Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Stop Komersialisasi Perselingkuhan, Kasihan Para Jomblo!

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
10 Februari 2023
A A
Perselingkuhan Karyawan di Kantor Itu Terlalu Nekat dan Bikin Repot HRD Terminal Mojok.co

Perselingkuhan Karyawan di Kantor Itu Terlalu Nekat dan Bikin Repot HRD (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam satu bulan terakhir, setidaknya ada 6-7 konten bertema perselingkuhan nyelip di timeline media sosial saya, baik di Instagram, Twitter, maupun di TikTok. Ada yang mergoki pasangannya (pacar) sedang makan berduaan dengan orang lain, ada yang mergoki pasangannya lagi dibonceng orang lain dengan pelukan yang menusuk hati, ada yang mergoki pasangannya yang lagi masuk ke OYO dengan seseorang yang nggak dikenal, dan masih banyak lagi fenomena perselingkuhan yang diabadikan menjadi konten di media sosial.

Kalau kalian menjustifikasi konten tersebut muncul karena algoritma media sosial saya yang mengikuti konsumsi konten yang saya sukai, maka kalian terlalu naif. Kadang, algoritma media sosial itu menyelipkan menu konten baru yang sedang ramai (viral) di antara konten-konten yang sering kalian nikmati di media sosial. “Ini loh ada konten baru lagi viral, coba lihat dulu,” begitu kira-kira.

Makin ke sini, aktivitas media sosial sangat didominasi oleh konten bernuansa asmara, tidak terkecuali konflik perselingkuhan. Algoritma media sosial seperti memahami betul bagaimana netizen Indonesia itu sangat emosional dan empatis terhadap konten-konten yang bernuansa haru disebabkan perselingkuhan.

Konten-konten tersebut kemudian dikomersialisasi secara serampangan mengingat netizen kita yang suka menghakimi dan meluapkan emosi mereka terhadap fenomena yang pada dasarnya masuk dalam ranah privat manusia. Fenomena ini akhirnya menghasilkan ceruk ekonomi yang dikapitalisasi untuk mendulang cuan.

Banyak konten perselingkuhan yang ternyata settingan muncul dan mengisi variasi konten media sosial yang kita konsumsi. Saya yakin, sebagian besar dari netizen kita sepenuhnya sadar bahwa konten itu hanya settingan dan dramatisasi hubungan yang dilebih-lebihkan, banyak dari mereka berkomentar miring, tapi menikmati itu.

Mirisnya, konten perselingkuhan tersebut banyak yang memosisikan kaum perempuan sebagai pelaku utama perselingkuhan. Mereka dijadikan dalang dan pemeran utama timbulnya praktik perselingkuhan. Untuk mendukung itu, ada yang sampai membuat video kolase berisi sejumlah aksi laki-laki yang memergoki pacarnya “selingkuh”. Padahal, laki-laki pun sama bejatnya.

Dalam sejarah, perempuan memang menjadi subjek pertama yang dicatat sebagai dalang terhadap praktik perselingkuhan. Kisah Nabi Yusuf yang dirayu oleh Permaisuri Raja Mesir menjadi percobaan perselingkuhan yang langsung diabadikan dalam kitab suci. Nggak hanya itu, perselingkuhan yang dilakukan oleh Ratu Mesir kuno bernama Hatshepsut yang berselingkuh dengan arsitek kerajaan bernama Senenmut juga cukup populer di kalangan sejarawan. Kisah ini digambarkan oleh beberapa patung Hatshepsut yang duduk di pangkuan Senenmut.

Meski begitu, tidak sedikit kisah menunjukan bahwa laki-laki juga tak lepas dari dosa perselingkuhan. Kalau wanita mengandalkan sisi feminis dan lemah lembutnya untuk menutupi praktik perselingkuhannya, laki-laki menggunakan sisi patriarkis dan superioritasnya untuk memanipulasi praktik perselingkuhannya. Bahkan menggunakan bahasa agama untuk menghalalkan perselingkuhan itu.

Baca Juga:

Manifesto Orang Cadel: Semua Lidah Berhak Bicara Tanpa Ditertawakan!

5 Destinasi di Semarang yang Cocok untuk Jomblo buat Menangis

Artinya dalam praktiknya, perselingkuhan datang kepada setiap subjek yang memiliki kelainan dan cacat moral terhadap makna cinta itu sendiri, dan tidak terbatas pada jenis kelamin semata.

Perselingkuhan, sebagai konflik yang timbul dalam proses mencintai sejatinya adalah persoalan privat yang harusnya dapat diselesaikan secara hening. Perselingkuhan itu aib yang seharusnya ditutup, bukan malah dijadikan konten untuk mendulang eksposur atau di-blow up ke media sosial supaya semua orang tahu penderitaanmu.

Nggak perlu cari validasi. Karena di dunia ini banyak orang yang hidupnya jauh lebih menderita. Perselingkuhan, adalah konsekuensi dari cinta dan relasi yang dibangun. Sakit hati itu risiko yang harusnya siap dihadapi ketika berani untuk mencintai. Hadapi dan nggak usah ngajak-ngajak orang lain untuk ikut menghakimi dan mencemooh pasanganmu yang selingkuh itu.

Para netizen juga sebaiknya tidak ikut-ikutan meramaikan dengan mencibir dan mencemooh. Skip dan abaikan konten itu. Bagi kami para jomblo ini, lelah betul dengan konten tersebut yang acap kali memenuhi trending di media sosial.

Makin kami menyaksikan itu, makin kami berpotensi merasa bahwa dunia ini benar-benar sudah tidak waras. Kami para jomblo bisa jadi takut dan parno untuk memulai hubungan, sulit membuka diri, dan skeptis terhadap apapun ucapan cinta yang dilontarkan oleh lawan jenis.

 “Lah tinggal skip aja to? Gitu aja kok repot.”

Skip ndogmu, bagaimana mau di-skip kalau itu selalu berseliweran di media sosial? Nggak usah menggampangkan. Kalau perselingkuhan (baik settingan atau tidak) dikontenisasi dan dikomersialisasi terus-terusan, bisa jadi persoalan selingkuh menjadi perilaku yang dinormalisasi.

Seorang teman bahkan mengatakan, “Status jomblo menjadi pilihan dalam hidup karena tidak berpotensi tersakiti dan tidak menyakiti.”

Lebih ekstrem bahkan ada yang berpikir, apabila konten perselingkuhan itu mulai dinormalisasi, maka kami para jomblo ini akan kebingungan karena tidak tahu ke mana dan kepada siapa kami melabuhkan hati. Melihat manusia yang katanya penuh cinta itu merayakan pengkhianatan membuat kami merasa bahwa cinta manusia itu sejatinya kanibal.

Jangan sampai, resesi seks benar-benar terjadi di Indonesia karena hati kami para jomblo sudah lelah menyaksikan drama dan kontenisasi percintaan yang terlalu impulsif sehingga berakibat pada keengganan untuk menjalani hubungan. Salam Jomblo!

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perselingkuhan Karyawan di Kantor Itu Terlalu Nekat dan Bikin Repot HRD

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2023 oleh

Tags: Jomblokomersialisasikonten perselingkuhannormalisasi
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Jomblo kok Diiming-imingi Seks biar Segera Menikah, Kami Nggak Selemah Itu mojok.co/terminal

Jomblo kok Diiming-imingi Seks biar Segera Menikah, Kami Nggak Selemah Itu

7 Maret 2021
Menjadi Pribadi Jomblo yang Merdeka

Menjadi Pribadi Jomblo yang Merdeka

28 Desember 2019
laptop hilang

Kenapa Sih Laptop Hilang Sering Dialami Mahasiswa yang Lagi Skripsi?

28 Agustus 2019
Übermensch

Menjadi Jomblo, Menjadi Übermensch

3 Mei 2019
melihat status hubungan orang dari detergen

Melihat Status Hubungan Orang dari Merek Detergen yang Dia Gunakan

31 Mei 2020
Nasihat untuk Tipe-Tipe Orang Menyebalkan

Nasihat untuk Tipe-Tipe Orang Menyebalkan

31 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh Mojok.co

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

10 Juni 2026
Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
Pengalaman Orang Semarang Kaget Menemukan Sisi Lain Solo (Unsplash)

Pengalaman Orang Semarang yang Kaget Menemukan Sisi Lain Kota Solo

6 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.