Sri Sultan HB II: Saksi Bubarnya VOC, Bapak Pembangunan Jogja, dan 3 Kali Naik Takhta – Terminal Mojok

Sri Sultan HB II: Saksi Bubarnya VOC, Bapak Pembangunan Jogja, dan 3 Kali Naik Takhta

Artikel

Umumnya seorang raja hanya sekali naik takhta. Kepemimpinannya akan berakhir ketika wafat atau menyerahkan takhta kepada putra mahkota. Tapi, ada satu raja di Indonesia yang pernah tiga kali naik takhta. Bahkan kenaikan takhta ketiga terjadi saat berusia 76 tahun. Blio adalah Sri Sultan Hamengkubuwana II yang dijuluki Sultan Sepuh.

Saya punya kedekatan pribadi dengannya. Saya sendiri adalah keturunan kedelapan Sri Sultan HB II. Tepatnya, keturunan dari putranya yang bernama K.G.P.A. Mangkudiningrat. Sejak kecil saya selalu mendapat cerita tentang keistimewaan HB II dan memang, ia adalah sultan yang unik dibanding sultan lain.

Hamengkubuwana II lahir dengan nama kecil Gusti Raden Mas Sundoro. Mas Sundoro adalah putra kelima dari pasangan Pangeran Mangkubumi dan G.K.R. Kadipaten. Menurut web resmi kratonjogja.id, Mas Sundoro tidak lahir di Jogja, melainkan di Gunung Sindoro, Temanggung, pada 7 Maret 1750. Lahirnya ia di Gunung Sindoro disebabkan sang ibunda sedang mengungsi akibat Keraton Mataram tengah berperang melawan VOC.

R.M. Sindoro baru bisa menikmati indahnya Jogja setelah Perjanjian Giyanti (1755) yang memecah Kesultanan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Bersamaan dengan perjanjian tersebut, ayah R.M. Sindoro diangkat menjadi Sri Sultan Hamengkubuwana I. Mas Sundoro sendiri diangkat sebagai adipati anom pada usia lima tahun, kemudian ditunjuk sebagai putra mahkota setelah kakaknya, Gusti Raden Mas Ento, wafat.

Kiprah Mas Sundoro dimulai saat terjadi geger di Keraton Jogja dan Surakarta pada 1774. Geger ini diakibatkan ramalan akhir abad yang menyatakan akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Mas Sundoro tidak tinggal diam. Ia segera menulis kitab Suryaraja yang berisi gugurnya ramalan akhir abad. Naskah ini kini dikeramatkan sebagai pusaka bergelar Kanjeng Kyai Suryaraja.

Tidak hanya menulis, Mas Sundoro juga memulai kiprah sebagai bapak pembangunan. Pada tahun 1785, Mas Sundoro memprakarsai pembangunan Benteng Baluwarti. Dinding tebal yang melingkari area Keraton Jogja sampai hari ini tersebut bertujuan menggagalkan pembangunan Benteng Rustenburg yang diprakarsai Komisaris VOC Nicolaas Hartingh.

Mas Sundoro naik takhta pada 2 April 1792 dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana II. Masa bertakhtanya penuh agenda pembangunan. Dalam Serat Rerenggan Kraton dan Babad Suryaning Alaga, tercatat HB II membangun 13 pesanggrahan atau vila. Dua pesanggrahan yang telah direnovasi adalah Pesanggrahan Rejawinangun (situs Warungboto) dan Pesanggrahan Gua Seluman.

Namun, megaproyek HB II adalah menyelesaikan pembangunan Istana Air Tamansari. Kompleks pesanggrahan seluas 10 hektare ini mulai dibangun pada era HB I. Sayang sekali, hampir seluruh bangunan karya HB II hancur saat gempa besar melanda Jogja pada 1867. Tapi, tidak dapat dimungkiri HB II layak digelari Bapak Pembangunan Jogja.

Selain proyek monumental, HB II juga menjadi saksi dari banyak peristiwa besar. Saya hanya membahas beberapa saja yang berpengaruh besar pada Keraton Jogja.

Peristiwa pertama adalah bubarnya VOC pada 31 Desember 1799, tepat di menjelang pergantian abad. Bubarnya VOC diikuti dengan pengangkatan Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda, yang kelak kondang sebagai Tuan Besar Guntur yang memimpin proyek pembangunan Jalan Raya Pos (Jalan Daendels).

Bubarnya VOC menjadi sumber masalah baru bagi HB II. Pertama, terjadi perubahan sistem kumpeni menjadi sistem pemerintahan kolonial. HB II menolak perubahan ini. Namun, Raja Surakarta Pakubuwana IV berharap besar dari kedatangan Daendels. Ia ingin Daendels membantu Surakarta menaklukkan Jogja.

Untuk melawan kekuatan Belanda, HB II berkonspirasi dengan Raden Ronggo yang merupakan menantunya. Namun, Belanda sukses menumpas pemberontakan Raden Ronggo. Dari jasad Raden Ronggo, ditemukan cap berlogo kesultanan. Barang bukti ini digunakan Belanda sebagai alasan untuk mengudeta HB II.

Pada bulan Desember 1810, Daendels menyerbu Yogyakarta. HB II diturunkan dari takhta dan digantikan putranya, Gusti Raden Mas Suraja yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana III. Belum sempat HB III menyelesaikan perjanjian baru dengan Belanda, Keraton Jogja mengalami peristiwa besar kedua, yaitu pendudukan Inggris.

Pada 1811, pemerintah Belanda atas Hindia Belanda direbut Inggris. HB III pun turun takhta kembali menjadi putra mahkota. Peristiwa ini memberi kesempatan untuk HB II kembali bertakhta. Naik takhta yang kedua ini digunakan HB II untuk menyingkirkan musuh politiknya. Patih Danureja II dibunuh di depan Sitihinggil (tempat singgasana berada). Danureja II dibunuh karena menyebabkan lengsernya HB II.

HB II juga melakukan pembersihan besar-besaran. Pembersihan berdarah ini juga mengancam sang putra mahkota. Terjadi juga konflik dengan Inggris. Semua diawali dengan masalah posisi tempat duduk Gubernur Letnan Raffles yang lebih rendah dari singgasana sultan. Konflik yang sifatnya simbolis ini berujung pada peristiwa ketiga, Geger Sepoy pada 1812.

Geger Sepoy (atau geger Spei atau Geger Sepehi) adalah penyerangan oleh Inggris dan Keraton Mangkunegaran ke Keraton Jogja. Geger Sepoy memberi kerusakan besar bagi Keraton Jogja. Pojok Beteng Wetan Lor, bagian dari Benteng Baluwarti hancur. Banyak harta kekayaan dan karya sastra Keraton Jogja dijarah. HB II juga diasingkan ke Pulau Penang hingga tahun 1815.

HB III kembali bertakhta. Pada tahun 1816, pemerintahan Inggris mengembalikan wilayah Hindia Belanda kepada Belanda. HB II yang dianggap masih berbahaya segera dibuang kembali. Ada silang pendapat mengenai lokasi pembuangan HB II. Sebagian berpendapat bahwa HB II dibuang ke Ambon, lalu dipindahkan ke Inggris. Ada yang berpendapat HB II dibuang ke Inggris atas inisiatif pribadi.

Meskipun telah dibuang serta dilupakan, pada akhirnya HB II kembali bertakhta. Pada masa pemerintahan HB V (cicit HB II), terjadi peristiwa besar yang disebut Perang Jawa atau Pemberontakan Diponegoro. Perang yang terjadi pada 1825-1830 ini sangat merugikan pihak Belanda dan Keraton Jogja. Untuk meredam pemberontakan, Belanda berinisiatif mendatangkan HB II kembali ke Jogja. HB II kembali bertakhta pada 20 September 1826, pada usia 76 tahun

Kembalinya HB II pada takhta Keraton Jogja melemahkan perlawanan Diponegoro. Rakyat bersimpati kepada sang Sultan Sepuh, termasuk Diponegoro sendiri. Namun, HB II mangkat (meninggal) pada 3 Januari 1828 karena radang tenggorokan dan usia yang sudah lanjut.

HB II menjadi satu-satunya sultan Jogja yang dimakamkan di Kotagede, kompleks pemakaman Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram.

Ada dua alasan mengapa ia tidak dimakamkan di Imogiri seperti sultan lain setelah Sultan Agung Hanyokrokusumo. Alasan pertama adalah Perang Jawa masih berkecamuk. Apalagi pusat perlawanan ada di Selarong yang dekat dengan rute pengantaran jenazah. Alasan kedua yang menjadi buah bibir adalah permintaan Sultan HB II sendiri. Ia enggan dimakamkan di kompleks yang sama dengan HB III, putranya yang ia anggap berkhianat. Sebuah sikap yang khas dari HB II: keras dan menolak kompromi, bahkan sampai liang lahat.

Sumber gambar: Wikipedia

BACA JUGA Jadi Raja Mataram Itu Enak Ya, Mak? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Pedoman Melakukan Financial Planning Sendiri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.