Jomblo kok Diiming-imingi Seks biar Segera Menikah, Kami Nggak Selemah Itu – Terminal Mojok

Jomblo kok Diiming-imingi Seks biar Segera Menikah, Kami Nggak Selemah Itu

Artikel

Bayu Kharisma Putra

Saya rasa, menjadi orang baik hati itu berat. Apalagi saleh dan beriman. Berat, sebab sering disakiti dan dianggap tak mudah marah. Pleidoi kepada kaum “baik hati” dan belum menikah seperti saya ini, lebih ngadi-adi dan bertubi-tubi. Saya tak masalah soal pledoi itu, tapi mbok jangan sering-sering nyuruh orang buat segera menikah. Saya sampai bosan banget dengernya.

Tentu saja, kita para bujangan selalu diiming-imingi indahnya bahtera rumah tangga. Jarang yang ngasih nasihat, kebanyakan cuma berniat mengejek nyuruh segera menkah. Sebab saya pria, dimasakin dan dibikin kopi pasti masuk ke dalam format iming-iming itu. Walau dengan keras selalu saya bantah pemikiran wagu tersebut. Buat saya, masak, nyuci, nyapu, adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki manusia, apa pun jenis kelaminnya. Jadi, iming-iming dilayani bak raja tak mempan pada saya. 

Namun, dari banyaknya iming-iming indahnya pernikahan, seks selalu menjadi senjata utama orang-orang. Urusan gulat ranjang ini nyatanya tak pernah bosan mereka gunakan untuk nyuruh para jomblo segera menikah. Bukan saya tak suka begituan, atau karena sudah pernah (ingat, konteksnya saya ini saleh dan baik), tapi basi banget gitu. Kok, kayaknya orang-orang kurang kreatif, itu terus yang dipakai. Saya sempat curiga, jangan-jangan ini semacam bentuk kampanye dari KUA, agar kita segera menikah.

Mungkin, memang sejak berabad-abad lalu, format iming-iming seks ini sudah ada dan akhirnya terbentuk menjadi budaya. Meskipun saya belum menikah, saya paham kok nikah tak hanya urusan seks. Lha, mosok tiap hari mau begituan. Saya juga paham, mungkin karena dulu Anda sekalian angel ngempet, akhirnya menganggap kami juga begitu, sedang ngempet. Pengin sih iya, tapi hubungan manusia nggak sebatas seks.

Tolonglah, berikan kami wejangan yang bisa kami gunakan untuk menapaki dunia persuami-istrian. Kalau cuma seks yang diomongin, insya Allah saya sudah bisa dan tahu caranya, meski belum expert, tapi bisa dipelajari lah. Mbok yang diomongin itu misalkan, tips tentang membagi waktu dan penghasilan. Atau kasih kami tips menghadapi mertua kejam seperti di sinetron-sinetron itu. Bisa juga tentang hubungan dengan saudara dari pihak istri atau suami. Nah, kalau begitu kan kita sama-sama enak, obrolan kita jadi lebih manfaat. Baru, setelah itu boleh kasih kami tips soal ranjang, bertahap begitu. Jangan ujug-ujug ngomongin seks, kasih bridging dulu lah, biar rapi dan enak didengar sama jomblo-jomblo yang belum menikah.

Apa jangan-jangan orang yang hobi banget nyuruh para jomblo segera menikah ini juga masih bingung perihal pernikahan? Pantes, yang bisa diomongin cuma seks, itu pun di permukaannya saja, ngambang kampul-kampul. 

Kesimpulannya berarti, pernikahan itu tak semudah dan segampang mlorotin celana, dong? Mlorotin celana yang harusnya gampang saja, sering kali bikin masalah, bikin keluarga kurang harmonis. Padahal kata mereka “penak”, tapi hal kepenak dan dianggap mudah begini saja masih bisa salah dan menyumbang angka perceraian.

Bayangkan, yang sudah menikah saja ternyata masih banyak ngawur dan bingung, apalagi saya dan khususnya para jomblo. Daripada moyoki, gontok-gontokan, dan ngasih iming-iming seks, kan lebih baik ikut semacam kelas pernikahan dan parenting.

Saya paham masalah seksual itu penting, saya bahkan pro dengan pendidikan seksual dan jangan sampai urusan ini dianggap tabu. Zaman kan sudah modern dan kita harus terbuka sama beginian. Jadi, harusnya seks nggak usah dianggap lebay dong, sampai dijadikan iming-iming buat jomblo. Agak norak jatuhnya.

Pernikahan tak boleh hanya dianggap terdiri dari urusan ranjang. Ada pasangan yang punya hak dan kewajiban. Ada urusan cicilan, ada urusan sama orang tua dan mertua, ada anak pada akhirnya, ada tetangga, ada saudara, ada beres-beres rumah, ada sekolah anak, ada utang, ada kebutuhan mendadak, dll. Pada kenyataanya, ngomongin seks untuk bikin jomblo segera menikah sudah tak tepat lagi untuk dilakukan. Sebab kami sudah tahu betul, nikah nggak cuma urusan skidipapap.

BACA JUGA Para Tokoh Terkenal Saja Ada yang Tidak Kawin, Kenapa Kita Harus? atau tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Baca Juga:  Menggelar Acara Makan Gratis Memupuskan Stigma Negatif Saya pada Preman Pasar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
48


Komentar

Comments are closed.