Beberapa Cerita Kelas Menulis yang Perlu Kalian Tahu

Artikel

Avatar

Belakangan ini iklan kelas menulis seperti berlomba tampil di beranda Facebook saya. Setiap hari, setidaknya ada tiga iklan kelas menulis, masing-masing dengan fokus yang berbeda. Yang pertama adalah iklan kelas menulis online punya Mas Iqbal, dengan jargonnya “Lolos ke Media”. Dua iklan lainnya, saya tidak tahu itu siapa, masing-masing menjual kemampuan menulis fiksi dan, satu lagi, “Diajari menulis dari awal sampai bisa menerbitkan buku.”

Tapi, seberapa penting sih kita ikut kelas menulis? Apakah setiap orang harus ikut kelas menulis? Apa tujuan orang yang sudah ikut kelas menulis? Adakah manfaatnya?

Jika kalian bingung dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kalian meneruskan membaca ini. Saya tidak menjanjikan jawaban pasti, tapi saya akan berbagi pengalaman saya ikut kelas menulis, juga pengalaman beberapa teman satu angkatan saya. Semoga ini bisa membantu kalian memutuskan apakah harus ikut kelas menulis atau tidak.

Beberapa bulan yang lalu, saya ikut kelas menulis yang diselenggarakan oleh Mojok. Waktu itu, sebelum corona menyerang, Mojok memang beberapa kali mengadakan kelas menulis, dengan pengampu yang berbeda-beda.

Kebetulan saya ikut kelasnya Iqbal Aji Daryono. Kenapa bukan kelasnya Agus dan Kalis? Di belakang nanti kalian akan tahu jawabannya. Waktu ikut kelas itu tulisan saya sudah pernah tayang dua kali di Mojok.

Yang ikut kelas waktu itu cuma belasan orang karena memang dibatasi. Dan di kelas itulah baru saya tahu alasan tiap orang ikut kelas menulis itu ternyata beda-beda.

Dulu saya pikir setiap orang yang ikut kelas menulis itu ingin jadi penulis, atau minimal ingin tulisannya tampil di media. Ternyata enggak. Dari belasan peserta yang ikut kelas waktu itu, sepertinya cuma saya yang terang-terangan bilang ingin tampil di media.

Di awal pertemuan memang ada pertanyaan untuk masing-masing peserta kenapa ikut kelas menulis. Dan saya sungguh tidak menduga bahwa jawabannya ternyata sangat beragam.

Saya, misalnya. Saat ditanya kenapa ikut kelas itu, jawaban saya adalah karena ingin mendapat tambahan penghasilan. Saya sudah pernah merasakannya, dan itu lumayan menyenangkan. Dengan ikut kelas itu, bayangan saya, saya akan lebih bisa menulis, lebih banyak tampil di media, lalu mendapat lebih banyak uang. Hasilnya? Nanti saya ceritakan. Saya akan lanjut cerita tentang alasan teman-teman saya dulu.

Salah satu peserta, seorang mahasiswi, punya blog dan sudah sering menulis, alasannya ikut kelas menulis adalah karena belakangan itu dia merasa sering mengalami kebuntuan. Kebetulan dia fokusnya ke fiksi, terutama cerpen. Dia ingin tahu, kalau memang ada, kiat-kiat khusus yang bisa dipakai untuk mengatasi kebuntuan menulis.

Teman saya yang lain, seorang profesional di perusahaan swasta, kerjanya di bagian humas, sering berhubungan dengan klien. Alasannya ikut kelas itu karena ingin meningkatkan kemampuannya berkomunikasi, terutama komunikasi tulis, dan dia berharap hal itu bisa membantu pekerjaannya.

Ada juga seorang mahasiswa yang ikut kelas karena ingin menyelesaikan tugas akhirnya. Ada juga seorang dosen, merasa tulisannya kaku karena biasanya hanya menulis jurnal ilmiah, ikut kelas karena ingin bisa menulis dengan lebih santai, lebih membumi. Dan masih banyak lagi. Intinya adalah, bahwa alasan tiap orang ikut kelas menulis itu beda-beda. Dan saya sendiri adalah seorang tukang tambal ban.

Sekarang tentang hasilnya.

Beberapa waktu setelah kelas itu, saya beberapa kali mencoba mengirim tulisan ke media. Dan coba tebak, tak satu pun yang berhasil. Saya frustrasi. Saya bahkan sempat memutuskan untuk berhenti menulis. Lho? Iya. Saya putus asa.

Tapi untungnya ada teman-teman yang menguatkan. Dan karena saya sepertinya memang suka menulis, saya akhirnya bisa kembali. Saya melanjutkan petualangan menulis saya, berbekal apa yang saya dapat dari kelas menulis itu. Dan itulah yang membuat saya menemukan kebenaran tentang diri saya.

Awalnya saya pikir, tujuan saya belajar menulis adalah untuk uang, untuk tampil di media. Ternyata tidak persis seperti itu.

Saya memang masih menyimpan angan-angan bahwa suatu saat tulisan-tulisan saya akan dibaca lebih banyak orang. Tapi bukan itu yang utama. Menulis membuat saya bahagia. Dan saya menyadari itu justru setelah saya melepaskan keinginan untuk tampil di media.

Sekarang saya masih menulis setiap hari. Menuliskan hal-hal remeh. Cerita-cerita tak berguna. Tentang diri saya, tentang pekerjaan saya, tentang keluarga saya, juga hal-hal yang ada di pikiran. Dan saya merasa kemampuan menulis saya sedikit demi sedikit mulai membaik. Dan itu menyenangkan.

Dan jangan salah, meskipun saya tidak lagi “memaksakan diri” untuk tampil di media dan menulis hanya untuk bahagia, saya pernah mengirimkan tulisan ke Terminal Mojok dan dimuat. Dan kalau ditambah yang ini, berarti malah dua kali. Dan jika kalian sudah lama berteman dengan saya di Facebook, kalian pasti tahu bahwa tulisan saya memang membaik.

Dan itu bukan hanya tentang saya.

Minggu ini, salah satu teman seangkatan saya berhasil menembus Detik. Dan teman lain, beberapa waktu lalu terpilih sebagai karyawan berprestasi, salah satunya karena kemampuan menulisnya.

Jadi, jika ditanya apakah ikut kelas menulis ada manfaatnya bagi saya, jawabannya tentu jelas sekali.

Banyak hal tentang menulis yang sebelumnya tidak saya tahu, di kelas menulis itulah akhirnya saya tahu. Saya kasih satu contoh.

Mas Iqbal, setiap kali mau membahas tulisan dari salah satu peserta pasti akan bertanya, “Ini yang mau diceritakan apa?”

Sebelum ikut kelas itu, sumpah saya tidak pernah kepikiran. Saya biasanya menulis asal menulis, jadi tulisan saya lebih sering melantur ke mana-mana. Kata-kata “Ini yang mau diceritakan apa?” membuat saya lebih fokus.

Sekarang, setiap kali mau menulis, saya akan bertanya kepada diri saya sendiri “Ini yang mau diceritakan apa?” lalu berusaha untuk fokus hanya di situ saja. Hasilnya, saya merasa sekarang tulisan-tulisan saya menjadi lebih sederhana dan tidak melebar ke mana-mana.

Jadi bagaimana, apakah kalian harus ikut kelas menulis? Kalian pasti lebih tahu jawabannya.

Dan satu lagi, kenapa saya ikut kelasnya Iqbal Aji Daryono dan bukan kelasnya Agus-Kalis? Kalau itu kebetulan saja sih.

BACA JUGA Inilah Resep Rahasia untuk Menembus Mojok.Co dan tulisan Masjudi lainnya.

Baca Juga:  Jangan Naik Gunung, Bahaya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
29


Komentar

Comments are closed.