lewat ta’aruf, semangat belajar yang menggebu. Sayang, ga semua nya berhasil

Baca Juga:  Atasi Kaum Apatis, BPS Terapkan Sensus Penduduk Online 2020

Karena yang saya lihat, yang “hijrah” ini yang merasa emang lagi dapet hidayah/lagi yang menggebu buat belajar agama dan mayoritas dari mereka ga punya basic ilmu agama. Tapi karena di kajian kayak gini tuh ga mempelajari dulu basic agamanya, makanya ga aneh kalau bisa berubah drastis

Saya aja, dari TK sampai kuliah yang berbasis agama emang belum cukup buat belajar agama. Apalagi ini yang baru hijrah, udah langsung disuguhin macam-macam tauhid ulluhiyah, dll misalnya, dilarang ini itu, yang berat lah intinya, dengan dikte pula, penjelasannya kurang looo.

Yang pesantren lama aja emang ga ngejamin bakal se “shaleh/a” itu. Apalagi yang instan kaya gitu astaghfirullah, kemungkinan salah tafsir kan bisa? Disitu saya baru nyadar. Emang harus dimulai dari mindset kita dulu, belajar ilmu agama dari basic dulu, dimulai dari etika kita dulu

Akhirnya, saya ingin belajar dikit-dikit aja dulu dan menerapkannya gamau sekaligus (hijrah gampang, istiqamah susah). Dan Alhamdulillah sekarang sih suka pakai kaos kaki, udah ga pake celana jeans lagi, sama pake baju yang ga ngetat-ngetat aja, tapi itu pun kadang masih susah.

Cuma jadi pelajaran aja, gausah “hijrah” kalau cuma ikuti trend. Karena hijrah itu bukan trend! Hijrah, pake gamis kerudung gede tapi lupa pake kaos kaki. Ikut kajian, sesuai sama dirinya digembor-gembor, kalau nyinggung dirinya diabaikan.

Ga pacaran, tapi masih suka berkhalwat dengan lawan jenis lewat chat atau jalan berdua dengan modus “kajian bareng”. Cari kontak lawan jenis dari daftar hadir yang disediakan. Maaf, tapi kalian sendiri yang menodai “kajian yang berselimut syari’at Islam”

Di sini juga bukan saya menggeneralisir semua kajian macam kaya gitu ya, ini saya sebel aja sama oknum-oknum yang sebenernya mencederai kajian itu juga. Ini juga bukan bentuk penghinaan atau apa, cuma sharing aja sesuai dengan pola pikir saya. Mau diskusi? Sangat saya terima!

Bonus: Ini adalah saya sebelum berniqab, tomboy banget haha.

Image

Ini saya berniqab, bareng temen kajian saya.

Image

Ini saya yang sekarang 🙂

Image

BACA JUGA Adakah Poligami yang Ideal? atau tulisan Sasa lainnya. Follow twitter Sasa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
2.338 kali dilihat

175

Komentar

Comments are closed.