Amangkurat II, Raja Mataram Anak Emas VOC

Artikel

Dzulfiqar Galih Devara

Kerajaan Mataram merupakan sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa yang mulai berkuasa sejak abad ke-16. Pada masa kejayaannya yang dipimpin oleh Sultan Agung, Kerajaan Mataram sempat menyatukan Jawa bahkan sampai ke Madura. Namun, layaknya kerajaan lain yang tak luput dari konflik internal maupun eksternal, kondisi politik di dalam tubuh Kerajaan Mataram juga tidak berjalan terlalu mulus. Dari sisi eksternal sendiri, hal ini tidak dapat dilepaskan dari permusuhan Kerajaan Mataram dengan VOC di Batavia.

Saat Sultan Agung berkuasa, tercatat sudah terjadi dua kali invasi ke Batavia yang dilakukan oleh Sultan Agung. Meskipun kedua serangan tersebut tidak berujung sukses, kedua invasi tadi menunjukkan bahwa pada masa Sultan Agung, Mataram jelas menolak untuk tunduk dan menunjukan legitimasinya bahwa VOC adalah musuh Mataram. Sayangnya, pandangan terhadap VOC tersebut berubah saat Amangkurat I mulai berkuasa. Masa pimpinan Amangkurat I dapat dikatakan sebagai awal mula infiltrasi VOC di Mataram. Infiltrasi tersebut justru makin terlihat saat Amangkurat II mulai berkuasa.

Kebanyakan raja-raja Mataram akan menghadapi berbagai pesaing-pesaing sebelum ia naik takhta. Sering pula pesaing tersebut datang dari keluarganya sendiri. Oleh karena itu, raja yang hendak naik butuh sebuah legitimasi untuk mengukuhkan kedudukannya agar diakui rakyat. Di sinilah VOC hadir sebagai penjamin legitimasi tersebut. Mereka yang sedang berkepentingan akan meminta bantuan kepada VOC. Tentunya, VOC mengharapkan timbal balik yang sejalan dengan tujuan mereka sebagai sebuah kongsi dagang yang mencari keuntungan.

Amangkurat II terkenal memiliki kedekatan khusus dengan VOC, bahkan Amangkurat II sendiri sering disebut sebagai anak emas Cornelis Speelman. Ia diberi julukan Sunan Amral atau admiral. Julukan tersebut diberikan karena Sunan kerap kali memakai pakaian dan berdandan ala-ala Eropa. Kerja sama Amangkurat II dengan VOC ditandai dengan persekutuan kedua pihak untuk melawan Trunajaya sang pemberontak. Raja yang terkenal memiliki sifat pengecut ini mendapatkan bantuan dari VOC untuk mengalahkan Trunajaya.

Baca Juga:  Betapa Bahagianya Menertawakan Kebodohan Diri Kita Sendiri

Dengan tangannya sendiri ia membunuh Trunajaya yang dulu sempat bersekutu dengannya. Peran VOC terhadap naik takhtanya Amangkurat II memang sudah tidak perlu dimungkiri. Setelah mengalahkan Trunajaya, VOC lalu mengembalikan kembali takhta yang dipegang Amangkurat I kepada anaknya. Namun, hasil dari kemenangan ini tidak sepenuhnya manis bagi Mataram. Harta-harta Mataram telah dirampas oleh Trunajaya, Mataram yang tidak memiliki harta tetap harus membayarkan biaya peperangan Belanda.

Amangkurat II terpaksa memberikan pelabuhan-pelabuhan pesisir kepada Kompeni hingga utang tersebut lunas terbayarkan. Beban untuk melunasi utang ini dipikul oleh setiap orang, baik orang kecil atau priayi. Kompeni ibaratnya terus-terusan menguras dompet rakyat Mataram. Hal ini tentu saja memicu kebencian dan rasa permusuhan di berbagai kalangan masyarakat Kerajaan Mataram terhadap Kompeni Belanda.

Mataram memang mengenal sebuah konsep keagungbintaraan, yang menyatakan bahwa seorang raja adalah penguasa tunggal yang tidak tertandingi. Sementara pada waktu yang sama saat Amangkurat II memerintah, adik dari Amangkurat II, Pangeran Puger, juga berkuasa di Keraton Plered. Perang saudara pun tidak terelakkan antara kakak beradik ini. Di sini peran VOC sangat terlihat dalam politik internal Mataram. Selain membantu Amangkurat II dalam mengalahkan Trunajaya di Jawa Timur, VOC juga menjamin atas pengukuhan Amangkurat II sebagai satu-satunya raja di Mataram.

Pangeran Puger awalnya tidak mau tunduk karena ia menganggap dirinya sedang berperang dengan bangsa asing atau VOC, bukan dengan kakaknya sendiri. Namun, Pangeran Puger akhirnya mengalah juga dan Amangkurat II pun menerima Pangeran Puger kembali. Terlihat bahwa sejak kejadian itu raja yang mendapat bantuan dari VOC akan tetap bertahan, sama halnya dengan putra mahkota yang didukung oleh VOC, mereka cenderung akan naik takhta. Hal ini dibuktikan berturut-turut oleh Amangkurat III dan Pakubuwana I, keduanya berhasil naik takhta atas dukungan VOC.

Baca Juga:  Presiden Kita Perlu Mengenal Raja Amangkurat yang Jangan-jangan Adalah Dirinya Sendiri

Naik takhtanya Amangkurat II seperti menunjukkan sebuah fase baru pada Kerajaan Mataram. Intervensi VOC di Kerajaan Mataram semakin terlihat. Sejak awal ia diangkat menjadi raja oleh VOC hingga masa pemerintahannya berakhir, si anak emas Speelman ini tak henti-hentinya meminta bantuan kepada VOC. Masa kepemimpinannya juga menandai bahwa putra mahkota mana yang mendapat dukungan VOC, maka ialah yang akan menjadi raja di Mataram, hal yang bahkan masih bertahan hingga pembagian Kerajaan Mataram nanti.

BACA JUGA Jangan Cepat Jumawa saat Tim Kalian Unggul 3-1 di Playoffs NBA, Mereka Masih Bisa Kalah! dan tulisan Dzulfiqar Galih Devara lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.