Story of Seasons: Friends of Mineral Town, Menyenangkan walau Tanpa Nama Besar Harvest Moon

Artikel

Gusti Aditya

Seru jika membicarakan “sengketa” gim yang sederhana ini. Tampilan yang menyenangkan, belum tentu dengan dapurnya. Maka dari itu, sebelum masuk menyelam dalam gim terbaru bertemakan simulasi pertanian ini, kita harus tahu seluk-beluknya. Terutama, mengapa nama Harvest Moon kini beralih menjadi Story of Seasons.

Apakah Harvest Moon sudah musnah?

Bokujō Monogatari menjadi besar di tengah hegemoni gim fighting yang kala itu merajai konsol Nintendo. Mengambil tema simulasi kehidupan, gim ini menjadi opsi sekaligus pendobrak bahwa ketenangan sesekali bisa ditemui dalam gim. Pengembang gim ini bernama Victor Interactive Software dan kemudian saham mereka dibeli oleh Marvelous pada 2003.

Natsume mencoba bekerja sama dan melebarkan sayap gim yang menjadi idola di berbagai konsol, mulai dari Game Boy, PS1, dan GameCube. Mereka membawa Bokujō Monogatari menuju mangsa pasar internasional dengan nama Harvest Moon. Dan ketika Marvelous punya XSEED Games dan “bisa menerjemahkan sendiri”, atas dasar apa kerja sama dengan Natsume tetap dijaga?

Mutualisme antara Natsume dan Marvelous memang resmi bercerai pada 2012. Otomatis, nama Harvest Moon menjadi hak istimewa untuk Natsume lantaran mereka yang mempopulerkan dan membawa menuju pasar dunia. Namun, pendapat saya pribadi,ebih penting dari sebuah nama adalah game play yang ikonik. Dan Marvelous adalah pemenang sebenarnya dalam kacamata saya.

Marvelous adalah pewaris sah blueprint gameplay, sedangkan Natsume hanya nama besar. Ya, kita bisa lihat dan rasakan sendiri bagaimana garapan Natsume dalam mengembangkan Harvest Moon seri pertama pasca kedua perusahaan ini pisah, yakni The Lost Valley. Dan Marvelous tidak hanya diam, mereka menyiasati dengan menggunakan nama Story of Season untuk mangsa pasar internasional mereka bersama dengan XSEED Games.

Story of Seasons-nya Marvelous melawan tembok besar bernama Harvest Moon

Muncullah sebuah seri ketika Marvelous mengubah sosok pemalas bernama Nobita menjadi lebih sregep dalam tajuk Doraemon: Story of Seasons. Hemat saya, strategi mereka cukup berhasil kala memadukan kisah Doraemon dengan simulasi pertanian yang membuat rindu dengan Harvest Moon.

Dan masih “bermain aman” walau sebenarnya mereka sudah keluar daro zona nyaman sejak peluncuran seri Doraemon, kini mereka hadir dalam tajuk Story of Seasons: Friends of Mineral Town. Gim ini adalah remake dari versi Harvest Moon: Friends of Mineral Town untuk konsol klasik GBA. Menyebut remake Back to Nature sebenarnya nggak salah, sih, tapi kurang tepat. Walau ceritanya sama, ada beberapa plot yang menunjukkan perbedaan.

Review singkat Story of Seasons: Friends of Mineral Town

Sama seperti ketakutan gim remake kebanyakan, kala GBA menyeberang langsung ke Nintendo Switch, para penggemar mengkhawatirkan orisinalitas seri satu ini. Dan cerdasnya, dari segi grafik, mereka berani keluar dari pakem klasik dengan menambahkan ornamen baru seperti peralatan, hewan, dan tokohnya tanpa menghilangkan esensi.

Tujuan mereka jelas, ingin menarik penggemar lama dan menambahkan generasi baru penggemar MOBA untuk menjajal betapa menyenangkan bermain gim simulasi pertanian. Ketika kita dibuat jengah dengan pertempuran, mengatur strategi, hingga berkelumit dengan lawan, Story of Seasons: Friends of Mineral Town hadir untuk menenangkan pikiran untuk sementara.

Untuk nostalgia, rasanya tiada kata yang pantas tersemat selain tersalurkan. Dosa-dosa masa kecil kita seperti memberi nama ayam menjadi Asu atau kuda menjadi Sapi pun masih bisa dilakukan sambil kemekelen sedikit. Plot klasik pun masih bisa didapatkan dengan penyegaran berupa grafis yang kian lucu. Ya, masalah grafis urusan selera, namun menurut saya pemilihan ini sudah tepat. Ketimbang realistis, malah medeni. Bukan seperti main Harvest Moon, malah berasa main GTA lagi nyangkul.

Fitur lainnya, rasanya sama seperti apa yang pernah kita mainkan dan rasakan ketika sore menjelang Magrib. Di depan konsol, sambil didulang Ibu, dan menanti Ayah pulang dari kantor. Gim ini mengembalikan masa muda—atau bahkan masa kecil—kalian. Mencangkul, bercocok tanam, mbribik pasangan (di awal bisa milih mau pakai tokoh utama laki-laki atau perempuan), memancing, hingga memerah susu sapi stroberi.

Story of Seasons: Friends of Mineral Town bisa menjadi teman dekat kalian kala swakarantina guna memutus mata rantai pandemi ini. Selain menyelesaikan beberapa permainan yang menyenangkan, kalian juga bisa bernostalgia dengan nyaman. Siapa tahu, kalian jadi ingat dengan siapa kalian dulu bermain gim ini. Entah kawan lama atau saudara jauh, yang jelas kenangan sekecil apa pun akan mengendap, masuk, dan mengingatkan.

Ya, mengingatkan bahwa yang berlalu tak bisa diulang. Hanya mampu diperbaiki, sebaik mungkin, agar kekurangan dan kesalahan di masa lampau dapat diperbaiki atau sekadar ditanggulangi. Dan Story of Seasons: Friends of Mineral Town, rasanya bisa menjadi contoh yang tepat.

BACA JUGA Menjadi Pemimpin Bedebah Ala Game Simulasi Pemerintahan Tropico 5 dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Kok Bisa Sih Takut Sama Pocong? Dia Kan Cuma Hantu yang Pengin Dibukain Talinya Doang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.