Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Saya Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Berhenti Menggunakannya

sasa oleh sasa
5 November 2019
A A
Pengalaman Saya yang Pernah Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Kenapa Saya berhenti Menggunakannya

Pengalaman Saya yang Pernah Hijrah sampai Berniqab dan Alasan Kenapa Saya berhenti Menggunakannya

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah baca soal cerita layangan putus kemarin, saya ngerasa miris banget. Saya jadi inget pengalaman pas “hijrah” dan bahkan sudah “berniqab” setahun lalu.

Cerita tentang poligami di layangan putus itu jadi salah satu alasan kenapa saya ga melanjutkan pengalaman “hijrah” dan belajar di majlis tersebut. Selain masalah poligami itu, sebagai aktivis perempuan, saya emang ngerasa sangat “terintimidasi” di sana sih. Makanya sekarang balik lagi jadi kayak blangsak (dalam penampilan) padahal udah sempat berniqab.

Semuanya dimulai pertengahan tahun lalu, ketika berbagai ujian menimpa saya secara bertubi-tubi sampai berat badan turun 10kg. Lalu adalah ajakan buat hijrah, saya langsung di ajak ikut ke sebuah majlis. Karena saat itu posisinya saya lagi di titik terendah, ketika tiba-tiba ada yang mengayomi, saya ya mau-mau saja.

Awalnya sih tersadarkan “oh iya ya ternyata gini”, “baju gini nyaman juga”, “kayaknya emang harus gini” dan sebagainya. Langsung follow akun-akun hijrah, unfoll akun akun non faedah. Termasuk follow dan terus berlangganan sama “Ammar Channel”. Waw, saya sangat mengidolakan para murrotal di channel itu. Dan saya terkesima dengan semua “sosok shaleh/a” di berbagai akun hijrah tersebut.

Cuman, setelah sebulan lamanya intens mengikuti kajian. Kok jadi gini, berdakwah tapi ko mendikte, jamaah ko manut saja, dan pertanyaan lain bermunculan. Lama kelamaan kok saya merasa ada yang janggal. Entah itu mungkin gara-gara “oknum”, atau hal lainnya. Di lingkungan majlis itu, banyak sekali membicarakan poligami.

Melihat itu, saya sebagai aktivis perempuan merasa sangat tidak terima. Oke, saya memang tidak pernah benar-benar bisa melarang poligami karena agama memang membolehkan. Tapi, jika ingin poligami, bukankah seharusnya dilihat dulu kebutuhan dan kewajibannya? Misal, menikahi janda beranak banyak atau janda tua terdengar lebih masuk akal karena mereka memang lebih membutuhkan.

Tapi di sini malah aneh. Suaminya masih muda, istirnya juga baru punya anak satu. Eh, si suami berniat poligami dan bilang ke istrinya—tapi hanya sekedar bilang, bukan minta izin apakah dibolehkan atau tidak. Karena, poligami itu katanya nggak perlu minta izin.

Jadi nikahlah dia dengan istri mudanya. Nah yang bikin ini jadi kejadian yang menggegerkan adalah, tahu ga sih kalian kalau si suami itu, rumahnya aja masih ngontrak di rumah kecil! Habis itu, istrinya digilir buat cari nafkah. Misal, istri 1 jualan di hari ini, besoknya si istri 2. Terus suaminya???

Baca Juga:

Derita Ditinggal Kekasih Berhijrah: Sudah Sakit Hati, Kena Cap Dajjal Pula

PNS Boleh Poligami? Boleh, Asal Kamu Nggak Punya Malu

Cuma bantu-bantu dikajian itu, dengan meniatkan ikut berdakwah. Iya sih mulia banget, tapi yakin deh pendapatannya ga cukup buat memenuhi kebutuhan 2 keluarga/2 istri ini. Karena kajian aja ga sampe setiap hari, maksimal 3x seminggu.

Terasa mengeksploitasi tenaga perempuan ga sih kalau gitu dalam mencari nafkah? Situ enak, udah dapet enaknya dari istri terus si istri yang cari nafkah. Please, ini ga termasuk dari emansipasi wanita ya. Saya gamau kalau harus diinjek gitu!

Kasus kedua, ada teman saya, udah nikah punya anak 2. Ternyata ada mantan dia juga di satu kajian itu. Tau ga sih, saya suka diajak buat nemenin dia ketemu sama mantan itu yang usianya jauh banget diatas dia. Padahal, status dia masih menikah looo. Iya sih katanya ga berduaan karena ada saya di sana, tapi maksud dari pertemuan itu apa sih? Itu tuh bukannya termasuk selingkuh ya? Mana suka chatingan juga, dll.

Bahkan temen saya ini juga dijanjiin hidup makmur sama si mantan kalau mau dijadiin istri keduanya. Dengan alasan sang suami dzalim ke dia, (padahal yang saya nilai sih suaminya gaakan mulai kalau gaada pemicu bukan?) Bertekad lah dia buat cerai dan bercerailah sama sang suami. Terus kabar terbaru, dia betulan jadi istri kedua si mantan itu—daaaan ternyata kehidupan dia sekarang ga seberuntung dulu sebelum dijadiin istri kedua.

Karena dia bisnis, dulu sama mantan suami dibebaskan untuk berekspresi dalam bisnis. Kemana-mana sendiri, gesit sana sini dll. Pas udah jadi istri kedua si mantan? Dilarang keluar tanpa izin, ga boleh berinteraksi banyak sama lawan jenis, ah pokoknya ruang gerak dia terhalangi.

Ditemenin bisnis sama suami barunya kagak, karena sibuk bagi waktu. Mengembangkan brand dia kaga bisa soalnya ruang gerak dia dibatasi. Kan kan. Makin saya mikir, emang kadang ada yang ga beres sama mindset mereka. Bukan saya menyalahi syari’at, tapi ga gitu loh maksud saya.

Yang bikin saya kaget lagi, ko sampe segitunya sama perempuan. Salah perempuan apa? Kok kajian kaya gini ternodai juga sama oknum-oknum macam itu, padahal saya salut sama orang yang bisa nikah dan bahagia lewat ta’aruf, semangat belajar yang menggebu. Sayang, ga semua nya berhasil

Karena yang saya lihat, yang “hijrah” ini yang merasa emang lagi dapet hidayah/lagi yang menggebu buat belajar agama dan mayoritas dari mereka ga punya basic ilmu agama. Tapi karena di kajian kayak gini tuh ga mempelajari dulu basic agamanya, makanya ga aneh kalau bisa berubah drastis

Saya aja, dari TK sampai kuliah yang berbasis agama emang belum cukup buat belajar agama. Apalagi ini yang baru hijrah, udah langsung disuguhin macam-macam tauhid ulluhiyah, dll misalnya, dilarang ini itu, yang berat lah intinya, dengan dikte pula, penjelasannya kurang looo.

Yang pesantren lama aja emang ga ngejamin bakal se “shaleh/a” itu. Apalagi yang instan kaya gitu astaghfirullah, kemungkinan salah tafsir kan bisa? Disitu saya baru nyadar. Emang harus dimulai dari mindset kita dulu, belajar ilmu agama dari basic dulu, dimulai dari etika kita dulu

Akhirnya, saya ingin belajar dikit-dikit aja dulu dan menerapkannya gamau sekaligus (hijrah gampang, istiqamah susah). Dan Alhamdulillah sekarang sih suka pakai kaos kaki, udah ga pake celana jeans lagi, sama pake baju yang ga ngetat-ngetat aja, tapi itu pun kadang masih susah.

Cuma jadi pelajaran aja, gausah “hijrah” kalau cuma ikuti trend. Karena hijrah itu bukan trend! Hijrah, pake gamis kerudung gede tapi lupa pake kaos kaki. Ikut kajian, sesuai sama dirinya digembor-gembor, kalau nyinggung dirinya diabaikan.

Ga pacaran, tapi masih suka berkhalwat dengan lawan jenis lewat chat atau jalan berdua dengan modus “kajian bareng”. Cari kontak lawan jenis dari daftar hadir yang disediakan. Maaf, tapi kalian sendiri yang menodai “kajian yang berselimut syari’at Islam”

Di sini juga bukan saya menggeneralisir semua kajian macam kaya gitu ya, ini saya sebel aja sama oknum-oknum yang sebenernya mencederai kajian itu juga. Ini juga bukan bentuk penghinaan atau apa, cuma sharing aja sesuai dengan pola pikir saya. Mau diskusi? Sangat saya terima!

Bonus: Ini adalah saya sebelum berniqab, tomboy banget haha.

Image

Ini saya berniqab, bareng temen kajian saya.

Image

Ini saya yang sekarang 🙂

Image

BACA JUGA Adakah Poligami yang Ideal? atau tulisan Sasa lainnya. Follow twitter Sasa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2019 oleh

Tags: cadarhijrahniqabpoligami
sasa

sasa

ArtikelTerkait

Membantah Alasan Poligami dengan Data Statistik terminal mojok

Poligami karena Perempuan Lebih Banyak? Cek Dulu Datanya!

28 September 2021
Sudah Betul Ajakan Poligami dan Menikah Muda untuk Mencegah HIV/AIDS, Nggak Usah Geger!

Sudah Betul Ajakan Poligami dan Menikah Muda untuk Mencegah HIV/AIDS, Nggak Usah Geger!

1 September 2022
nikah muda

Kenapa sih Harus Nikah Muda?

4 September 2019
Apakah PNS Boleh Poligami? (Unsplash)

PNS Boleh Poligami? Boleh, Asal Kamu Nggak Punya Malu

17 Juni 2023
istri pertama dampingi suaminya nikah lagi

Viral Berbaju Pengantin, Istri Pertama Dampingi Suaminya Nikah Lagi: Bodo Amat, Capek Ngurusin Hidup Orang

15 Juli 2019
Penyesalan Seorang Pembuat Konten Hijrah terhadap Aktivitas Hijrahnya terminal mojok.co

Penyesalan Seorang Pembuat Konten Hijrah terhadap Aktivitas Hijrahnya

27 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.